Sumber ilustrasi: Pixabay
07 Juli 2026 12.10 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.07.2026] Pemanasan global yang kian memburuk Tengah menyusutkan es laut Arktik. Penurunan ini memicu kekhawatiran besar karena es Arktik berperan penting dalam memantulkan sinar Matahari, menjaga suhu kawasan kutub, melindungi garis pantai, serta mendukung kehidupan masyarakat dan satwa di wilayah utara. Ketika es semakin tipis dan semakin cepat mencair, para ilmuwan mulai mempertimbangkan berbagai pendekatan untuk memperlambat kehilangan es tersebut.
Sebagian gagasan yang diajukan tergolong kontroversial, termasuk teknik geoengineering seperti penyuntikan aerosol ke stratosfer untuk mengurangi paparan sinar Matahari. Akan tetapi, sebuah penelitian terbaru menguji pendekatan yang jauh lebih sederhana, yaitu memompa air laut ke atas es yang sudah ada pada musim dingin dan membiarkannya membeku menjadi lapisan tambahan.
Metode ini disebut penebalan es laut atau sea ice thickening. Teknik serupa sebenarnya telah digunakan selama beberapa dekade oleh masyarakat Nordik dan Arktik, misalnya untuk membangun jalan es atau membuat platform bagi eksplorasi minyak lepas pantai. Arena hoki es juga memakai prinsip yang mirip untuk menjaga permukaan es tetap kuat.
Eksperimen lapangan pertama dilakukan di Cambridge Bay, Nunavut, Kanada, selama musim dingin 2024 hingga 2025. Para peneliti memasang delapan area uji dan tiga lokasi kontrol untuk melihat apakah air laut yang dipompa ke atas es benar-benar dapat menambah ketebalan es sekaligus membuat permukaannya lebih cerah.
Dalam percobaan tersebut, tim menggunakan pompa bawah air kecil yang masing-masing membutuhkan daya listrik lebih rendah daripada pemanggang roti. Area uji dibanjiri satu atau dua kali dengan air laut setebal hingga 20 sentimeter, sementara lokasi kontrol tidak dibanjiri sama sekali.
Pada musim semi, salah satu lokasi kontrol juga digunakan untuk percobaan pengeringan kolam lelehan. Tim mengebor lubang kecil pada es untuk mengalirkan air lelehan dan menyingkap lapisan es yang lebih cerah di bawahnya. Percobaan ini dilakukan untuk melihat apakah pengurangan air lelehan dapat meningkatkan daya pantul permukaan es.
Hasilnya menunjukkan bahwa area uji dapat tumbuh hingga 32 sentimeter lebih tebal dibandingkan lokasi kontrol pada akhir musim dingin. Angka tersebut kira-kira setara dengan penipisan es yang telah terjadi di Arktik selama 50 tahun terakhir. Area yang dibanjiri dua kali juga menunjukkan penambahan ketebalan lebih besar dibandingkan area yang hanya dibanjiri sekali.
Selama musim pencairan dari akhir Mei hingga September, es di area uji tampak lebih cerah dan mencair lebih lambat dibandingkan es di lokasi kontrol. Es yang lebih cerah memantulkan lebih banyak sinar Matahari kembali ke angkasa sehingga lebih tahan terhadap pencairan. Percobaan pengeringan kolam lelehan juga menghasilkan permukaan es yang lebih cerah daripada lokasi kontrol lain.
Edward Blanchard-Wrigglesworth dari University of Washington dan Andrea Ceccolini dari University College London menjelaskan bahwa ketika air laut dipompa ke atas es, air tersebut meresap ke dalam salju yang berada di permukaan. Campuran salju dan air kemudian membeku menjadi lapisan es baru. Pada saat yang sama, berkurangnya lapisan salju sebagai isolator memungkinkan udara dingin mempercepat pertumbuhan es dari bagian bawah.
Secara teori, efek ini dapat meningkatkan albedo Arktik, yaitu kemampuan permukaan untuk memantulkan cahaya Matahari. Jika teknik serupa dapat dilakukan pada skala yang jauh lebih besar, peningkatan albedo berpotensi membantu mendinginkan kawasan Arktik, memperlambat pencairan permafrost, dan mengurangi kehilangan es dari Greenland.
Tantangan terbesar terletak pada skala penerapan. Untuk menutupi hanya 10 persen Samudra Arktik, sebuah studi pada 2016 memperkirakan diperlukan sekitar 10 juta pompa bertenaga angin. Untuk mencakup seluruh wilayah Arktik, jumlahnya dapat mencapai 100 juta pompa. Kebutuhan logistik, biaya, tenaga kerja, dan pemeliharaan membuat penerapan skala besar menjadi sangat sulit.
Masalah waktu juga menjadi kendala. Luas es laut Arktik tahunan telah menyusut sekitar 20 persen sejak 1979, dan kehilangan tersebut terus dipercepat oleh pemanasan global. Jika penebalan es laut ingin diterapkan secara luas, pompa harus dipasang sangat cepat selagi masih ada area es yang cukup luas untuk dibanjiri.
Selain itu, dampak ekologis dan sosial dari penebalan es laut belum sepenuhnya dipahami. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah metode ini aman bagi ekosistem Arktik, masyarakat lokal, migrasi satwa, dan dinamika laut. Namun, semakin lama penelitian berlangsung, semakin besar risiko bahwa es yang ingin dilindungi sudah telanjur hilang.
Karena berbagai kendala tersebut, sejumlah peneliti menilai bahwa penebalan es laut tidak realistis sebagai solusi skala besar untuk melindungi Arktik. Tantangan tata kelola, biaya tinggi, kebutuhan perawatan, serta kesulitan penerapan lapangan membuat metode ini lebih masuk akal untuk skala lokal daripada perlindungan seluruh Samudra Arktik.
Meski demikian, uji coba terbaru tetap memberikan hasil yang menjanjikan. Blanchard-Wrigglesworth dan Ceccolini menyatakan bahwa percobaan musim dingin berikutnya menunjukkan peningkatan ketebalan es hingga 50 sentimeter dibandingkan lokasi kontrol. Tim juga sedang mengembangkan teknologi robot bawah air yang dapat melakukan proses penebalan es secara otomatis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa memompa air laut ke atas es Arktik pada musim dingin dapat menambah ketebalan es dan meningkatkan kecerahan permukaannya pada skala kecil. Metode tersebut berpotensi membantu es bertahan lebih lama dari pencairan, tetapi penerapan dalam skala besar masih menghadapi kendala besar dari sisi biaya, logistik, tata kelola, dan dampak ekologis. Dengan demikian, penebalan es laut mungkin dapat menjadi alat adaptasi lokal bagi komunitas Arktik, tetapi belum dapat dianggap sebagai solusi utama untuk menyelamatkan es laut Arktik dari pemanasan global.
Diolah dari artikel:
“First experiment to thicken Arctic ice with seawater shows promise — but there’s a big catch” oleh Sascha Pare. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.