Sumber ilustrasi: Unsplash
28 Juli 2026 12.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [28.07.2026] Serangga merupakan kelompok hewan yang berhasil menguasai hampir seluruh habitat daratan dan perairan tawar di Bumi. Terdapat satu pertanyaan telah lama menjadi perhatian para ilmuwan: mengapa hampir tidak ada serangga yang berhasil beradaptasi dan hidup di lautan terbuka? Salah satu penjelasan yang paling banyak diterima menyebutkan bahwa tekanan air di laut dalam akan menghancurkan kantung udara yang digunakan serangga untuk bernapas.
Penelitian terbaru dari University of British Columbia justru memberikan sudut pandang baru terhadap hipotesis tersebut. Studi ini menemukan bahwa larva lalat danau (Chaoborus edulis) yang hidup di Danau Malawi, Afrika Timur, memiliki sistem kantung udara yang mampu bertahan terhadap tekanan air yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.
Danau Malawi menjadi habitat bagi miliaran larva lalat danau yang setiap hari melakukan migrasi vertikal dalam jumlah sangat besar. Pada siang hari, larva-larva tersebut menyelam hingga lebih dari 200 meter menuju bagian danau yang memiliki kandungan oksigen sangat rendah.
Wilayah dengan kadar oksigen rendah tersebut sering disebut sebagai “dead zone”. Meskipun kondisi tersebut sulit dihuni sebagian besar hewan, kawasan itu justru menjadi tempat perlindungan bagi larva karena banyak predator tidak mampu bertahan di sana.
Setelah matahari terbenam, larva kembali naik menuju permukaan untuk mencari makan. Selama perjalanan tersebut, larva harus melewati kumpulan ikan yang telah menunggu untuk memangsa mereka.
Philip Matthews dan Evan McKenzie dari University of British Columbia mengamati migrasi harian tersebut menggunakan sistem sonar yang dipasang di dasar Danau Malawi. Perangkat tersebut memungkinkan para peneliti mengikuti pergerakan kawanan larva secara langsung ketika bergerak naik maupun turun di dalam kolom air.
Pemeriksaan terhadap tubuh larva menunjukkan adanya adaptasi yang tidak biasa pada sistem pernapasan mereka. Para peneliti menemukan bahwa sebagian sistem pernapasan telah berkembang menjadi dua pasang kantung udara kecil yang berfungsi sebagai pengatur daya apung.
Mekanisme tersebut bekerja dengan prinsip yang sangat mirip dengan tangki ballast pada kapal selam. Dengan memperbesar atau memperkecil volume kantung udara, larva dapat mengatur apakah tubuhnya akan naik ke permukaan atau tenggelam ke dasar danau. Dinding kantung udara tersusun dari resilin, yaitu material biologis yang sangat elastis dan dikenal memiliki sifat menyerupai karet alami.
Penelitian juga menunjukkan bahwa larva mampu mengubah tingkat keasaman atau pH pada dinding kantung udara. Perubahan pH tersebut membuat resilin mengembang maupun menyusut sehingga volume kantung udara ikut berubah. Kemampuan tersebut memungkinkan larva mengendalikan posisi tubuhnya di dalam air secara sangat presisi tanpa harus terus-menerus menggunakan tenaga untuk berenang.
Untuk mengetahui batas kemampuan sistem tersebut, para peneliti menempatkan larva ke dalam ruang tekanan berukuran kecil yang dapat mensimulasikan tekanan air pada berbagai kedalaman.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kantung udara tetap bertahan pada tekanan yang setara dengan kedalaman lebih dari 400 meter. Angka tersebut jauh melampaui kedalaman sekitar 200 meter yang biasa dicapai larva selama migrasi hariannya.
Temuan tersebut menjadi sangat penting karena menantang salah satu penjelasan utama mengenai tidak ditemukannya serangga di lautan terbuka.
Tekanan air dipandang sebagai hambatan utama karena diperkirakan akan menyebabkan ruang udara pada tubuh serangga runtuh ketika berada di kedalaman tinggi. Kemampuan kantung udara larva Chaoborus edulis bertahan terhadap tekanan ekstrem menunjukkan bahwa tekanan air saja kemungkinan tidak cukup untuk menjelaskan mengapa serangga tidak berevolusi menjadi penghuni samudra.
Penelitian ini juga memberikan peluang baru dalam pengembangan ilmu material. Resilin menarik perhatian ilmuwan karena memiliki elastisitas yang sangat tinggi serta mampu mengalami pembengkokan berulang tanpa kehilangan sifat mekaniknya.
Material tersebut digunakan oleh berbagai jenis serangga untuk membentuk struktur seperti engsel sayap dan tendon yang harus bekerja secara berulang selama hidupnya. Menurut para peneliti, mekanisme pengaturan daya apung yang ditemukan pada larva Danau Malawi dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan material pintar berbasis resilin.
Material semacam itu berpotensi digunakan untuk menciptakan otot buatan maupun bahan adaptif yang mampu berubah bentuk ketika dipicu oleh perubahan tingkat keasaman.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa larva Chaoborus edulis memiliki sistem kantung udara berbahan resilin yang mampu bertahan pada tekanan setara kedalaman lebih dari 400 meter, jauh melebihi kedalaman migrasi hariannya. Temuan tersebut menantang anggapan bahwa tekanan air merupakan penyebab utama serangga tidak menghuni lautan terbuka sekaligus membuka peluang baru untuk memahami evolusi serangga serta mengembangkan material biologis cerdas yang meniru mekanisme pengaturan daya apung alami.
Diolah dari artikel:
“These insect submariners survive depths that should crush them” oleh University of British Columbia. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260726015241.htm