Spesies Kucing Liar Baru Ditemukan di Bolivia, Baru Satu Individu yang Diketahui

Sumber ilustrasi: Unsplash
19 September 2026 16.20 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [19.09.2026] Kucing adalah salah satu kelompok mamalia yang paling dikenal manusia. Meski telah lama dipelajari, mulai dari kucing domestik hingga predator besar seperti singa, harimau, dan macan tutul, famili Felidae ini masih menyimpan spesies kucing liar kecil yang keberadaannya sulit diketahui karena hidup tersembunyi dan memiliki penampilan hampir sama dengan kerabat dekatnya.

Salah satu kelompok tersebut adalah tiger cat, kucing liar kecil berbintik yang tersebar di Amerika Tengah dan Selatan, mulai dari Kosta Rika hingga Bolivia dan Argentina. Tubuhnya kurang lebih seukuran kucing domestik, dengan pola bintik dan garis yang membuat beberapa spesies terlihat sangat mirip bahkan bagi para ahli.

Kesulitan membedakan kucing-kucing tersebut ternyata menyembunyikan keragaman yang lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Sebuah penelitian terbaru mengonfirmasi keberadaan spesies baru dari hutan Bolivia yang diberi nama Leopardus tilcayo atau kucing Tilcaya.

Penemuan tersebut tergolong luar biasa karena sejauh ini hanya terdapat satu individu hidup yang telah dikonfirmasi sebagai anggota spesies baru tersebut. Kucing berusia sekitar 10 tahun yang dijuluki Tigrino tersebut hidup di sebuah pusat penyelamatan satwa di Bolivia.

Tigrino awalnya ditemukan oleh seorang penduduk setempat di dalam hutan. Ukurannya yang kecil membuat hewan tersebut pada mulanya dianggap sebagai anak kucing domestik.

Ketika Tigrino tumbuh dewasa, perilakunya mulai memperlihatkan bahwa hewan tersebut bukan kucing rumahan biasa. Penampilannya juga menarik perhatian Paola Nogales-Ascarrunz dari Universidad Mayor de San Andres di La Paz, Bolivia, ketika sedang menjadi sukarelawan di pusat penyelamatan tersebut.

Nogales-Ascarrunz sebelumnya pernah mendengar laporan mengenai penampakan kucing liar kecil lainnya di hutan lebat kawasan Yungas di Bolivia. Namun laporan tersebut belum pernah diselidiki secara ilmiah sehingga identitas kucing-kucing yang terlihat di wilayah tersebut tetap tidak diketahui.

Kecurigaan terhadap Tigrino kemudian mendorong Nogales-Ascarrunz bekerja sama dengan para peneliti dari berbagai negara. Tim berusaha mengungkap sejarah kekerabatan tiger cat melalui analisis DNA dari hewan hidup maupun spesimen yang tersimpan di museum.

Analisis genetika menjadi penting karena penampilan fisik saja sulit digunakan untuk membedakan kelompok kucing tersebut. Pola bulu berbintik dan bergaris pada beberapa spesies terlihat begitu serupa sehingga identifikasi berdasarkan morfologi dapat menghasilkan kekeliruan.

Eduardo Eizirik, ahli genetika konservasi dari Pontifical Catholic University of Rio Grande do Sul di Brasil, menjelaskan bahwa catatan dan foto mengenai kucing tersebut sangat sedikit. Tidak adanya individu yang tersimpan sebagai spesimen museum turut membuat spesies tersebut lama tersembunyi dari perhatian ilmiah.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology kemudian memberikan hasil yang lebih luas daripada sekadar mengidentifikasi Tigrino. Analisis menunjukkan bahwa kelompok tiger cat kemungkinan terdiri atas lima spesies, bukan tiga seperti yang sebelumnya diperkirakan.

Salah satu dari lima spesies tersebut adalah kucing Tilcaya dari Bolivia yang baru dideskripsikan sebagai Leopardus tilcayo. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keragaman kucing liar kecil di Amerika Selatan masih belum sepenuhnya terpetakan.

Nogales-Ascarrunz menilai penemuan tersebut luar biasa karena spesies mamalia baru ternyata masih dapat ditemukan tanpa harus melakukan ekspedisi ke pulau terpencil, gunung berapi, atau kedalaman laut. Spesies yang belum dikenal dapat berada di kawasan daratan yang selama ini kurang mendapatkan perhatian penelitian.

Meskipun hanya satu individu Leopardus tilcayo yang telah dikonfirmasi, para ilmuwan memperkirakan Tigrino bukan satu-satunya anggota spesies tersebut yang masih hidup. Laporan mengenai kucing liar kecil di kawasan Yungas menjadi salah satu alasan untuk menduga keberadaan populasi lain.

Namun pengakuan sebagai spesies baru baru merupakan tahap pertama. Para peneliti masih perlu mengetahui wilayah persebaran, jumlah populasi, habitat, perilaku, serta ancaman yang dihadapi kucing Tilcaya di alam.

Informasi tersebut menjadi sangat penting dalam konservasi. Tanpa mengetahui identitas suatu spesies dan tempat hidupnya, upaya perlindungan sulit dirancang secara tepat.

Caroline Sartor dari Wildlife Conservation Research Unit, University of Oxford, menjelaskan bahwa penemuan spesies baru tersebut penting bagi konservasi karena suatu spesies tidak mungkin dilindungi secara efektif apabila identitas dan wilayah hidupnya belum diketahui.

Menurut Sartor, ukuran tiger cat yang hampir sama dengan kucing domestik mungkin menimbulkan anggapan bahwa seluruh spesies seperti ini seharusnya telah ditemukan. Penelitian terbaru justru menunjukkan masih banyak keanekaragaman hayati yang belum terungkap di wilayah dunia yang kurang banyak dipelajari.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena tiger cat menghadapi sejumlah ancaman. Deforestasi dan hilangnya habitat dapat mengurangi wilayah hutan yang diperlukan kucing-kucing tersebut untuk bertahan hidup.

Perburuan ilegal juga menjadi ancaman bagi kelompok kucing liar kecil tersebut. Berbagai tekanan membuat spesies tiger cat dianggap rentan terhadap kepunahan.

Masalahnya, Leopardus tilcayo tidak tercakup dalam penilaian konservasi sebelumnya karena keberadaannya sebagai spesies tersendiri belum diketahui. Status konservasi kucing Tilcaya karena itu masih harus ditentukan berdasarkan penelitian mengenai populasi dan persebarannya.

Penemuan tersebut juga memperlihatkan bagaimana persoalan taksonomi dapat berpengaruh langsung terhadap konservasi. Jika beberapa spesies yang berbeda dianggap sebagai satu spesies, ukuran populasi dan wilayah persebarannya dapat terlihat lebih besar daripada kondisi sebenarnya.

Penelitian genetika menjadi salah satu cara untuk mengurai persoalan tersebut. DNA memungkinkan ilmuwan memeriksa hubungan kekerabatan yang mungkin sulit dikenali hanya melalui warna, ukuran tubuh, atau pola bulu.

Implikasinya tidak terbatas pada tiger cat. Kucing liar dan kucing domestik merupakan anggota famili biologis Felidae, kelompok yang mencakup seluruh spesies kucing yang masih hidup, mulai dari kucing rumahan hingga harimau.

Secara resmi terdapat 41 spesies kucing yang telah diakui. Penemuan Leopardus tilcayo dan indikasi bahwa kelompok tiger cat sebenarnya mencakup beberapa spesies berbeda dapat meningkatkan jumlah tersebut menjadi 44 spesies atau bahkan lebih.

Andrew Kitchener, ahli mamalia dari National Museums Scotland yang tidak terlibat dalam penelitian, menggambarkan kelompok kucing kecil berbintik dari Amerika Selatan tersebut sebagai persoalan taksonomi yang sangat rumit.

Menurut Kitchener, kemiripan penampilan antarspesies dan sedikitnya spesimen yang tersedia di museum membuat kucing-kucing tersebut sulit dibedakan. Perkembangan penelitian genetika kini mulai mengungkap perbedaan yang sebelumnya tidak terlihat.

Kasus Tigrino menunjukkan bahwa satu individu yang semula tampak seperti kucing liar kecil biasa dapat mengubah pemahaman mengenai keseluruhan kelompok hewan. Pengamatan terhadap penampilan yang tidak biasa kemudian berkembang menjadi penelitian genetika yang mengungkap spesies baru.

Penemuan tersebut juga menunjukkan pentingnya pusat penyelamatan satwa dalam penelitian keanekaragaman hayati. Hewan yang ditemukan masyarakat dan kemudian ditempatkan di fasilitas penyelamatan dapat menyimpan informasi ilmiah mengenai populasi liar yang belum pernah didokumentasikan.

Kawasan Yungas di Bolivia kini menjadi wilayah penting untuk penelitian lanjutan. Penelusuran lapangan diperlukan untuk menemukan anggota lain dari Leopardus tilcayo sekaligus menentukan seberapa luas spesies tersebut tersebar di alam.

Penemuan Leopardus tilcayo menunjukkan bahwa keragaman keluarga kucing dunia masih belum sepenuhnya diketahui, bahkan untuk mamalia yang ukurannya hampir sama dengan kucing domestik. Analisis DNA terhadap Tigrino dan kucing-kucing lain menunjukkan bahwa kelompok tiger cat kemungkinan terdiri atas lima spesies, bukan tiga, sementara baru satu individu hidup kucing Tilcaya yang dikonfirmasi. Temuan tersebut bukan hanya menambah kemungkinan jumlah spesies Felidae yang dikenal, tetapi juga menegaskan pentingnya identifikasi genetika dan penelitian lapangan untuk mengetahui populasi, persebaran, serta ancaman terhadap spesies yang sebelumnya tersembunyi di antara kerabatnya yang tampak sangat mirip.

Diolah dari artikel:
“New wild cat species discovered – with only one known living member” oleh Helen Briggs. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.bbc.com/news/articles/c6x2zgv9rr4ro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *