Sumber ilustrasi: Unsplash
7 Agustus 2026 13.00 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.08.2026] Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan pada sendi dan dapat menimbulkan kerusakan permanen apabila tidak ditangani dengan baik. Penyakit ini diperkirakan menyerang sekitar 0,5 hingga 1 persen populasi orang dewasa di dunia. Perkembangan RA diketahui dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, gangguan sistem kekebalan tubuh, serta faktor lingkungan. Merokok telah lama diakui sebagai salah satu faktor risiko utama, sementara berbagai penelitian juga mulai menyoroti kemungkinan pengaruh suhu, kelembapan, debu silika, hingga polusi udara terhadap aktivitas penyakit.
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa paparan udara tercemar berkaitan dengan meningkatnya risiko seseorang mengalami rheumatoid arthritis. Akan tetapi masih sedikit penelitian yang mengkaji apakah polusi udara juga dapat memperburuk kondisi pasien yang telah menderita RA. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Annals of the Rheumatic Diseases (ARD), jurnal resmi EULAR yang diterbitkan Elsevier, berupaya menjawab pertanyaan tersebut dengan meneliti hubungan antara kualitas udara dan tingkat aktivitas penyakit pada penderita rheumatoid arthritis.
Tim peneliti dari Korea Selatan melakukan penelitian kohort prospektif terhadap 1.070 pasien rheumatoid arthritis yang menjalani perawatan di sebuah pusat medis besar. Selama periode empat tahun, yaitu 2021 hingga 2024, para peneliti mengumpulkan data dari 12.583 kunjungan rawat jalan yang dilakukan dalam kondisi praktik klinis sehari-hari. Tujuan penelitian adalah mengetahui apakah paparan polusi udara dapat meningkatkan aktivitas penyakit sekaligus memicu kekambuhan yang menyakitkan.
Untuk memperkirakan tingkat paparan setiap pasien, para peneliti menganalisis kadar bulanan enam jenis polutan udara yang umum ditemukan, yaitu sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), ozon (O₃), karbon monoksida (CO), partikel berdiameter 10 mikrometer (PM10), dan partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer (PM2.5). Data tersebut kemudian dibandingkan dengan tingkat aktivitas penyakit dan kejadian kekambuhan yang tercatat pada setiap kunjungan pasien.
Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi hasil penelitian, seperti usia, jenis kelamin, status serologi, penggunaan obat-obatan, kondisi sosial ekonomi, serta berbagai variabel cuaca. Tim peneliti juga melakukan analisis sensitivitas menggunakan rancangan case crossover untuk mengurangi kemungkinan bias akibat faktor-faktor yang tidak berubah sepanjang waktu maupun kemungkinan bahwa aktivitas penyakit memengaruhi pengukuran paparan polusi udara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara seluruh polutan yang dianalisis, PM2.5 memiliki hubungan paling kuat dengan peningkatan aktivitas rheumatoid arthritis. Paparan kadar PM2.5 yang tinggi dikaitkan dengan meningkatnya risiko kekambuhan penyakit, terutama apabila paparan berlangsung selama lebih dari dua minggu.
Peneliti utama, Eun Bong Lee dari Seoul National University College of Medicine, menjelaskan bahwa peningkatan konsentrasi PM2.5 berhubungan dengan meningkatnya aktivitas penyakit serta risiko kekambuhan rheumatoid arthritis. Lee menambahkan bahwa hubungan tersebut tampak paling jelas pada paparan berkepanjangan terhadap kadar PM2.5 yang tinggi.
PM2.5 merupakan partikel udara yang sangat kecil, bahkan berukuran lebih kecil daripada sel darah merah manusia. Setelah terhirup, partikel tersebut mampu melewati jaringan paru-paru, masuk ke dalam aliran darah, kemudian menyebar menuju berbagai organ tubuh.
Para peneliti menjelaskan bahwa partikel PM2.5 diduga merangsang pembentukan reactive oxygen species, yaitu molekul reaktif yang dapat menyebabkan stres oksidatif pada sel. Kondisi tersebut berpotensi merusak DNA sekaligus mengaktifkan respons peradangan di berbagai organ tubuh. Peningkatan proses inflamasi inilah yang diperkirakan berkontribusi terhadap meningkatnya aktivitas rheumatoid arthritis dan memperbesar kemungkinan terjadinya kekambuhan.
Dalam editorial yang menyertai publikasi tersebut, Jeffrey A. Sparks dari Mass General Brigham, Brigham and Women’s Hospital, dan Harvard Medical School menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan salah satu studi terbesar yang menggunakan metode kuat untuk menghubungkan polutan udara dengan aktivitas penyakit rheumatoid arthritis. Sparks menilai meningkatnya tingkat polusi udara menjadikan temuan tersebut memiliki implikasi penting bagi dunia klinis, penelitian biologis, maupun kesehatan masyarakat. Menurut Sparks, hasil penelitian juga memperkuat dugaan bahwa zat-zat yang terhirup dari lingkungan memiliki pengaruh luas terhadap risiko maupun perkembangan rheumatoid arthritis, bahkan kemungkinan juga terhadap penyakit autoimun lainnya.
Sparks juga berpendapat bahwa dari sudut pandang klinis, temuan tersebut membuka peluang untuk mengurangi risiko kekambuhan rheumatoid arthritis dengan menghindari paparan udara berkualitas buruk. Penelitian tersebut sekaligus memberikan penjelasan biologis terhadap sebagian kekambuhan RA yang selama ini tampak muncul tanpa penyebab yang jelas.
Penelitian ini juga menunjukkan implikasi terhadap kebijakan kesehatan masyarakat. Lee menjelaskan bahwa meskipun masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan apakah peningkatan kualitas udara secara langsung mampu menurunkan aktivitas penyakit rheumatoid arthritis, penderita RA sebaiknya menghindari paparan udara berkualitas buruk dalam waktu lama, terutama ketika kadar PM2.5 sedang tinggi.
Tim peneliti menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan apakah pengurangan paparan polusi maupun perbaikan kualitas udara benar-benar dapat menurunkan aktivitas penyakit secara langsung. Akan tetapi, membatasi paparan udara tercemar selama periode kualitas udara buruk dinilai sebagai langkah pencegahan yang masuk akal bagi penderita rheumatoid arthritis.
Pemimpin Redaksi Annals of the Rheumatic Diseases, Josef Smolen dari Medical University of Vienna, menjelaskan bahwa penelitian tersebut telah melalui proses telaah sejawat yang ketat dan seluruh penelaah sepakat mengenai pentingnya hasil penelitian. Smolen mengingatkan bahwa seluruh data berasal dari populasi Korea Selatan yang memiliki karakteristik genetik serta kondisi lingkungan tertentu sehingga masih diperlukan penelitian serupa di wilayah lain dunia. Menurut Smolen, penelitian tersebut merupakan titik awal yang sangat baik untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi aktivitas penyakit serta respons terapi pada pasien rheumatoid arthritis. Smolen juga menilai bahwa penelitian tersebut menjadi pengingat penting bahwa lingkungan kemungkinan merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi nyeri dan peradangan pada penderita RA.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap partikel polusi udara PM2.5 berkaitan dengan meningkatnya aktivitas rheumatoid arthritis dan risiko terjadinya kekambuhan yang menyakitkan. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kualitas udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang memengaruhi perjalanan penyakit rheumatoid arthritis serta membuka peluang bagi strategi pencegahan melalui pengurangan paparan udara tercemar, meskipun penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan manfaat klinisnya.
Diolah dari artikel:
“Dirty air may trigger painful rheumatoid arthritis flares” oleh Elsevier. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260805082452.htm