Sumber ilustrasi: Pixabay
28 Juli 2026 16.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [28.07.2026] Sauna merupakan bagian dari budaya masyarakat Finlandia dan selama bertahun-tahun dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari kesehatan jantung hingga penurunan risiko beberapa penyakit kronis. Meskipun demikian, mekanisme biologis yang mendasari manfaat tersebut masih terus diteliti. Salah satu pertanyaan yang masih belum sepenuhnya terjawab adalah bagaimana paparan panas sauna memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia.
Sebuah penelitian terbaru dari University of Eastern Finland memberikan petunjuk baru mengenai pertanyaan tersebut. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Temperature menemukan bahwa hanya satu sesi sauna selama 30 menit mampu meningkatkan jumlah seluruh jenis sel darah putih yang beredar di dalam aliran darah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sauna dapat memicu respons sementara dari sistem kekebalan tubuh, meskipun dampak jangka panjangnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Penelitian melibatkan 51 orang dewasa dengan usia rata-rata sekitar 50 tahun. Seluruh peserta menjalani sesi sauna selama 30 menit dengan jeda singkat berupa mandi air dingin di pertengahan sesi. Para peneliti kemudian mengukur berbagai parameter kekebalan sebelum dan sesudah sauna untuk melihat bagaimana tubuh merespons perubahan suhu tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh jenis sel darah putih mengalami peningkatan jumlah di dalam sirkulasi darah setelah sesi sauna selesai. Sel darah putih merupakan komponen utama sistem imun yang bertugas mengenali, menyerang, dan membantu tubuh melawan berbagai patogen penyebab penyakit.
Dua jenis sel darah putih yang mengalami peningkatan adalah neutrofil dan limfosit. Neutrofil merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi bakteri, sedangkan limfosit berperan penting dalam pembentukan respons imun spesifik terhadap virus maupun patogen lainnya.
Para peneliti juga menemukan bahwa peningkatan tersebut hanya bersifat sementara. Dalam waktu sekitar 30 menit setelah sesi sauna berakhir, kadar neutrofil dan limfosit kembali ke tingkat normal sebagaimana sebelum sauna dilakukan.
Ilkka Heinonen, Academy Research Fellow di University of Turku, menjelaskan bahwa sauna kemungkinan memobilisasi sel-sel darah putih dari berbagai jaringan tubuh menuju aliran darah. Setelah sesi selesai, sel-sel tersebut kembali menuju jaringan penyimpanannya. Menurut Heinonen, pelepasan sementara seperti itu memungkinkan sel-sel imun melakukan pengawasan ke seluruh tubuh secara lebih efektif sehingga meningkatkan kesiapsiagaan terhadap patogen.
Fenomena tersebut ternyata memiliki kemiripan dengan respons tubuh saat melakukan olahraga. Aktivitas fisik juga diketahui dapat mengirim lebih banyak sel darah putih ke dalam sirkulasi darah sehingga meningkatkan kemampuan sistem imun untuk mendeteksi ancaman biologis dalam waktu singkat.
Selain menghitung jumlah sel darah putih, para peneliti turut mengukur berbagai sitokin. Sitokin merupakan molekul pemberi sinyal yang berfungsi mengatur komunikasi antar sel sistem kekebalan sehingga respons imun dapat berlangsung secara terkoordinasi.
Secara umum, perubahan kadar sitokin yang diamati relatif kecil. Akan tetapi analisis lebih rinci menunjukkan bahwa beberapa jenis sitokin mengalami perubahan yang berkaitan dengan besarnya peningkatan suhu tubuh selama sauna berlangsung.
Profesor Jari Laukkanen dari University of Eastern Finland, yang memimpin penelitian tersebut, menjelaskan bahwa hubungan antara kenaikan suhu tubuh dan perubahan sitokin cukup jelas terlihat. Sebaliknya, hubungan serupa tidak ditemukan antara perubahan suhu tubuh dengan peningkatan jumlah sel darah putih, sehingga kedua respons tersebut kemungkinan dikendalikan melalui mekanisme biologis yang berbeda.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa tubuh tidak hanya merespons panas dengan mengubah jumlah sel imun yang beredar, tetapi juga mengubah sebagian sistem komunikasi antar sel kekebalan. Kompleksitas respons tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa sauna selama ini sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian ini hanya mengamati efek langsung dari satu sesi sauna dan belum dapat memastikan apakah penggunaan sauna secara rutin dapat menghasilkan perubahan permanen pada sistem kekebalan atau memberikan manfaat kesehatan jangka panjang melalui mekanisme yang sama.
Para peneliti berharap penelitian lanjutan dapat menjelaskan apakah mobilisasi sementara sel darah putih yang diamati setelah sauna benar-benar berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan tubuh melawan infeksi maupun penyakit lainnya apabila dilakukan secara rutin dalam jangka panjang.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa satu sesi sauna selama 30 menit dapat meningkatkan sementara jumlah seluruh jenis sel darah putih yang beredar dalam aliran darah, sekaligus memengaruhi beberapa molekul pengatur respons imun. Meskipun perubahan tersebut kembali normal dalam waktu singkat dan manfaat jangka panjangnya masih belum diketahui, penelitian ini memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana sauna dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut mengenai mekanisme biologis di balik manfaat kesehatan yang selama ini dikaitkan dengan kebiasaan sauna.
Diolah dari artikel:
“A single sauna session sends immune cells surging” oleh University of Eastern Finland. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260727012141.htm