Danau-Danau K’gari Pernah Mengering di Tengah Iklim Basah?

Sumber ilustrasi: Pixabay
22 Juli 2026 17.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

K’Desanomia [22.07.2026] K’gari merupakan sebuah pulau pasir terbesar di dunia dan memiliki sejumlah danau air tawar yang menjadi bagian penting dari bentang alamnya. Keberadaan danau-danau tersebut tampak relatif stabil karena sebagian telah bertahan selama puluhan ribu tahun. Akan tetapi, dalam penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahkan danau terbesar dan terdalam di K’gari tetap dapat menghilang ketika pola iklim berubah dengan cara tertentu.

Penelitian dari University of Adelaide menemukan bahwa beberapa danau di K’gari mengering sekitar 7.500 tahun lalu. Peristiwa tersebut berlangsung pada masa Holosen tengah, ribuan tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir, ketika kondisi iklim secara umum justru lebih basah dibandingkan sekarang.

Temuan ini mengejutkan karena danau biasanya mengering akibat kekurangan hujan. Bukti dari K’gari menunjukkan bahwa curah hujan tinggi tidak selalu menjamin keberlangsungan sebuah danau.

Pemimpin penelitian, Associate Professor John Tibby dari University of Adelaide, menjelaskan bahwa beberapa danau terdalam di K’gari mengering sekitar 7.500 tahun lalu ketika curah hujan sedang tinggi dan Zaman Es terakhir telah lama berakhir.

Mengeringnya danau bukan fenomena asing di Australia. Periode kekeringan panjang dapat menurunkan permukaan air secara drastis, seperti yang terjadi selama Kekeringan Milenium ketika sejumlah danau kehilangan pasokan air akibat curah hujan yang tidak mencukupi.

Danau-danau yang diteliti di K’gari telah bertahan selama sekitar 35.000 hingga 55.000 tahun. Menurut Tibby, peristiwa pengeringan yang ditemukan justru berlangsung ketika curah hujan sedang tinggi, sehingga penyebabnya tidak dapat dijelaskan hanya melalui jumlah hujan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan danau bergantung pada pola distribusi air, bukan semata-mata total curah hujan regional. Arah datangnya hujan, pola angin yang membawa kelembapan, serta bagian lanskap yang menerima air dapat menentukan apakah suatu danau tetap terisi atau justru mengering.

Dr. Harald Hofmann dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation atau CSIRO menduga bahwa pola angin kuno menjadi salah satu penyebab utama. Angin pasat tenggara pada masa itu kemungkinan mengarahkan hujan menuju Minjerribah, bukan K’gari.

Angin pasat merupakan aliran udara yang bertiup secara relatif tetap melintasi wilayah luas. Pola tersebut dapat menentukan tempat awan terbentuk, arah pergerakan kelembapan, dan lokasi utama jatuhnya hujan.

Menurut Hofmann, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Minjerribah juga mengalami curah hujan tinggi pada periode yang sama. Akan tetapi angin pasat tenggara membuat hujan dari selatan lebih banyak memasok danau-danau di Minjerribah, sementara danau di K’gari tidak memperoleh suplai air yang sama.

Kondisi tersebut menjelaskan bagaimana wilayah yang secara umum mengalami masa basah tetap dapat memiliki danau yang mengering. Hujan mungkin turun dalam jumlah besar, tetapi tidak jatuh pada cekungan danau atau sistem air tanah yang menopang K’gari.

Temuan tersebut juga memiliki arti penting bagi masa depan. Perubahan iklim diperkirakan membuat kondisi regional menjadi lebih kering, tetapi hujan yang turun dapat menjadi lebih intens dalam waktu singkat.

Hujan lebat tidak selalu berarti danau akan menerima lebih banyak air. Air dapat jatuh di lokasi yang berbeda, mengalir terlalu cepat di permukaan, atau gagal mengisi ulang sistem yang mempertahankan ketinggian air danau.

Untuk menemukan bukti pengeringan kuno, para peneliti mempelajari inti sedimen dari beberapa danau tertua di K’gari. Lapisan sedimen berfungsi sebagai arsip yang merekam perubahan lingkungan dalam jangka waktu sangat panjang.

Material seperti serbuk sari, pasir, sisa tumbuhan, dan bahan organik secara perlahan mengendap di dasar danau. Setiap lapisan menyimpan informasi mengenai vegetasi, erosi, curah hujan, serta kondisi perairan pada masa pembentukannya.

Tibby menjelaskan bahwa sedimen danau dapat dipahami seperti sebuah jurnal. Serbuk sari memberi petunjuk mengenai jenis tumbuhan di sekitar danau, sedangkan peningkatan jumlah pasir dapat menunjukkan bahwa erosi menuju cekungan danau sedang meningkat.

Penelitian menemukan adanya sedimen yang hilang dari beberapa danau tertua di K’gari selama periode antara 7.500 dan 5.500 tahun lalu. Ketiadaan lapisan tersebut menunjukkan bahwa sebagian cekungan tidak lagi tertutup air.

Tanpa genangan air, material yang biasanya mengendap di dasar danau tidak dapat membentuk lapisan sedimen. Dengan demikian, jeda sekitar 2.000 tahun dalam catatan tersebut menjadi bukti bahwa danau sempat menghilang atau mengalami penyusutan sangat besar.

Temuan ini tidak hanya memiliki nilai ilmiah. Bagi masyarakat Butchulla sebagai Pemilik Tradisional K’gari, danau-danau tersebut memiliki kedudukan budaya dan spiritual yang sangat penting.

Danau-danau K’gari dikenal sebagai Mata K’gari. Penulis penelitian sekaligus pria Butchulla, Conway Burns, menekankan bahwa perlindungan terhadap danau merupakan tanggung jawab lintas generasi.

Burns menjelaskan bahwa K’gari merupakan nama roh dalam kisah Dreaming yang membentuk pulau tersebut. Menurut Burns, danau-danau itu bukan sekadar kumpulan air, melainkan jendela menuju keabadian yang menyimpan ingatan, upacara, kebijaksanaan, dan hubungan dengan leluhur.

Burns juga menggambarkan pantulan langit dan hutan di permukaan danau sebagai bagian dari jiwa Country yang menatap kembali kepada manusia. Danau-danau tersebut dipahami membawa suara para leluhur serta orang-orang terkasih yang telah meninggal.

Menurut Burns, perairan tersebut bukan sesuatu yang dapat dimiliki, melainkan sesuatu yang harus dilindungi. Tanggung jawab itu mencakup menjaga keindahan, semangat, suara aliran air, dan Mata K’gari agar generasi mendatang tetap dapat merasakan hubungan serta penghormatan yang sama.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa danau terdalam di K’gari pernah mengering sekitar 7.500 tahun lalu meskipun wilayah tersebut berada dalam periode dengan curah hujan tinggi. Bukti dari sedimen danau memperlihatkan bahwa pola angin kemungkinan mengalihkan hujan menuju Minjerribah sehingga K’gari tidak menerima pasokan air yang diperlukan. Temuan ini menunjukkan bahwa kelangsungan danau tidak hanya bergantung pada jumlah hujan, tetapi juga pada arah angin, lokasi turunnya hujan, dan kemampuan lanskap menyimpan air. Dengan masa depan yang diperkirakan lebih kering namun disertai hujan lebih intens, perlindungan terhadap Mata K’gari menjadi semakin penting secara ekologis, budaya, dan spiritual.

Diolah dari artikel:
“Ancient mystery on K’gari as world’s largest sand island lakes dried up during rainy era” oleh University of Adelaide. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260719231654.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *