Sumber ilustrasi: Magnific
20 Juli 2026 19.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [20.07.2026] Pemanis rendah kalori dan tanpa kalori dipromosikan sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan gula, terutama bagi orang yang ingin mengontrol berat badan atau kadar gula darah. Berbagai penelitian juga telah mengevaluasi dampak pemanis buatan terhadap kesehatan metabolik, namun pengaruhnya terhadap fungsi otak dalam jangka panjang masih menjadi perdebatan. Kini, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Neurology mengungkap adanya hubungan antara konsumsi beberapa jenis pemanis pengganti gula dengan penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat yang berlangsung lebih cepat.
Penelitian tersebut dilakukan oleh para peneliti yang mengikuti hampir 13.000 orang dewasa selama sekitar delapan tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi pemanis pengganti gula dalam jumlah paling tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif lebih cepat dibandingkan mereka yang mengonsumsi dalam jumlah paling sedikit. Hubungan tersebut terlihat paling kuat pada penderita diabetes. Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian ini hanya menemukan hubungan statistik dan belum membuktikan bahwa pemanis secara langsung menyebabkan penurunan fungsi otak.
Penelitian ini menelaah tujuh jenis pemanis yang umum digunakan, yaitu aspartam, sakarin, acesulfame K, eritritol, xylitol, sorbitol, dan tagatosa. Ketujuh bahan tersebut banyak ditemukan dalam minuman ringan rendah kalori, air berperisa, minuman energi, yogurt, makanan penutup rendah kalori, hingga berbagai produk makanan ultra-proses. Sebagian juga dijual sebagai pemanis meja untuk kopi, teh, maupun keperluan memasak.
Penulis utama penelitian, Claudia Kimie Suemoto dari University of São Paulo, menjelaskan bahwa pemanis rendah kalori selama ini sering dipandang sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan gula. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis pemanis tersebut kemungkinan memiliki dampak negatif terhadap kesehatan otak apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.
Penelitian melibatkan 12.772 orang dewasa di Brasil dengan usia rata-rata 52 tahun. Pada awal penelitian, seluruh peserta mengisi kuesioner rinci mengenai pola makan dan minuman yang dikonsumsi selama satu tahun sebelumnya. Berdasarkan jumlah konsumsi pemanis, para peneliti membagi peserta menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok konsumsi rendah, sedang, dan tinggi.
Kelompok dengan konsumsi terendah mengonsumsi rata-rata sekitar 20 miligram pemanis per hari, sedangkan kelompok konsumsi tertinggi mencapai rata-rata 191 miligram per hari. Untuk aspartam, jumlah tersebut kira-kira setara dengan kandungan dalam satu kaleng minuman bersoda diet. Dari seluruh pemanis yang diteliti, sorbitol merupakan yang paling banyak dikonsumsi, dengan rata-rata sekitar 64 miligram per hari.
Selama penelitian berlangsung, peserta menjalani serangkaian tes fungsi kognitif pada awal, pertengahan, dan akhir masa pengamatan. Pengujian tersebut mengukur kemampuan kelancaran verbal, memori kerja, kemampuan mengingat kata, serta kecepatan memproses informasi. Keempat aspek tersebut merupakan indikator penting dalam menilai kesehatan fungsi otak.
Setelah memperhitungkan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, dan kondisi kesehatan lainnya, para peneliti menemukan bahwa peserta dengan konsumsi pemanis tertinggi mengalami penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat sekitar 62 persen lebih cepat dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah. Besarnya perbedaan tersebut diperkirakan setara dengan tambahan proses penuaan otak sekitar 1,6 tahun.
Kelompok dengan tingkat konsumsi sedang juga menunjukkan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat, yaitu sekitar 35 persen dibandingkan kelompok konsumsi terendah. Para peneliti memperkirakan perbedaan tersebut setara dengan tambahan sekitar 1,3 tahun proses penuaan.
Usia turut memengaruhi hasil penelitian. Hubungan antara konsumsi pemanis dan penurunan fungsi otak terutama ditemukan pada peserta yang berusia di bawah 60 tahun. Pada kelompok usia tersebut, konsumsi pemanis yang tinggi dikaitkan dengan penurunan kemampuan kelancaran verbal dan fungsi kognitif secara keseluruhan. Sebaliknya, hubungan serupa tidak ditemukan pada peserta yang berusia lebih dari 60 tahun.
Hubungan tersebut juga tampak lebih kuat pada penderita diabetes dibandingkan peserta yang tidak mengidap penyakit tersebut. Para peneliti menduga kondisi ini berkaitan dengan kebiasaan penderita diabetes yang lebih sering menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula.
Ketika masing-masing pemanis dianalisis secara terpisah, enam di antaranya dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat, khususnya pada aspek memori. Keenam pemanis tersebut adalah aspartam, sakarin, acesulfame K, eritritol, sorbitol, dan xylitol. Sementara itu, tagatosa menjadi satu-satunya pemanis dalam penelitian yang tidak menunjukkan hubungan dengan penurunan fungsi otak.
Menurut Suemoto, hubungan tersebut ditemukan baik pada orang paruh baya dengan diabetes maupun tanpa diabetes. Namun, penderita diabetes memang lebih sering menggunakan pemanis buatan sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan hasil tersebut. Suemoto juga menilai penelitian berikutnya perlu mengevaluasi apakah alternatif pemanis lain, seperti saus apel, madu, sirup maple, atau gula kelapa, dapat menjadi pilihan yang lebih baik.
Para peneliti juga menekankan sejumlah keterbatasan penelitian. Tidak semua jenis pemanis yang beredar di pasaran dimasukkan dalam analisis sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh produk pengganti gula. Selain itu, data konsumsi makanan berasal dari laporan peserta sendiri sehingga masih memungkinkan adanya kesalahan dalam mengingat atau memperkirakan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Karena penelitian ini bersifat observasional, hasilnya tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Dengan kata lain, penelitian hanya menunjukkan adanya keterkaitan antara konsumsi pemanis yang lebih tinggi dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat, sementara faktor-faktor lain masih mungkin turut berperan dalam menjelaskan temuan tersebut.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa konsumsi beberapa jenis pemanis pengganti gula dalam jumlah tinggi berkaitan dengan penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat yang lebih cepat, terutama pada orang dewasa berusia di bawah 60 tahun dan penderita diabetes. Meskipun penelitian belum membuktikan bahwa pemanis menjadi penyebab langsung penurunan fungsi otak, hasil ini memberikan dasar bagi penelitian lanjutan untuk memahami dampak jangka panjang berbagai jenis pemanis terhadap kesehatan otak serta mengevaluasi alternatif pengganti gula yang lebih aman.
Diolah dari artikel:
“Popular sugar substitutes linked to faster brain aging” oleh American Academy of Neurology. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260717033213.htm