Sumber ilustrasi: Unsplash
23 Juli 2026 15.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [23.07.2026] Kepunahan massal pada akhir periode Trias, sekitar 201 juta tahun lalu, merupakan salah satu perubahan lingkungan terbesar dalam sejarah Bumi. Peristiwa tersebut dikaitkan dengan letusan gunung berapi raksasa yang terjadi ketika superbenua Pangea mulai terpecah. Letusan tersebut melepaskan karbon dioksida dalam jumlah sangat besar ke atmosfer sehingga meningkatkan suhu global sekitar 5 hingga 10 derajat Celsius. Dampaknya, ekosistem daratan mengalami perubahan drastis dan banyak hutan purba runtuh.
Selama ini pakis umumnya dipandang sebagai tumbuhan yang berkembang setelah gangguan lingkungan karena mampu tumbuh cepat pada lahan yang rusak. Akan tetapi, penelitian terbaru yang dipimpin Utrecht University menunjukkan bahwa pakis mungkin bukan hanya menjadi “penumpang” dari bencana tersebut. Pakis diduga berperan aktif dalam mempertahankan siklus kebakaran hutan yang berlangsung sangat lama setelah kepunahan massal terjadi.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience mengungkap bahwa kawasan luas di wilayah yang kini menjadi Eropa Barat Laut berubah menjadi bentang alam menyerupai sabana yang didominasi pakis. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang sangat mudah terbakar sehingga memperpanjang kerusakan ekosistem selama puluhan hingga ratusan ribu tahun.
Untuk menyelidiki kondisi tersebut, para peneliti mempelajari sedimen yang terawetkan dengan sangat baik dari empat inti pengeboran, termasuk inti sedimen sepanjang 640 meter yang baru diperoleh dari Inggris. Sedimen tersebut menyimpan catatan lingkungan yang terbentuk selama jutaan tahun sehingga memungkinkan rekonstruksi kondisi kebakaran purba.
Tim peneliti kemudian mengukur kandungan arang fosil dan senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), yaitu senyawa organik yang dihasilkan oleh asap kebakaran hutan. Kedua indikator tersebut dipadukan dengan analisis serbuk sari dan spora fosil untuk mengetahui bagaimana vegetasi berubah sepanjang periode kepunahan.
Analisis memperlihatkan adanya lonjakan besar aktivitas kebakaran hutan yang berlangsung bersamaan dengan meluasnya dominasi pakis. Akan tetapi, para peneliti menyadari bahwa arang maupun PAH memiliki keterbatasan sebagai indikator. Arang dapat pecah menjadi fragmen yang lebih kecil sehingga jumlah kebakaran dapat terlihat lebih besar dari kenyataannya, sementara PAH mampu berpindah jauh dari lokasi asal kebakaran dan sebagian molekulnya dapat rusak selama proses geologi.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim mengembangkan pendekatan baru dengan menganalisis perubahan warna mikrofosil organik. Penulis senior penelitian, Dr. Bas van de Schootbrugge dari Utrecht University, menjelaskan bahwa kebaruan penelitian ini berasal dari penggunaan teknik sederhana dan berbiaya rendah yang mengukur tingkat kegelapan serbuk sari dan spora fosil melalui metode yang disebut Palynomorph Darkness Index.
Dalam kondisi normal, mikrofosil organik akan semakin gelap seiring semakin dalam sedimen terkubur karena tekanan dan suhu meningkat secara bertahap. Namun, pola yang ditemukan dalam penelitian ini ternyata sangat berbeda dari yang diharapkan.
Serbuk sari dan spora yang berasal dari lapisan paling tua dan terdalam justru tetap berwarna terang. Sebaliknya, fosil yang berasal dari interval kepunahan berubah menjadi semakin gelap hingga mencapai warna cokelat tua. Setelah periode kepunahan berakhir, warna fosil kembali menjadi kuning pucat.
Van de Schootbrugge menjelaskan bahwa pola tersebut sangat mengejutkan karena muncul secara serempak pada keempat inti sedimen, padahal masing-masing cekungan memiliki sejarah geologi yang berbeda. Kesamaan waktu tersebut menunjukkan bahwa perubahan warna bukan disebabkan oleh proses penguburan sedimen, melainkan oleh faktor lingkungan berskala regional.
Palynomorph Darkness Index sendiri bekerja dengan menggunakan spektrum warna RGB. Kamera yang dipasang pada mikroskop cahaya merekam warna fosil, kemudian perangkat lunak mengubahnya menjadi nilai rata-rata skala abu-abu sehingga sampel dari berbagai lapisan maupun lokasi dapat dibandingkan secara kuantitatif.
Sebanyak 15.000 pengukuran dilakukan terhadap serbuk sari dan spora tumbuhan yang hidup sebelum, selama, dan sesudah kepunahan massal. Para peneliti juga membandingkan serbuk sari pohon dengan spora pakis untuk memastikan bahwa perubahan warna tidak berasal dari perbedaan biologis antarkelompok tumbuhan.
Seluruh kelompok tumbuhan menunjukkan pola penggelapan yang sama. Temuan tersebut menjadi indikasi kuat bahwa penyebabnya berasal dari faktor eksternal yang memengaruhi seluruh lingkungan.
Ketika hasil tersebut dibandingkan dengan jumlah arang fosil dan konsentrasi PAH, muncul hubungan yang sangat konsisten. Zona yang mengalami penggelapan ekstrem ternyata bertepatan dengan periode lonjakan pakis, peningkatan kebakaran hutan, dan fase utama kepunahan massal.
Para peneliti kemudian menelaah mengapa pakis dapat berkembang sangat cepat pada masa tersebut. Kombinasi penggundulan hutan, erosi tanah, pemanasan rumah kaca yang ekstrem, dan kebakaran hutan berulang diduga menciptakan kondisi ideal bagi pakis untuk mendominasi bentang alam.
Van de Schootbrugge menjelaskan bahwa pakis merupakan kelompok tumbuhan yang sangat tangguh karena telah mampu bertahan menghadapi berbagai krisis sepanjang sejarah Bumi. Beberapa spesies bahkan mampu hidup pada lingkungan yang sangat ekstrem sehingga layak disebut sebagai spesies bencana.
Keunggulan utama pakis terletak pada kemampuannya tumbuh sangat cepat di lahan yang rusak. Setelah kebakaran terjadi, bagian atas tumbuhan memang hangus terbakar, tetapi sistem akar yang berada di bawah permukaan tetap hidup sehingga mampu menghasilkan tunas baru jauh lebih cepat dibandingkan tumbuhan lain.
Kemampuan tersebut memungkinkan pakis mengambil alih wilayah yang sebelumnya didominasi hutan. Para peneliti memperkirakan periode dominasi pakis berlangsung sedikitnya selama 40.000 tahun dan mungkin mencapai sekitar 300.000 tahun.
Menurut Van de Schootbrugge, ketika hamparan pakis mulai mengering, lapisan tumbuhan tersebut berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar. Sabana pakis yang luas menyediakan sumber bahan bakar berlimpah sehingga kebakaran hutan dapat terjadi berulang kali dalam skala yang sangat besar.
Sebagian spesies pakis bahkan diduga berfungsi sebagai “tangga api” yang membantu kobaran menjalar ke berbagai bagian bentang alam, sekaligus menekan pertumbuhan vegetasi lain sehingga semakin memperkuat dominasi pakis.
Kondisi tersebut menciptakan sebuah siklus umpan balik yang merusak. Pemanasan iklim menyebabkan hutan runtuh, pakis kemudian mengambil alih kawasan terbuka, hamparan pakis kering menjadi bahan bakar kebakaran berikutnya, dan setelah api padam pakis kembali tumbuh dengan cepat. Siklus tersebut terus berulang selama ribuan hingga ratusan ribu tahun.
Van de Schootbrugge menilai bahwa pelajaran penting dari penelitian ini adalah kombinasi perubahan iklim, penggundulan hutan, dan penyebaran spesies oportunis mampu menciptakan kondisi yang sangat ideal bagi terjadinya bencana lingkungan berskala besar.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pakis kemungkinan bukan sekadar tumbuhan yang bertahan setelah kepunahan massal akhir Trias, tetapi juga berkontribusi mempertahankan siklus kebakaran hutan melalui kemampuan tumbuh kembali dengan cepat dan menghasilkan bahan bakar baru bagi api. Temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai bagaimana perubahan vegetasi dapat memperkuat dampak perubahan iklim dalam jangka sangat panjang sekaligus menjadi pengingat bahwa interaksi antara pemanasan global, hilangnya hutan, dan spesies oportunis dapat menciptakan rangkaian bencana yang saling memperkuat.
Diolah dari artikel:
“Ancient ferns turned Triassic Europe into a wildfire inferno” oleh Utrecht University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260722032105.htm