Sumber ilustrasi: Unsplash
11 Agustus 2026 12.20 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [11.08.2026] Anjing sering disebut sebagai sahabat terbaik manusia. Hubungan tersebut bukan sekadar hasil kedekatan yang berkembang dalam beberapa abad terakhir. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia dan anjing telah hidup berdampingan selama ribuan tahun. Anjing bahkan ditemukan dikuburkan bersama manusia dalam makam yang berusia sekitar 14.000 tahun, menunjukkan bahwa hubungan keduanya telah memiliki makna sosial dan emosional sejak masa prasejarah.
Jejak hubungan tersebut juga muncul dalam karya seni kuno dari berbagai benua serta dalam mitologi, agama, dan cerita rakyat banyak kebudayaan. Sepanjang sejarah, anjing berburu bersama manusia, menjaga permukiman, membawa barang, membantu mengelola ternak, menarik kereta luncur, sekaligus menjadi hewan pendamping.
Saat ini jumlah anjing yang hidup bersama manusia lebih besar dibandingkan periode sebelumnya. Dalam proses yang berlangsung ribuan tahun, manusia juga menghasilkan ratusan jenis anjing dengan ukuran dan karakteristik yang sangat berbeda, mulai dari Chihuahua yang sangat kecil hingga Great Dane yang tingginya dapat mencapai pinggang manusia.
Keragaman tersebut memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana satu kelompok hewan dapat berkembang menjadi begitu beragam hanya dalam sekitar 15.000 tahun hidup bersama manusia. Arkeolog Profesor Peter Mitchell mencoba menjelaskan perjalanan tersebut melalui bukunya, First Dogs: Hunter-Gatherers and their Canine Companions from Prehistory to the Present.
Mitchell memandang domestikasi anjing bukan sebagai satu peristiwa ketika manusia menangkap serigala kemudian mengendalikannya. Proses tersebut kemungkinan berlangsung panjang, bertahap, dan melibatkan hubungan timbal balik antara manusia dengan nenek moyang anjing.
Menurut Mitchell, manusia dan serigala pada tahap awal kemungkinan memasuki hubungan sebagai dua pihak yang relatif setara. Komunitas pemburu-pengumpul memiliki posisi penting dalam perkembangan hubungan tersebut, jauh sebelum manusia mulai mendomestikasi tumbuhan dan hewan lainnya secara lebih intensif.
Mitchell menjelaskan bahwa hubungan antara anjing dan kelompok manusia yang menggantungkan kehidupannya pada tumbuhan serta hewan liar merupakan hubungan yang sangat tua, beragam, dan mendalam. Ketika hubungan tersebut berkembang di berbagai tempat, anjing mulai memperoleh karakteristik yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat yang hidup bersama mereka.
Proses tersebut menghasilkan bentuk adaptasi yang sangat berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain. Di daerah Arktik yang dingin, anjing berkembang menjadi bertubuh relatif kompak dan memiliki bulu tebal. Sebaliknya, anjing pemburu di wilayah dekat khatulistiwa cenderung memiliki tubuh lebih ramping dan lebih mampu menghadapi suhu panas.
Salah satu contoh paling menarik ditemukan di Dataran Tinggi Tibet. Anjing yang hidup di wilayah tersebut memiliki varian genetik yang memungkinkan tubuh bekerja dalam lingkungan berkadar oksigen rendah, suatu kondisi yang akan menjadi tantangan berat bagi banyak ras anjing dari dataran rendah.
Adaptasi tersebut memiliki kemiripan dengan perubahan genetik pada manusia yang tinggal di wilayah Tibet. Manusia dan anjing dengan demikian menghadapi tekanan lingkungan yang sama dan mengembangkan solusi biologis yang serupa untuk bertahan hidup di dataran tinggi.
Mitchell menjelaskan bahwa belum diketahui kapan anjing pertama kali mengikuti manusia memasuki wilayah tersebut. Varian genetik yang diperlukan untuk hidup di dataran tinggi mungkin diperoleh dengan cepat, tetapi sebelum adaptasi itu berkembang, kondisi hipoksia kemungkinan menjadi pembatas penting terhadap keberadaan anjing.
Hubungan antara manusia dan anjing berkembang lebih khusus lagi di wilayah Arktik. Masyarakat adat di kawasan tersebut membangun sistem kehidupan yang sangat bergantung pada anjing penarik kereta luncur sehingga anjing menjadi bagian penting dari kemampuan manusia bertahan di salah satu lingkungan paling ekstrem di dunia.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa anjing Arktik mengalami perubahan kerangka yang berkaitan dengan aktivitas menarik beban berat. Tulang belakang mereka memperlihatkan pola tekanan tertentu, sementara tulang tungkai berkembang cukup kuat untuk menghadapi beban fisik yang berulang ketika bergerak melintasi lanskap beku.
Anjing-anjing tersebut bukan sekadar alat transportasi. Kehadiran mereka menjadi bagian dari strategi hidup manusia di wilayah yang sulit dijangkau dan memiliki sumber daya terbatas. Kajian isotop stabil pada tulang purba bahkan menunjukkan bahwa manusia dan anjing di daerah pesisir sering mengonsumsi makanan serupa yang didominasi sumber daya laut.
Di daerah tropis, jalur perkembangan anjing berbeda secara drastis. Anjing yang hidup bersama komunitas pemburu-pengumpul di hutan hujan Amerika Selatan dan Asia Tenggara berkembang sebagai pemburu yang mampu mengejar mangsa melalui vegetasi rapat dan medan yang sulit.
Ukuran tubuh yang lebih kecil dan kemampuan bergerak dengan lincah memberikan keuntungan bagi anjing tropis. Karakteristik tersebut berbeda dari anjing Arktik yang membutuhkan kekuatan tubuh untuk menarik beban di medan terbuka.
Catatan etnografi menunjukkan bahwa masyarakat adat juga secara aktif mengatur perkembangbiakan anjing untuk mempertahankan kemampuan berburu tertentu. Anak anjing yang menunjukkan karakteristik menjanjikan dipilih untuk dipelihara dan dikembangbiakkan, bahkan terdapat kemungkinan beberapa komunitas mengawinkan anjing dengan canid liar untuk memperkuat sifat yang dianggap berguna.
Namun, iklim dan kebutuhan berburu bukan satu-satunya faktor yang membentuk keragaman anjing. Kebudayaan manusia juga memberikan pengaruh besar terhadap karakteristik yang dikembangkan.
Di Pantai Barat Laut Amerika Utara, beberapa komunitas masyarakat adat mengembangbiakkan anjing kecil dengan bulu menyerupai wol. Bulu tersebut digunakan sebagai bahan untuk membuat selimut seremonial sehingga fungsi anjing tidak berpusat pada berburu atau transportasi, melainkan pada produksi tekstil.
Di masyarakat lain, anjing memiliki peran penting dalam ritual keagamaan dan upacara. Kedudukan tersebut dapat mendorong manusia memilih bentuk tubuh, warna, atau perilaku tertentu yang dianggap memiliki nilai spiritual maupun budaya.
Penyebaran anjing ke berbagai wilayah dunia juga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan adaptasi terhadap suhu, medan, maupun kebutuhan manusia. Penyakit turut menjadi faktor penting yang dapat menentukan apakah suatu populasi anjing mampu bertahan di sebuah wilayah.
Di Afrika sub-Sahara, penyakit seperti trypanosomiasis dan ehrlichiosis kemungkinan menjadi hambatan serius bagi penyebaran populasi anjing. Kondisi tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa anjing, yang berasal dari kawasan beriklim sedang hingga Arktik di belahan Bumi utara, mencapai beberapa daerah tropis dan wilayah selatan relatif lebih lambat atau tetap kurang tersebar dibandingkan di kawasan beriklim sedang.
Penyakit dengan demikian menambahkan lapisan baru dalam memahami evolusi anjing. Lingkungan tidak hanya memberikan peluang untuk berkembang, tetapi juga menghadirkan ancaman biologis yang membatasi wilayah tempat anjing mampu hidup bersama manusia.
Penelitian genetika menunjukkan bahwa banyak populasi anjing purba kini tidak lagi bertahan dalam bentuk aslinya. Ekspansi kolonial membawa berbagai ras anjing Eropa ke banyak bagian dunia dan kemudian menggantikan sejumlah garis keturunan lokal yang telah berkembang selama ribuan tahun.
Meskipun demikian, sebagian jejak genetika dari populasi purba tersebut masih dapat ditemukan pada anjing modern. Sisa-sisa genetik tersebut memberikan petunjuk mengenai sejarah panjang perpindahan manusia, hubungan antarbudaya, serta adaptasi anjing terhadap berbagai lingkungan.
Gabungan data arkeologi, genetika, dan etnografi menunjukkan bahwa anjing memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Anjing tidak sekadar mengikuti manusia ketika masyarakat manusia menyebar ke berbagai wilayah dunia, tetapi juga berubah bersama mereka dan mengembangkan karakteristik fisik serta perilaku yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing masyarakat.
Pengaruh dalam hubungan tersebut juga tidak berlangsung hanya dari manusia menuju anjing. Selama ribuan tahun, keduanya saling memengaruhi perilaku, kehidupan sosial, dan dalam beberapa kondisi bahkan adaptasi biologis satu sama lain.
Mitchell menjelaskan bahwa proses perubahan serigala abu-abu menjadi anjing tidak dapat dipahami sebagai satu peristiwa tunggal yang memiliki batas waktu jelas. Proses tersebut kemungkinan berlangsung panjang dan terus berkembang seiring berubahnya hubungan manusia dengan anjing.
Menurut Mitchell, hubungan tersebut merupakan hasil usaha bersama, meskipun terutama dalam masyarakat Barat selama beberapa abad terakhir manusia semakin dominan dalam menentukan arah perkembangbiakan dan fungsi anjing. Nilai penting hubungan manusia dan anjing justru terletak pada keterjalinan yang kompleks, timbal balik, dan berlangsung sangat lama.
Sejarah sekitar 15.000 tahun hubungan manusia dan anjing menunjukkan bahwa domestikasi bukan sekadar proses manusia mengubah serigala menjadi hewan peliharaan. Anjing berkembang bersama masyarakat manusia dalam berbagai lingkungan, dari Arktik, hutan tropis, hingga dataran tinggi Tibet, sekaligus mengambil peran sebagai pemburu, penarik beban, penjaga, penghasil bahan tekstil, dan bagian dari kehidupan spiritual. Bukti arkeologis, genetika, dan etnografi memperlihatkan bahwa manusia membentuk anjing sesuai kebutuhan mereka, tetapi anjing pada saat yang sama juga membantu membentuk cara manusia bertahan hidup dan berkembang di berbagai wilayah dunia.
Diolah dari artikel:
“For 15,000 years, humans and dogs have been changing each other” oleh Taylor & Francis Group. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260810015700.htm