Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
23 Juli 2026 10.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [23.07.2026] Hiu Greenland merupakan vertebrata dengan umur terpanjang yang diketahui di Bumi. Beberapa hiu yang masih hidup saat ini diperkirakan telah berenang di lautan sejak masa Shakespeare, sementara perkiraan umur maksimalnya berada di antara 300 hingga 500 tahun.
Umur yang sangat panjang tersebut membuat hiu Greenland menjadi salah satu hewan paling misterius dalam ilmu biologi. Tubuhnya dapat bertahan selama berabad-abad, jantungnya terus bekerja meskipun dipenuhi bekas penuaan, dan penglihatannya tampaknya tetap berfungsi ketika banyak hewan lain mulai kehilangan fungsinya akibat usia.
Pada April 2026, seekor hiu Greenland ditemukan mati di pesisir County Sligo, Irlandia. Penemuan ini menjadi peristiwa luar biasa karena belum pernah ada catatan sebelumnya mengenai hiu Greenland yang terdampar di negara tersebut.
Tubuh hiu yang berwarna abu-abu kecokelatan itu memiliki panjang sekitar tiga meter. Berdasarkan ukurannya, para peneliti memperkirakan umurnya lebih dari 150 tahun.
Hiu tersebut kemungkinan lahir ketika Ratu Victoria masih memerintah Inggris dan Abraham Lincoln menjabat sebagai presiden Amerika Serikat. Pada masa itu, kapal layar bertiang tiga masih menyeberangi samudra dan mobil belum ditemukan.
Meskipun terlihat sangat tua berdasarkan ukuran kehidupan manusia, umur 150 tahun masih tergolong muda bagi hiu Greenland. Spesies hiu ini diperkirakan baru mencapai usia matang secara reproduktif.
Emilie De Loose, ahli biologi kelautan dari Irish Whale and Dolphin Group, menilai kematian tersebut sangat disayangkan karena hiu membutuhkan waktu sekitar 150 tahun untuk mencapai tahap reproduksi. Menurut De Loose, hiu yang terdampar mungkin belum sempat berkontribusi terhadap pemulihan populasinya.
Hiu Greenland mampu hidup sekitar empat abad, meskipun umur pastinya masih diperdebatkan. Beberapa perkiraan menempatkan batas kehidupannya pada sekitar 300 tahun, sedangkan perkiraan lain mencapai 500 tahun.
De Loose menggambarkan tim peneliti dan para relawan mereka terpukau ketika melihat hewan tersebut. Umurnya yang luar biasa membuat para peneliti membayangkan berbagai perubahan dunia yang mungkin pernah dilalui hiu tersebut.
Kematian hewan tersebut memang menjadi kehilangan bagi spesiesnya. Namun demikian terdamparnya hiu ini dan nekropsi yang dilakukan sesudahnya memberikan kesempatan langka untuk mempelajari hewan laut dalam yang masih diliputi banyak misteri.
Jasmine Stavenow Jerremalm, peneliti doktoral ekologi laut di University College Cork, ikut terlibat dalam nekropsi hiu tersebut. Menurut Stavenow Jerremalm, bekerja dengan hewan yang telah mati memberikan kedekatan khusus karena tubuhnya dapat mengungkap banyak informasi mengenai hiu dari spesies sama yang masih hidup.
Tantangan pertama adalah memindahkan tubuh hiu dari pantai menuju laboratorium. Hiu Greenland termasuk salah satu hiu terbesar di dunia dan dapat tumbuh hingga sekitar lima meter dan memiliki berat lebih dari 200 kilogram. Para peneliti menutupi tubuhnya menggunakan rumput laut agar tidak dirusak oleh burung camar atau hewan lain sebelum proses pemindahan dilakukan.
Nekropsi dimulai satu hari setelah pemindahan. Para peneliti dari berbagai lembaga menggunakan masker, sarung tangan, dan pakaian pelindung ketika memeriksa tubuh hiu di ruangan dengan ventilasi yang baik.
Stavenow Jerremalm menjelaskan bahwa kehati-hatian diperlukan ketika menangani hewan yang mungkin berusia beberapa ratus tahun. Tubuh tersebut berpotensi mengandung bakteri, virus, atau penyakit yang belum diketahui.
Karena penyebab kematian hiu belum dapat dipastikan, para peneliti harus mempertimbangkan kemungkinan adanya patogen yang dapat terpapar ketika tubuh dibedah. Prosedur keselamatan menjadi semakin penting karena organisme tersebut telah hidup dalam waktu yang sangat lama.
Hiu Greenland masih menyimpan berbagai pertanyaan mendasar. Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami bagaimana hewan tersebut dapat hidup selama berabad-abad maupun bagaimana banyak aspek kehidupan biologis dan ekologisnya berlangsung.
Lily Fogg, peneliti pascadoktoral bidang biologi evolusi di University of Basel, menjelaskan bahwa spesies hiu tersebut dikenal sebagai perenang lambat, hidup menyendiri, serta bertindak sebagai pemakan bangkai dan predator yang menangkap mangsa hidup seperti anjing laut. Hiu Greenland bahkan pernah diamati menyedot mangsanya menggunakan daya isap yang kuat. Mangsa dapat ditarik langsung ke dalam mulut dan ditelan secara utuh.
Menurut Fogg, kondisi perairan Arktik yang gelap mungkin memungkinkan hiu menyergap anjing laut yang sedang tidur atau beristirahat. Hiu juga mungkin memburu hewan yang sudah terluka atau terperangkap es.
Hiu Greenland hidup di Atlantik Utara dan perairan Arktik di sekitar Greenland, Kanada, serta Islandia. Tubuhnya mengembangkan sejumlah ciri khusus agar mampu bertahan dalam suhu yang sangat dingin.
Konsentrasi tinggi senyawa kimia di dalam tubuhnya bekerja sebagai zat antibeku alami. Namun, adaptasi tersebut juga menyebabkan daging hiu Greenland menjadi beracun apabila tidak diolah dengan benar.
Meskipun memiliki ukuran besar dan persebaran luas, spesies tersebut masih sangat sulit dipahami. Banyak aspek dasar mengenai biologi dan ekologinya belum diketahui.
Brynn Devine, ahli biologi laut dan ilmuwan perikanan Arktik dari organisasi konservasi Oceans North, menjelaskan bahwa minimnya informasi mengenai hiu Greenland sangat mengejutkan karena spesies tersebut tidak selalu langka di sebagian besar wilayah persebarannya.
Para ilmuwan masih belum mengetahui lokasi kawin maupun tempat kelahiran anak hiu Greenland. Sepanjang catatan penelitian, hanya satu betina hamil yang pernah diamati.
Karena data reproduksi sangat terbatas, jumlah anak dalam setiap kehamilan dan frekuensi reproduksi hiu Greenland juga belum dapat dipastikan.
Keterbatasan informasi tersebut membuat jumlah populasi hiu Greenland di seluruh dunia sulit diperkirakan. Para ilmuwan juga kesulitan menentukan kondisi populasinya serta tingkat ancaman yang berasal dari tangkapan sampingan perikanan.
Menurut Devine, perlindungan spesies menjadi sulit ketika lokasi habitat terpenting untuk kawin dan melahirkan belum diketahui. Ketidakpastian mengenai frekuensi reproduksi dan jumlah anak semakin memperbesar kesulitan tersebut.
Terdamparnya hiu di Irlandia ini menjadi kejadian pertama bagi spesies tersebut, meskipun pantai barat negara itu sering menerima berbagai hewan laut yang terdampar. Bentuk pesisir yang menjorok ke Atlantik dan terpaan badai membuat hewan laut mudah tersapu ke daratan.
De Loose memperkirakan hiu tersebut berusia sekitar 150 tahun dan mungkin mencapai 200 tahun apabila menggunakan perkiraan yang lebih luas. Namun, menurut ukuran kehidupan hiu Greenland, hiu itu baru saja mencapai kematangan.
Para peneliti memeriksa tubuhnya untuk menemukan luka atau sayatan yang mungkin disebabkan oleh jaring ikan. Pemeriksaan tidak menemukan tanda kerusakan semacam itu.
Kulit hiu kemudian dilepaskan secara hati-hati. Permukaannya dipenuhi struktur tajam menyerupai kait yang disebut dentikel.
Kulit tersebut saat ini disimpan dalam lemari pembeku untuk keperluan taksidermi. National Museum of Ireland berharap dapat memamerkan spesimen tersebut pada masa depan.
Amy Geraghty, kurator zoologi di National Museum of Ireland, Natural History, menjelaskan bahwa pameran tersebut dapat membantu pengunjung mempelajari salah satu spesies hiu paling misterius di dunia sekaligus memahami proses ilmiah yang diperlukan untuk menelitinya.
Setelah kulit dilepaskan, para peneliti membuka tubuh hiu dan menemukan hati yang sangat besar. Organ tersebut memiliki berat sekitar 50 kilogram.
Hati kemudian dipindahkan secara hati-hati ke dalam wadah baja besar untuk diperiksa. Seluruh organ diperiksa, diukur, ditimbang, dan diambil sampelnya sepanjang proses nekropsi.
Mata hiu juga dikeluarkan karena lensanya akan digunakan untuk penanggalan radiokarbon. Metode tersebut diharapkan dapat memberikan perkiraan umur hiu yang lebih akurat.
Penglihatan hiu Greenland selama ini menjadi sumber perdebatan. Spesies tersebut sering digambarkan memiliki kemampuan melihat yang sangat buruk atau bahkan mengalami kebutaan.
Anggapan tersebut muncul karena hiu Greenland berumur sangat panjang dan sering memiliki parasit kecil berbentuk rumbai yang menempel pada bagian depan matanya.
Namun, penelitian yang dipublikasikan pada 2026 oleh Fogg dan rekan-rekannya menemukan hasil yang berlawanan. Mata dan retina hiu Greenland ternyata tetap utuh serta sangat terspesialisasi untuk hidup dalam kondisi cahaya yang sangat redup.
Menurut Fogg, bahkan pada hiu yang berusia lebih dari satu abad, sel dan mesin molekuler yang dibutuhkan untuk melihat masih tersedia dan tampak sehat.
Sistem visual hiu Greenland menyerupai kamera untuk kondisi cahaya rendah. Adaptasi tersebut sesuai dengan kehidupannya di kedalaman Arktik yang gelap dan dingin.
Fogg menilai kemampuan jaringan mata untuk terus berfungsi selama berabad-abad sebagai sesuatu yang sangat mengagumkan. Sistem visual tersebut tampaknya memang dibangun untuk bertahan dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Parasit yang menggantung di depan mata ternyata tidak memberikan pengaruh besar terhadap kemampuan melihat hiu. Temuan tersebut semakin menantang asumsi lama mengenai kebutaan spesies ini.
Ketahanan penglihatan hiu Greenland sangat berbeda dibandingkan manusia. Penglihatan manusia cenderung mengalami kemunduran seiring bertambahnya usia, sedangkan pada hiu Greenland fungsi tersebut dapat tetap utuh lebih dari satu abad.
Fogg menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan kemungkinan adanya mekanisme biologis yang memperlambat atau melawan degenerasi akibat usia.
Salah satu penyebab ketahanan tersebut mungkin berada pada kemampuan hiu Greenland memperbaiki DNA yang rusak. Tim Fogg menemukan bahwa gen-gen yang terlibat dalam perbaikan DNA bekerja lebih aktif dibandingkan pada spesies hiu dengan umur lebih pendek.
Temuan tersebut menjadi penting karena kerusakan DNA dan kemampuan memperbaikinya sering dikaitkan dengan proses penuaan pada berbagai hewan.
Sampel jaringan otot dari hiu yang terdampar akan dikirim ke laboratorium untuk menjalani metode penentuan umur yang masih bersifat eksperimental. Metode tersebut menggunakan panjang telomer, yaitu bagian pelindung pada ujung rangkaian DNA.
Telomer umumnya memendek seiring bertambahnya usia dan paparan terhadap tekanan lingkungan. Pola tersebut mungkin membantu peneliti memperkirakan umur hiu Greenland secara lebih tepat.
Para peneliti kemudian membuka rongga dada untuk mengambil jantungnya. Menurut De Loose, organ tersebut tampak sehat dan memiliki ukuran yang sangat besar.
Jantung hiu memiliki berat sekitar 34 kilogram. Sebagai perbandingan, jantung manusia rata-rata hanya memiliki berat sekitar 300 gram.
Kemampuan jantung untuk terus berdetak selama berabad-abad menjadi pertanyaan penting. Penelitian terbaru terhadap jantung hiu Greenland menemukan adanya tanda penuaan umum seperti jaringan parut.
Meskipun menunjukkan bekas penuaan, jantung tersebut tampaknya tetap dapat berfungsi dengan baik. Temuan ini menunjukkan bahwa hiu Greenland memiliki ketahanan terhadap penanda penuaan yang pada manusia maupun hewan lain biasanya berhubungan dengan buruknya kesehatan jantung.
Para penulis penelitian mengenai jantung hiu Greenland menilai bahwa kemampuan organ untuk tetap bekerja meskipun dipenuhi tanda penuaan menunjukkan ketahanan biologis sebagai salah satu mekanisme utama yang memungkinkan umur ekstrem.
Nekropsi juga memberi kesempatan kepada Stavenow Jerremalm untuk mempelajari ciri unik lain yang telah berevolusi sesuai kebutuhan hidup hiu Greenland, termasuk kemampuannya memakan bangkai di dasar laut.
Menurut Stavenow Jerremalm, hiu Greenland akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk makan, bahkan ketika bangkai telah membusuk.
Gigi hiu tersebut sangat sesuai untuk merobek bagian tubuh bangkai. Gigi bagian atas berbentuk lurus dan sangat tajam, sedangkan gigi bagian bawah mengarah ke dua arah berbeda sehingga menyerupai gergaji.
Susunan tersebut menjadi adaptasi yang sangat efektif untuk menggigit dan memotong potongan besar dari bangkai yang ditemukan di dasar laut.
Lambung dan seluruh saluran pencernaan dikeluarkan secara utuh untuk dianalisis lebih lanjut. Ketika meraba lambung yang masih tertutup, para peneliti merasa organ tersebut tampak kosong. Akan tetapi katup spiral yang menjadi bagian dari usus terasa penuh. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hiu kemungkinan baru saja mencerna makanan.
Lambung kosong tidak selalu menjadi masalah bagi hiu Greenland karena kebutuhan energinya sangat rendah. Metabolisme lambat kemungkinan berkembang sebagai adaptasi terhadap lingkungan Arktik yang kekurangan sumber daya dan memiliki ketersediaan mangsa musiman.
Pemeriksaan juga menemukan salah satu testis hiu dalam kondisi terpuntir. Warna limpanya terlihat tidak biasa.
Meskipun terdapat beberapa kejanggalan, tubuh hiu secara umum tampak sehat. De Loose memperkirakan kemungkinan adanya penyakit yang tidak terlihat secara langsung.
Analisis lanjutan terhadap organ dan sampel mungkin akan memberikan petunjuk mengenai penyebab kematian. Sampai hasil tersebut tersedia, alasan hiu Greenland itu terdampar dan mati tetap menjadi misteri.
Menurut De Loose, kasus tersebut menimbulkan pertanyaan besar karena hiu itu memang sangat tua berdasarkan ukuran manusia, tetapi kemungkinan masih memiliki sebagian besar masa hidupnya sebagai hiu Greenland.
Terdamparnya hiu di Irlandia mengungkap paradoks kehidupan hiu Greenland: seekor hewan dapat berusia lebih dari 150 tahun tetapi baru saja mencapai kematangan, sementara tubuhnya masih memperlihatkan jantung yang berfungsi, penglihatan yang bertahan, dan sistem biologis yang mampu melawan kerusakan akibat usia. Nekropsi membuka petunjuk mengenai pola makan, metabolisme, penglihatan, perbaikan DNA, dan ketahanan organ spesies tersebut, tetapi penyebab kematiannya masih belum diketahui. Temuan ini menegaskan bahwa hiu Greenland merupakan salah satu vertebrata paling luar biasa sekaligus paling misterius di dunia, dan setiap spesimen memberikan kesempatan penting untuk memahami bagaimana kehidupan dapat bertahan selama berabad-abad.
Diolah dari artikel”
“‘We were all just in awe’: A stranding in Ireland sheds new light on the long, slow, ice-cold life of a deep-sea shark” oleh Sophie Hardach. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.bbc.com/future/article/20260717-the-shark-that-lives-for-centuries