Oksigen di Laut dan Perairan Tawar Terus Menurun?

Sumber ilustrasi: Unsplash
21 Juli 2026 19.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [21.07.2026] Oksigen tidak hanya dibutuhkan oleh manusia dan hewan darat untuk bernapas. Di lautan, danau, sungai, aliran air, dan wilayah pesisir, oksigen terlarut menjadi unsur utama yang menjaga organisme tetap hidup sekaligus memungkinkan berbagai proses biologis dan kimia berlangsung secara normal. Namun demikian, jumlah oksigen dalam sistem perairan Bumi kini terus mengalami penurunan.

Sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang dipimpin oleh Scripps Institution of Oceanography di University of California, San Diego, memperingatkan bahwa oksigen menghilang dengan cepat dari lautan dan perairan tawar. Penurunan tersebut berpotensi mendorong planet menuju kondisi yang tidak aman, sementara sebagian dampaknya dapat bertahan selama berabad-abad dan sulit dipulihkan dalam rentang kehidupan manusia.

Fenomena tersebut dikenal sebagai deoksigenasi perairan, yaitu penurunan konsentrasi oksigen terlarut di lautan, perairan pesisir, sungai, danau, dan aliran air. Selama ini, deoksigenasi sering dipelajari sebagai persoalan lingkungan tersendiri. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa masalah tersebut berhubungan erat dengan berbagai perubahan besar lain yang sedang berlangsung di sistem Bumi.

Para peneliti menilai hubungan deoksigenasi dengan sembilan proses utama yang tercakup dalam kerangka Planetary Boundaries. Kerangka tersebut diperkenalkan pada 2009 untuk mengidentifikasi proses lingkungan yang dibutuhkan agar Bumi tetap stabil, tangguh, dan mampu menopang kehidupan.

Kerangka Planetary Boundaries juga digunakan untuk mengukur sejauh mana aktivitas manusia telah mendorong sistem-sistem penting tersebut keluar dari kondisi aman. Ketika suatu batas terlampaui, risiko terjadinya perubahan lingkungan yang luas, tidak menentu, dan sulit dipulihkan akan semakin meningkat.

Sembilan batas planet yang telah dikenal meliputi perubahan iklim, pengasaman laut, hilangnya keanekaragaman hayati, beban aerosol atmosfer, penipisan ozon stratosfer, perubahan air tawar, perubahan penggunaan lahan, pencemaran kimia, serta aliran biogeokimia yang mencakup siklus nitrogen. Para peneliti kini berpendapat bahwa kadar oksigen terlarut dalam sistem perairan juga perlu dimasukkan secara resmi ke dalam kerangka tersebut.

Penulis utama penelitian, Erica Ferrer, alumnus Scripps Oceanography dan peneliti pascadoktoral di National Center for Ecological Analysis and Synthesis, UC Santa Barbara, menjelaskan bahwa kesehatan serta kestabilan planet bergantung pada kondisi ekosistem perairan. Menurut Ferrer, ekosistem tersebut membutuhkan oksigen agar dapat berfungsi secara normal, sehingga deoksigenasi harus dipahami sebagai ancaman global yang berinteraksi dengan berbagai tekanan lingkungan lainnya.

Penurunan oksigen di perairan terutama didorong oleh pemanasan akibat aktivitas manusia, pencemaran nutrien yang berlebihan, serta perubahan sirkulasi dan ventilasi air di bagian yang lebih dalam. Ketiga faktor tersebut dapat bekerja secara bersamaan dan mempercepat hilangnya oksigen.

Air yang lebih hangat memiliki kemampuan lebih rendah untuk menyimpan oksigen terlarut. Pada saat yang sama, pemanasan dapat memperkuat pelapisan air sehingga menghambat percampuran antara lapisan permukaan yang kaya oksigen dan lapisan yang lebih dalam.

Pencemaran nutrien dari pupuk, limbah pertanian, dan buangan lain juga dapat memicu pertumbuhan alga secara berlebihan. Ketika alga tersebut mati dan diuraikan oleh mikroorganisme, proses penguraian menghabiskan oksigen dalam jumlah besar sehingga menciptakan wilayah dengan kadar oksigen sangat rendah.

Perubahan pergerakan dan ventilasi air dalam juga memperburuk kondisi tersebut. Ketika air kaya oksigen dari permukaan tidak lagi mencapai bagian yang lebih dalam secara efektif, oksigen yang telah digunakan oleh organisme dan proses kimia tidak dapat digantikan dengan cukup cepat.

Penurunan kadar oksigen dapat mengganggu berbagai proses biologis dan kimia yang membantu mengatur iklim Bumi. Dengan demikian, deoksigenasi bukan hanya ancaman bagi kehidupan di dalam air, tetapi juga berpotensi memengaruhi fungsi sistem planet secara lebih luas.

Organisme di seluruh jaring makanan perairan dapat terdampak, mulai dari mikroorganisme hingga ikan besar dan hiu. Spesies yang tidak mampu bertahan dalam kondisi rendah oksigen dapat mati, berpindah ke wilayah lain, atau mengalami penurunan kemampuan mencari makan dan bereproduksi.

Mamalia laut juga dapat mengalami dampak meskipun mengambil udara dari permukaan. Kehilangan oksigen dapat mengurangi jumlah mangsa, memindahkan persebaran sumber makanan, merusak habitat, serta mengubah jaring makanan yang menopang kehidupan paus, lumba-lumba, anjing laut, dan mamalia laut lainnya.

Gagasan untuk meninjau deoksigenasi melalui kerangka batas planet dikembangkan oleh Ferrer bersama Lisa Levin, ahli oseanografi biologi Scripps sekaligus penulis senior penelitian. Gagasan tersebut muncul setelah keduanya menghadiri COP25, Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diselenggarakan di Madrid pada 2019.

Para peneliti berharap temuan tersebut dapat mendorong ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk tidak lagi memperlakukan kehilangan oksigen perairan sebagai masalah terpisah. Deoksigenasi perlu dianalisis bersama perubahan iklim, pencemaran, penurunan keanekaragaman hayati, dan tekanan lain yang memengaruhi kestabilan planet.

Menurut Ferrer, memasukkan deoksigenasi perairan ke dalam kerangka Planetary Boundaries akan membantu memperjelas pengaruhnya terhadap kestabilan sistem Bumi. Pengurangan dampak kehilangan oksigen juga dinilai menjadi bagian penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati dan kestabilan iklim.

Ferrer menyelesaikan tinjauan tersebut ketika menjalani penelitian doktoral di Scripps. Penelitian memperoleh dukungan dari Graduate Research Fellowship Program milik National Science Foundation, pendanaan pascasarjana dari Scripps dan UC San Diego, serta dukungan pascadoktoral dari UC Santa Cruz dan UC Santa Barbara.

Studi tersebut dipublikasikan pada 30 Juni 2026 dalam jurnal Limnology and Oceanography. Penulis lainnya mencakup empat mantan mahasiswa doktoral Scripps, yaitu Shailja Gangrade, Lillian McCormick, Ariel Pezner, dan Yassir Eddebbar, yang kini menjadi ilmuwan iklim di Scripps.

Kontributor lain dalam penelitian tersebut adalah De’Marcus Robinson dari UCLA, Véronique Carcon dari Institut de Physique du Globe de Paris, serta Kevin Rose dari Rensselaer Polytechnic Institute. Kolaborasi tersebut mempertemukan para peneliti dari berbagai lembaga untuk memahami deoksigenasi sebagai ancaman terhadap sistem Bumi.

Penurunan oksigen di lautan dan perairan tawar menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak berlangsung secara terpisah. Pemanasan, pencemaran nutrien, dan perubahan sirkulasi air secara bersama-sama mengurangi oksigen yang dibutuhkan ekosistem, mengancam jaring makanan, merusak habitat, dan mengganggu proses yang membantu menstabilkan iklim. Dengan memasukkan deoksigenasi ke dalam kerangka batas planet, para ilmuwan berharap ancaman tersebut dapat dipahami dan ditangani sebagai bagian penting dari upaya menjaga keanekaragaman hayati serta kestabilan Bumi.

Diolah dari artikel:
“Earth’s waters are quietly running out of oxygen, scientists warn” oleh University of California, San Diego. Naskah asli ditulis oleh Brittany Hook. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260719035939.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *