Separuh Kasus Demensia Mungkin Berkaitan dengan Faktor Risiko yang Dapat Diubah?

Sumber ilustrasi: Magnific
11 Agustus 2026 11.50 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [11.08.2026] Demensia merupakan satu persoalan kesehatan yang semakin penting seiring bertambahnya usia populasi dunia. Kondisi tersebut bukan merupakan satu penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala yang dapat muncul akibat beberapa gangguan berbeda pada otak. Penyakit Alzheimer dan demensia vaskular merupakan dua penyebab demensia yang paling umum, dengan mekanisme kerusakan otak yang tidak sepenuhnya sama.

Risiko seseorang mengalami demensia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sebagian tidak dapat diubah, seperti usia, jenis kelamin, dan faktor genetik. Namun, sejumlah faktor lain dapat dimodifikasi melalui perubahan perilaku maupun pengelolaan kesehatan, termasuk merokok, penyakit kardiovaskular, kadar lipid darah yang tinggi, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol, gangguan pendengaran, dan tekanan darah tinggi.

Penelitian terbaru dari Lund University menunjukkan bahwa hampir separuh kasus demensia mungkin berkaitan dengan faktor-faktor risiko yang berpotensi dapat diubah tersebut. Penelitian tidak hanya melihat apakah suatu faktor meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami demensia, tetapi juga menelusuri jenis perubahan yang terjadi di dalam otak dan kaitannya dengan penyebab demensia yang berbeda.

Sebastian Palmqvist, dosen senior neurologi di Lund University sekaligus dokter senior di Memory Clinic, Skåne University Hospital, menjelaskan bahwa banyak penelitian sebelumnya mengenai faktor risiko yang dapat dipengaruhi seseorang belum mempertimbangkan perbedaan penyebab demensia. Akibatnya, pengetahuan mengenai hubungan masing-masing faktor risiko dengan mekanisme penyakit yang mendasari perubahan otak masih terbatas.

Untuk memahami hubungan tersebut secara lebih rinci, para peneliti melibatkan hampir 500 orang dengan usia rata-rata 65 tahun yang belum menunjukkan tanda-tanda gangguan kognitif. Para peserta kemudian dipantau selama empat tahun sehingga perubahan pada otak dapat diamati sebelum munculnya gangguan kognitif yang jelas.

Salah satu bagian penting penelitian adalah pengamatan terhadap materi putih otak. Materi putih terdiri atas serabut-serabut saraf yang memungkinkan berbagai bagian otak berkomunikasi satu sama lain. Kerusakan pada jaringan tersebut sering ditemukan pada demensia vaskular dan dapat mencerminkan gangguan pada pembuluh darah yang memasok jaringan otak.

Selain mengamati materi putih, tim peneliti mengukur kadar amyloid β dan tau. Kedua protein tersebut memiliki hubungan erat dengan penyakit Alzheimer dan menjadi penanda penting untuk memahami perkembangan perubahan patologis pada otak.

Dengan mengamati materi putih, amyloid β, dan tau secara bersamaan, para peneliti dapat membandingkan bagaimana faktor risiko yang dapat maupun tidak dapat dimodifikasi berkaitan dengan berbagai proses penyakit. Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian bergerak melampaui pertanyaan mengenai siapa yang berisiko mengalami demensia menuju pertanyaan mengenai jenis kerusakan otak apa yang berkaitan dengan setiap faktor risiko.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar faktor risiko yang dapat dimodifikasi memiliki hubungan yang kuat dengan kesehatan pembuluh darah otak. Merokok, penyakit kardiovaskular, kadar lipid darah yang tinggi, dan tekanan darah tinggi berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah serta penumpukan perubahan materi putih yang berlangsung lebih cepat.

Isabelle Glans, mahasiswa doktoral di Lund University sekaligus dokter residen neurologi di Skåne University Hospital, menjelaskan bahwa sebagian besar faktor risiko yang dapat dimodifikasi tersebut berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah otak dan percepatan akumulasi perubahan materi putih. Kerusakan tersebut mengganggu fungsi pembuluh darah dan dapat menghasilkan kerusakan vaskular pada otak yang pada akhirnya berpotensi berkembang menjadi demensia vaskular.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan sistem kardiovaskular memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kesehatan otak. Tekanan darah tinggi, gangguan lipid, penyakit kardiovaskular, dan paparan rokok tidak hanya menjadi persoalan bagi jantung dan pembuluh darah di bagian tubuh lainnya, tetapi juga berkaitan dengan perubahan struktural pada jaringan otak.

Hubungan tersebut menjadi penting karena kerusakan vaskular dapat berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun sebelum seseorang menunjukkan gejala demensia. Dengan demikian, pengendalian faktor risiko sejak usia pertengahan berpotensi memengaruhi kondisi otak pada usia yang lebih lanjut.

Penelitian juga menemukan kemungkinan hubungan antara beberapa faktor risiko tertentu dan protein yang berperan dalam penyakit Alzheimer. Pola tersebut berbeda dari hubungan kuat antara faktor vaskular dan kerusakan materi putih sehingga menunjukkan bahwa faktor risiko tertentu mungkin bekerja melalui mekanisme biologis yang berbeda.

Diabetes ditemukan berkaitan dengan peningkatan akumulasi amyloid β. Protein tersebut dapat membentuk endapan di dalam otak dan merupakan salah satu karakteristik utama perubahan patologis yang ditemukan pada penyakit Alzheimer.

Sementara itu, peserta dengan indeks massa tubuh atau BMI yang lebih rendah menunjukkan akumulasi tau yang lebih cepat. Tau merupakan protein lain yang berkaitan erat dengan penyakit Alzheimer dan dapat membentuk struktur abnormal di dalam sel saraf.

Glans menekankan bahwa hubungan diabetes dengan amyloid β serta BMI rendah dengan akumulasi tau masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Temuan tersebut perlu divalidasi melalui penelitian berikutnya sebelum dapat ditarik kesimpulan yang lebih kuat mengenai hubungan sebab-akibat maupun implikasi klinisnya.

Perbedaan hubungan tersebut memperlihatkan bahwa faktor risiko demensia tidak selalu bekerja melalui jalur biologis yang sama. Sebagian faktor tampaknya terutama berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah, sedangkan faktor lainnya mungkin memiliki hubungan dengan proses molekuler yang menjadi karakteristik penyakit Alzheimer.

Temuan tersebut juga penting karena pada banyak penderita demensia, perubahan patologis yang ditemukan di dalam otak tidak hanya berasal dari satu penyakit. Kerusakan vaskular dapat muncul bersamaan dengan perubahan yang berkaitan dengan Alzheimer sehingga berbagai proses patologis dapat berkontribusi secara bersamaan terhadap penurunan fungsi kognitif.

Keberadaan beberapa proses penyakit sekaligus membuat pengelolaan faktor risiko yang dapat dimodifikasi menjadi semakin relevan. Meskipun seseorang memiliki risiko terhadap Alzheimer, menjaga kesehatan pembuluh darah dan metabolisme tetap berpotensi mengurangi sebagian beban kerusakan yang berkembang di dalam otak.

Kebiasaan hidup yang lebih sehat dan pengendalian faktor risiko karena itu dapat berperan dalam menunda munculnya gejala demensia. Pendekatan tersebut tidak berarti bahwa semua kasus demensia dapat dicegah, terutama karena usia dan genetika tetap memainkan peran penting, tetapi sejumlah proses yang memperburuk kesehatan otak mungkin dapat diperlambat.

Palmqvist menjelaskan bahwa perhatian terhadap faktor risiko vaskular dan metabolik tetap bermanfaat karena dapat membantu mengurangi dampak gabungan dari beberapa perubahan otak yang berlangsung secara bersamaan. Pendekatan tersebut menjadi penting bahkan bagi orang-orang yang memiliki risiko mengalami penyakit Alzheimer.

Penelitian dari Lund University memperlihatkan bahwa hubungan antara gaya hidup, kesehatan tubuh, dan demensia perlu dipahami melalui mekanisme yang terjadi di dalam otak. Faktor seperti merokok, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, dan kadar lipid darah yang tinggi memiliki hubungan kuat dengan kerusakan vaskular serta perubahan materi putih, sementara diabetes dan BMI yang lebih rendah menunjukkan kemungkinan hubungan dengan amyloid β dan tau. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian kesehatan vaskular dan metabolik berpotensi membantu menunda demensia dengan mengurangi beberapa bentuk kerusakan otak yang dapat berkembang secara bersamaan.

Diolah dari artikel:
“Nearly half of dementia cases may be linked to risks you can change” oleh Lund University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260803080923.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *