Air Berkarbonasi Tanpa Gula Lebih Aman bagi Gigi daripada Soda?

Sumber ilustrasi: Magnific
28 Juli 2026 11.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [28.07.2026] Air berkarbonasi semakin sering dipilih sebagai pengganti soda karena memberikan sensasi gelembung tanpa tambahan gula. Namun demikian kekhawatiran tetap muncul karena minuman berkarbonasi memiliki tingkat keasaman yang dapat memengaruhi kesehatan gigi.

Enamel gigi mulai berisiko mengalami pelarutan ketika pH di dalam mulut turun hingga di bawah sekitar 5,5. Karena itu, perubahan tingkat keasaman setelah mengonsumsi minuman menjadi salah satu faktor penting dalam menilai kemungkinan terjadinya erosi gigi.

Penelitian pendahuluan terbaru menunjukkan bahwa air berkarbonasi tanpa pemanis memang dapat menurunkan pH mulut untuk sementara. Penurunannya jauh lebih ringan dibandingkan pengaruh soda bergula.

Temuan tersebut dipresentasikan dalam NUTRITION 2026, pertemuan tahunan American Society for Nutrition yang diselenggarakan pada 25 hingga 28 Juli di National Harbor, Maryland.

Wajiha Zulfiqar, mahasiswa pascasarjana bidang Ilmu Gizi di Purdue University, menjelaskan bahwa banyak orang kini beralih dari soda menuju air berkarbonasi. Menurut Zulfiqar, air berkarbonasi tanpa pemanis dapat menjadi alternatif dengan risiko lebih rendah apabila dikonsumsi secara wajar dan disertai kebersihan mulut yang baik.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa soda bergula dapat meningkatkan risiko erosi gigi karena mampu menurunkan pH mulut hingga melewati batas 5,5. Sebaliknya, dampak air berkarbonasi tanpa pemanis terhadap kondisi mulut masih belum banyak diteliti secara langsung.

Untuk memahami perbedaannya, para peneliti membandingkan empat jenis minuman, yaitu soda bergula, air berkarbonasi biasa, air berkarbonasi yang diperkaya kalsium, dan air putih.

Penelitian ini melibatkan 20 orang dewasa. Setiap peserta mengonsumsi seluruh jenis minuman sehingga perbedaan alami antarindividu dapat dikurangi dalam analisis. Para peneliti tidak hanya mengukur tingkat keasaman minuman. Tim juga mengukur pH air liur setelah konsumsi untuk mengetahui bagaimana mulut merespons secara langsung.

Pendekatan tersebut dianggap lebih realistis karena kondisi gigi tidak hanya dipengaruhi oleh pH minuman, tetapi juga oleh kemampuan air liur menetralkan keasaman.

Zulfiqar menjelaskan bahwa penggunaan kerangka eksperimen yang sama memungkinkan tim membandingkan air berkarbonasi dengan soda sebagai minuman berisiko lebih tinggi dan air putih sebagai acuan netral.

Menurut Zulfiqar, pengukuran secara waktu nyata juga memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan penelitian yang hanya menguji keasaman minuman di luar mulut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa soda menghasilkan peningkatan keasaman paling besar di antara seluruh minuman yang diuji. pH air liur setelah konsumsi soda tercatat jauh lebih rendah dibandingkan setelah meminum air putih, baik pada menit kedua maupun menit ke-20.

Air berkarbonasi biasa tanpa pemanis juga menurunkan pH air liur, tetapi hanya untuk sementara. Penurunan paling jelas terjadi sekitar dua menit setelah konsumsi. Air berkarbonasi yang diperkaya kalsium menghasilkan penurunan pH sekitar lima menit setelah diminum.

Pada kedua jenis air berkarbonasi tersebut, pH air liur kembali mendekati tingkat awal dalam waktu sekitar 20 menit. Kemampuan air liur memulihkan kondisi tersebut menunjukkan adanya sistem perlindungan alami di dalam mulut. Air liur membantu menetralkan asam dan mengurangi lamanya enamel terpapar lingkungan yang dapat menyebabkan pelarutan mineral.

Dalam penelitian ini, pH setelah konsumsi air berkarbonasi maupun soda tetap berada di atas ambang yang secara umum dikaitkan dengan kerusakan enamel dalam jangka pendek.

Para peneliti menekankan bahwa eksperimen hanya mengamati perubahan pH dalam waktu singkat. Risiko erosi gigi dalam kehidupan sehari-hari juga dipengaruhi oleh frekuensi konsumsi, durasi kontak minuman dengan gigi, dan keberadaan gula.

Seseorang yang meminum air berkarbonasi sedikit demi sedikit sepanjang hari dapat mengalami paparan asam lebih lama dibandingkan orang yang mengonsumsinya sekaligus.

Kandungan gula juga menjadi pembeda penting karena bakteri di dalam mulut dapat mengubah gula menjadi asam tambahan.

Karena alasan tersebut, air berkarbonasi tanpa pemanis dinilai lebih aman dibandingkan soda bergula, tetapi bukan berarti sepenuhnya bebas risiko.

Zulfiqar menjelaskan bahwa mengganti soda bergula dengan air berkarbonasi tanpa pemanis berpotensi menurunkan risiko erosi enamel. Menurutnya, temuan tersebut juga dapat mendorong industri minuman mengembangkan formulasi baru yang lebih sedikit bersifat erosif.

Penambahan mineral tertentu, pengaturan tingkat keasaman, atau perubahan komposisi dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.

Tim peneliti selanjutnya berencana mempelajari efek jangka panjang air berkarbonasi terhadap kesehatan mulut. Penelitian berikutnya juga dapat menilai pengaruhnya terhadap kondisi gusi, mikrobioma mulut, remineralisasi enamel, dan karakteristik air liur.

Penelitian tersebut belum menyelesaikan proses tinjauan sejawat yang umumnya diperlukan sebelum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah sehingga hasilnya masih harus dipandang sebagai temuan pendahuluan dan belum menjadi kesimpulan final mengenai seluruh dampak air berkarbonasi terhadap gigi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa air berkarbonasi tanpa pemanis hanya menurunkan pH mulut untuk sementara dan tidak menghasilkan peningkatan keasaman sebesar soda bergula. Air liur mampu mengembalikan kondisi mulut mendekati normal dalam waktu sekitar 20 menit, sementara pH tetap berada di atas batas yang berkaitan dengan kerusakan enamel dalam pengamatan jangka pendek. Meskipun frekuensi konsumsi, durasi paparan, dan kandungan gula tetap perlu diperhatikan, mengganti soda bergula dengan air berkarbonasi tanpa pemanis dapat menjadi pilihan yang lebih ramah bagi gigi.

Diolah dari artikel:
“Scientists reveal what sparkling water really does to your teeth” oleh American Society for Nutrition. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260727012126.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *