Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
07 Juli 2026 16.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.07.2026] Hubungan antara manusia dan serigala dipahami sebagai awal dari proses domestikasi yang pada akhirnya menghasilkan anjing modern. Dalam pandangan tersebut, manusia purba diperkirakan secara bertahap menjinakkan serigala hingga berevolusi menjadi spesies yang hidup berdampingan dengan manusia. Dalam sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan tersebut kemungkinan jauh lebih beragam daripada yang selama ini diperkirakan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkap penemuan sisa-sisa serigala berusia sekitar 3.000 hingga 5.000 tahun di Pulau Stora Karlsö, Swedia. Pulau kecil di Laut Baltik tersebut tidak memiliki mamalia darat asli dan terpisah dari daratan oleh laut terbuka. Kondisi tersebut membuat para peneliti menyimpulkan bahwa serigala-serigala itu hampir pasti dibawa ke pulau oleh manusia. Studi ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Francis Crick Institute, Stockholm University, University of Aberdeen, dan University of East Anglia.
Penemuan tersebut berasal dari Gua Stora Förvar, sebuah situs arkeologi yang diketahui digunakan oleh pemburu anjing laut dan nelayan pada Zaman Neolitikum hingga Zaman Perunggu. Dengan luas hanya sekitar 2,5 kilometer persegi, Stora Karlsö tidak memungkinkan serigala mencapai pulau secara alami. Kemungkinan terbesar adalah manusia mengangkut hewan-hewan tersebut menggunakan perahu, sehingga menunjukkan adanya hubungan yang disengaja antara manusia dan serigala ribuan tahun silam.
Analisis kemudian difokuskan pada dua spesimen kanid, kelompok hewan yang mencakup serigala, anjing, rubah, dan kerabatnya. Pengujian genetik memastikan bahwa kedua spesimen tersebut merupakan serigala murni tanpa jejak keturunan anjing. Temuan ini mengejutkan karena sebelumnya para peneliti memperkirakan sisa-sisa tersebut berasal dari anjing yang telah didomestikasi.
Meskipun secara genetik merupakan serigala liar, kedua hewan tersebut menunjukkan karakteristik yang mengindikasikan kehidupan yang sangat dekat dengan manusia. Analisis isotop mengungkap bahwa makanan mereka didominasi protein laut seperti ikan dan anjing laut, pola konsumsi yang sangat mirip dengan masyarakat penghuni pulau. Temuan tersebut menunjukkan bahwa serigala kemungkinan besar memperoleh makanan langsung dari manusia, bukan berburu sendiri.
Selain pola makan, para peneliti juga menemukan bahwa ukuran tubuh serigala-serigala tersebut lebih kecil dibandingkan serigala yang hidup di daratan utama. Salah satu spesimen bahkan memiliki tingkat keragaman genetik yang sangat rendah. Kondisi tersebut umumnya ditemukan pada populasi yang terisolasi atau hewan yang mengalami pengelolaan serta pembiakan oleh manusia.
Dr. Linus Girdland-Flink dari University of Aberdeen menjelaskan bahwa penemuan ini benar-benar tidak terduga. Menurutnya, kedua serigala memiliki garis keturunan yang tidak dapat dibedakan dari serigala Eurasia lainnya, namun hidup berdampingan dengan manusia, mengonsumsi makanan yang sama, dan berada di lokasi yang hanya dapat dicapai dengan bantuan perahu. Kondisi tersebut menggambarkan hubungan manusia dan serigala yang jauh lebih kompleks dibandingkan pemahaman sebelumnya.
Temuan tersebut mendorong para peneliti untuk meninjau kembali teori mengenai proses domestikasi. Selama ini, interaksi manusia dengan serigala hampir selalu dipandang sebagai tahapan menuju munculnya anjing. Namun, keberadaan serigala di Stora Karlsö menunjukkan kemungkinan adanya bentuk hubungan lain yang tidak berakhir dengan domestikasi penuh.
Para peneliti belum dapat memastikan apakah serigala-serigala tersebut benar-benar jinak, dipelihara dalam kurungan, atau hanya dikelola dalam bentuk tertentu. Namun, keberadaan mereka di sebuah pulau yang dihuni manusia memperlihatkan adanya hubungan yang berlangsung cukup lama dan dilakukan secara sengaja.
Pontus Skoglund dari Ancient Genomics Laboratory di Francis Crick Institute menjelaskan bahwa identifikasi serigala, bukan anjing, merupakan kejutan terbesar dalam penelitian ini. Menurutnya, temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa pada lingkungan tertentu manusia mampu memelihara serigala di permukiman mereka karena hewan tersebut memiliki nilai atau fungsi tertentu.
Analisis genetik semakin memperkuat dugaan adanya campur tangan manusia. Anders Bergström dari University of East Anglia menjelaskan bahwa salah satu serigala memiliki tingkat keragaman genetik yang bahkan lebih rendah dibandingkan seluruh spesimen serigala purba lain yang pernah dipelajari. Pola seperti ini lazim ditemukan pada populasi yang terisolasi, mengalami penyempitan populasi (population bottleneck), maupun organisme yang telah didomestikasi. Meskipun penyebab alami belum dapat sepenuhnya dikesampingkan, hasil tersebut menunjukkan bahwa manusia kemungkinan telah mengelola serigala dengan cara yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya.
Bukti lain yang menarik berasal dari salah satu serigala Zaman Perunggu yang mengalami kerusakan serius pada tulang anggota geraknya. Cedera tersebut diperkirakan sangat membatasi kemampuan hewan untuk berburu mangsa besar. Namun, serigala tersebut tetap bertahan hidup cukup lama hingga luka tersebut meninggalkan perubahan permanen pada kerangkanya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hewan tersebut mungkin memperoleh bantuan atau setidaknya hidup dalam lingkungan yang membuatnya tidak harus berburu sendiri untuk bertahan hidup.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh, penelitian ini menggabungkan kajian osteologi atau analisis tulang dengan teknologi analisis genom modern. Kombinasi kedua pendekatan tersebut memungkinkan para ilmuwan merekonstruksi riwayat kehidupan hewan-hewan tersebut dengan tingkat detail yang sebelumnya sulit dicapai.
Jan Storå, Profesor Osteoarkeologi di Stockholm University, menyatakan bahwa perpaduan antara analisis tulang dan data genetik telah membuka perspektif baru yang sangat tidak terduga mengenai hubungan manusia dan hewan pada Zaman Batu maupun Zaman Perunggu, khususnya terkait interaksi manusia dengan serigala dan anjing.
Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dan serigala pada masa prasejarah kemungkinan jauh lebih beragam daripada sekadar berburu atau menjinakkan hingga menjadi anjing. Sebagian komunitas kuno tampaknya mampu membangun hubungan jangka panjang dengan serigala, mengelola bahkan mungkin merawatnya tanpa benar-benar mendomestikasikannya. Temuan tersebut membuka babak baru dalam memahami sejarah interaksi manusia dengan salah satu predator paling ikonik di dunia serta memperlihatkan bahwa proses menuju domestikasi mungkin tidak sesederhana yang selama ini diyakini.
Diolah dari artikel:
“5,000-year-old wolves found on remote island rewrite what we know about domestication” oleh Stockholm University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260624115624.htm