Mengapa Lemak Perut Bertambah Seiring Bertambahnya Usia?

Sumber ilustrasi: Unsplash
29 Juni 2026 15.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [29.06.2026] Banyak orang mengalami perubahan yang sama ketika memasuki usia paruh baya. Lingkar pinggang perlahan membesar meskipun berat badan secara keseluruhan tidak berubah terlalu banyak. Kondisi tersebut umumnya dianggap sebagai konsekuensi alami dari bertambahnya usia. Padahal, penumpukan lemak di area perut bukan hanya persoalan penampilan. Berbagai penelitian telah mengaitkannya dengan metabolisme yang melambat, percepatan proses penuaan, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga berbagai penyakit kronis lainnya. Meskipun perubahan komposisi tubuh akibat penuaan telah lama diketahui, penyebab biologis yang mendorong terbentuknya lemak perut masih menjadi misteri.

Sebuah penelitian terbaru dari City of Hope yang dipublikasikan di jurnal Science berhasil mengidentifikasi mekanisme yang kemungkinan menjadi pemicu utama munculnya lemak perut pada usia lanjut. Para peneliti menemukan adanya jenis baru sel punca atau stem cell dewasa yang muncul selama proses penuaan dan memiliki kemampuan tinggi untuk menghasilkan sel-sel lemak baru, khususnya di area perut. Temuan tersebut membuka peluang bagi pengembangan terapi baru untuk mengurangi lemak perut sekaligus mendukung proses penuaan yang lebih sehat.

Qiong (Annabel) Wang dari Arthur Riggs Diabetes & Metabolism Research Institute, City of Hope, menjelaskan bahwa meskipun berat badan tetap relatif stabil, banyak orang kehilangan massa otot sekaligus mengalami peningkatan lemak tubuh seiring bertambahnya usia. Menurut Wang, penelitian tersebut menunjukkan bahwa penuaan memicu munculnya jenis baru sel punca dewasa yang secara signifikan meningkatkan produksi sel-sel lemak baru, terutama di sekitar bagian perut.

Untuk memahami proses tersebut, tim peneliti bekerja sama dengan ilmuwan dari UCLA dan melakukan serangkaian eksperimen menggunakan tikus yang kemudian diperkuat melalui analisis terhadap sel manusia. Penelitian difokuskan pada jaringan adiposa putih (white adipose tissue atau WAT), yaitu jaringan utama penyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak sekaligus penyumbang terbesar terhadap pembentukan lemak perut.

Selama ini para ilmuwan mengetahui bahwa sel-sel lemak yang sudah ada dapat membesar seiring bertambahnya usia. Akan tetapi tim peneliti menduga bahwa pembesaran lingkar pinggang bukan hanya disebabkan oleh membesarnya sel lemak lama, melainkan juga oleh pembentukan sel-sel lemak baru secara terus-menerus.

Para peneliti mempelajari adipocyte progenitor cells (APCs), yaitu sel punca yang terdapat di dalam jaringan lemak dan berfungsi sebagai cikal bakal sel lemak dewasa. APC dari tikus muda maupun tikus tua kemudian dipindahkan ke kelompok tikus muda untuk melihat bagaimana perilakunya.

Hasil menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. APC yang berasal dari tikus tua menghasilkan sel-sel lemak baru dalam jumlah sangat besar. Sebaliknya, APC dari tikus muda hanya menghasilkan sedikit sel lemak baru meskipun dipindahkan ke tubuh tikus yang lebih tua. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan lemak dalam jumlah besar sudah melekat pada APC yang telah mengalami proses penuaan.

Tim peneliti menggunakan teknologi single-cell RNA sequencing yang memungkinkan aktivitas gen diamati pada setiap sel secara individual untuk mengetahui perubahan yang terjadi di tingkat molekuler. Analisis tersebut memperlihatkan bahwa APC pada tikus muda relatif tidak aktif. Namun ketika tikus memasuki usia lanjut, APC menjadi sangat aktif dan mulai memproduksi sel-sel lemak baru dalam jumlah besar.

Adolfo Garcia-Ocana dari City of Hope menjelaskan bahwa temuan tersebut berbeda dari kebanyakan sel punca dewasa. Sebagian besar sel punca kehilangan kemampuan berkembang seiring bertambahnya usia, sedangkan APC justru mengalami peningkatan kemampuan menghasilkan sel baru. Garcia-Ocana menilai bahwa penelitian ini menjadi bukti pertama yang menunjukkan pembesaran perut pada usia lanjut berkaitan dengan meningkatnya produksi sel lemak baru oleh APC.

Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa penuaan tidak hanya mengaktifkan APC, tetapi juga memunculkan populasi sel punca baru yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi. Sel tersebut diberi nama committed preadipocytes, age-specific atau CP-As. Sel CP-A hanya muncul ketika proses penuaan berlangsung dan memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi sel lemak baru.

Untuk mengetahui mekanisme yang mengendalikan kemunculan CP-A, para peneliti kemudian mempelajari berbagai jalur komunikasi antarsel. Analisis tersebut mengarah pada jalur pensinyalan yang dikenal sebagai leukemia inhibitory factor receptor (LIFR). Jalur ini memungkinkan sel menerima berbagai sinyal biologis yang mengatur perilaku dan perkembangannya.

Wang menjelaskan bahwa tikus muda ternyata tidak membutuhkan sinyal LIFR untuk membentuk lemak. Sebaliknya, pada tikus yang lebih tua, jalur tersebut berperan penting dalam mengaktifkan CP-A sehingga menghasilkan sel-sel lemak baru dan memperbesar timbunan lemak di bagian perut.

Para peneliti juga melakukan analisis jaringan lemak dari individu dengan kelompok usia berbeda menggunakan teknik single-cell RNA sequencing untuk memastikan apakah mekanisme yang sama juga terjadi pada manusia. Analisis tersebut menemukan sel yang sangat mirip dengan CP-A dalam jumlah lebih banyak pada jaringan milik individu paruh baya dibandingkan kelompok yang lebih muda.

Tidak hanya memiliki bentuk yang serupa, CP-A pada manusia juga menunjukkan kemampuan tinggi dalam menghasilkan sel-sel lemak baru. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa mekanisme biologis yang ditemukan pada tikus kemungkinan juga berlangsung pada manusia.

Menurut Wang, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian pembentukan sel lemak baru dapat menjadi salah satu pendekatan penting dalam mengatasi obesitas yang berkaitan dengan penuaan. Pemahaman mengenai bagaimana CP-A muncul dan berperan dalam gangguan metabolisme berpotensi membuka jalan bagi pengembangan terapi baru untuk mengurangi lemak perut sekaligus meningkatkan kesehatan dan harapan hidup.

Langkah penelitian berikutnya akan berfokus pada pelacakan perilaku CP-A dalam tubuh hewan maupun manusia, sekaligus mencari cara untuk menghambat atau menghilangkan sel tersebut. Jika strategi tersebut berhasil dikembangkan, para ilmuwan berharap penumpukan lemak perut yang umum terjadi pada usia lanjut dapat dicegah sejak awal.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bertambahnya lemak perut bukan sekadar akibat perlambatan metabolisme atau membesarnya sel lemak yang telah ada. Penuaan ternyata memunculkan populasi baru sel punca yang secara aktif menghasilkan sel-sel lemak baru melalui jalur biologis tertentu. Temuan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai proses penuaan sekaligus menghadirkan target terapi yang menjanjikan untuk membantu mengurangi lemak perut serta meningkatkan kualitas hidup pada usia lanjut.

Diolah dari artikel:
“Scientists discover what triggers belly fat as we age” oleh City of Hope. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260624115133.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *