Sumber ilustrasi: Magnific
23 Juni 2026 14.50 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [23.06.2026] Banyak orang mengira tubuh manusia sudah sepenuhnya dipahami. Buku pelajaran, gambar medis, konten kebugaran, dan percakapan sehari-hari membuat anatomi tampak seperti ilmu yang sudah selesai. Nama otot, jalur saraf, susunan organ, hingga struktur tulang seolah telah dipetakan secara lengkap dan tidak lagi menyisakan banyak misteri.
Pandangan tersebut mudah dimengerti. Setelah berabad-abad pembedahan, mikroskopi, dan pencitraan medis, anatomi tampak seperti disiplin ilmu yang paling mapan dalam dunia kedokteran. Istilah seperti biceps, glutes, atau traps bahkan telah masuk ke dalam bahasa populer, terutama dalam dunia olahraga dan kebugaran.
Para ilmuwan menegaskan bahwa asumsi tersebut keliru. Anatomi manusia belum selesai dipetakan. Bahkan, semakin cermat tubuh manusia dipelajari, semakin jelas bahwa banyak hal masih perlu ditinjau kembali.
Sejarah anatomi modern sering dikaitkan dengan Andreas Vesalius, yang menerbitkan De Humani Corporis Fabrica pada 1543. Buku tersebut menjadi salah satu tonggak penting karena didasarkan pada pengamatan langsung terhadap pembedahan tubuh manusia.
Karya Vesalius mengoreksi banyak kesalahan yang diwariskan selama berabad-abad dari tradisi medis kuno, termasuk dari pemikiran Galen. Melalui pengamatan langsung, Vesalius membantu mengubah anatomi menjadi ilmu berbasis bukti.
Tiga abad kemudian, Gray’s Anatomy karya Henry Gray memperkuat kesan bahwa tubuh manusia telah dikatalogkan secara lengkap. Buku tersebut menyusun struktur tubuh manusia dengan sistematis, seolah-olah seluruh peta tubuh telah selesai dibuat dan dapat diajarkan sebagai pengetahuan final.
Masalahnya, buku pelajaran sering menciptakan kesan kepastian yang menyesatkan. Tubuh manusia disajikan sebagai sesuatu yang stabil, universal, dan telah disepakati secara penuh. Dalam kenyataannya, anatomi jauh lebih rumit dan lebih bervariasi daripada gambaran standar tersebut.
Analisis sejarah menunjukkan bahwa banyak fondasi anatomi klasik dibangun dalam kondisi penelitian yang sangat terbatas. Anatomi topografis awal, yaitu pemetaan hubungan antarstruktur tubuh, banyak bergantung pada jenazah yang diperoleh melalui perampokan makam.
Para pencuri jenazah, yang dikenal sebagai resurrectionists, sering menggali kembali tubuh orang yang baru dikuburkan. Sasaran mereka tidak jarang berasal dari kelompok miskin, orang-orang yang tinggal di lembaga sosial, atau mereka yang tidak memiliki keluarga dan sumber daya untuk melindungi makam.
Jenazah tersebut kemudian dijual kepada para anatom untuk keperluan pembedahan dan pengajaran. Dengan kata lain, sebagian pengetahuan anatomi klasik lahir dari praktik yang secara etis sangat bermasalah.
Kondisi kerja para anatom awal juga jauh dari ideal. Pencahayaan buruk, jenazah sering dalam keadaan kurang gizi atau sakit, dan perubahan pascakematian sudah mengubah susunan jaringan.
Jumlah sampel yang digunakan juga kecil dan tidak terencana secara sistematis. Informasi demografis hampir tidak tersedia, kecuali yang dapat ditebak dari penampilan luar. Tubuh perempuan kadang dibedah, tetapi jarang dilaporkan dalam catatan ilmiah.
Dalam kondisi semacam itulah banyak pengamatan anatomi klasik disusun. Karena itu, gambaran mengenai tubuh manusia “normal” yang muncul dari studi-studi awal sebenarnya dibangun dari sampel yang sempit dan tidak mewakili keragaman manusia secara luas.
Kenyataan ini tidak mengurangi keterampilan teknis para anatom awal. Kemampuan observasi mereka luar biasa, terutama jika mempertimbangkan keterbatasan alat dan kondisi kerja pada masa itu.
Akan tetapi kondisi penelitian tetap membentuk apa yang dapat mereka lihat dan apa yang terlewatkan. Pertanyaan apakah anatomi sudah selesai perlu disertai pertanyaan lain yang lebih mendasar: apakah peta anatomi yang diwariskan sejak awal memang pernah benar-benar lengkap?
Pertanyaan tersebut penting secara ilmiah maupun etis. Jika pengetahuan anatomi dibangun dari sampel yang terbatas, maka kemungkinan besar masih ada variasi tubuh yang belum sepenuhnya dipahami atau bahkan lama diabaikan.
Sepanjang sebagian besar abad ke-20, penelitian anatomi melambat secara signifikan. Pada 1960-an, jumlah studi kadaver yang diterbitkan di berbagai negara relatif sedikit.
Asumsi yang mendasari keadaan tersebut cukup sederhana: tubuh manusia dianggap telah dipetakan. Pendidikan medis tetap berjalan, tetapi sebagian besar berfokus pada pengajaran pengetahuan yang sudah ada, bukan pada pencarian pengamatan anatomi baru.
Stabilitas tersebut ternyata menutupi persoalan yang lebih dalam. Banyak pengetahuan anatomi diwariskan dari generasi ke generasi tanpa selalu diuji ulang dengan metode, sampel, dan teknologi yang lebih baik.
Dalam beberapa dekade terakhir, keadaan mulai berubah. Teknik pencitraan medis yang semakin maju, penelitian kadaver yang diperbarui, dan meningkatnya perhatian terhadap variasi anatomi memicu kebangkitan baru dalam studi anatomi.
Struktur yang dulu terabaikan atau dijelaskan secara kurang memadai kini ditinjau ulang. Temuan baru mengenai pembuluh limfatik di sekitar otak dan ligamen yang sebelumnya kurang diperhatikan di lutut menunjukkan bahwa tubuh manusia masih menyimpan banyak detail yang perlu dipahami.
Salah satu perubahan besar dalam anatomi modern adalah pengakuan bahwa variasi bukan pengecualian, melainkan aturan. Buku pelajaran biasanya menampilkan tubuh “standar” untuk memudahkan pengajaran, tetapi tubuh manusia nyata berada dalam spektrum yang luas.
Anatomi manusia berbeda menurut banyak dimensi. Perbedaan dapat muncul antara laki-laki dan perempuan, sepanjang proses pertumbuhan dan penuaan, serta antar populasi yang dibentuk oleh faktor genetik dan lingkungan.
Di luar pola umum tersebut, variasi individu juga sangat besar. Pembuluh darah dapat mengikuti jalur yang berbeda. Otot dapat tidak ada pada sebagian orang atau muncul dalam bentuk ganda pada orang lain. Bahkan pola lipatan otak dapat berbeda dari satu individu ke individu lainnya.
Karena itu, anatomi “standar” dalam buku teks sebaiknya dipahami sebagai titik acuan yang disederhanakan, bukan sebagai cetak biru universal bagi semua manusia.
Variasi tersebut memiliki dampak penting dalam dunia medis. Perbedaan susunan saraf, pembuluh darah, dan sendi dapat memengaruhi bagaimana penyakit muncul, bagaimana hasil pemindaian ditafsirkan, serta bagaimana seseorang bergerak dan mengalami cedera.
Perbedaan kecil dalam keselarasan sendi, misalnya, dapat memengaruhi risiko osteoartritis. Variasi pembuluh darah dapat memengaruhi kerentanan terhadap stroke atau aneurisma.
Dengan demikian, memahami keragaman anatomi bukan hanya penting bagi pembedahan. Pengetahuan tersebut juga penting untuk diagnosis, pencitraan medis, biomekanika, serta studi penyakit secara lebih luas.
Analisis ini menunjukkan bahwa anatomi modern tidak hanya bertugas menghafal nama struktur tubuh. Tugas yang lebih besar adalah memahami bagaimana struktur tersebut bervariasi, bagaimana variasi memengaruhi fungsi tubuh, dan bagaimana perbedaan anatomi dapat memengaruhi risiko penyakit.
Kesadaran tentang variasi juga memiliki nilai bagi masyarakat umum. Semakin baik seseorang memahami tubuhnya sendiri, semakin besar kemampuannya untuk terlibat dalam pengambilan keputusan kesehatan dan berkomunikasi dengan tenaga medis.
Namun demikian pemahaman tersebut perlu disertai kehati-hatian. Anatomi kanonis yang ditampilkan dalam buku pelajaran adalah model pengajaran, bukan representasi sempurna dari kenyataan biologis.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anatomi manusia belum selesai, karena peta tubuh yang selama ini dianggap mapan ternyata dibangun dari sejarah penelitian yang terbatas, sampel yang sempit, dan asumsi tentang tubuh “standar” yang tidak selalu mencerminkan keragaman manusia. Dengan berkembangnya pencitraan medis, penelitian kadaver baru, dan perhatian terhadap variasi anatomi, para ilmuwan kini meninjau ulang struktur tubuh yang dulu dianggap sudah dipahami. Temuan menunjukkan bahwa anatomi bukan ilmu yang tertutup, melainkan bidang yang terus berkembang seiring semakin dalamnya pemahaman manusia terhadap tubuhnya sendiri.
Diolah dari artikel:
“Think human anatomy is finished? Scientists say think again” oleh Michelle Spear, University of Bristol. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260618041511.htm