Sumber ilustrasi: Unsplash
20 Mei 2026 09.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [20.05.2026] Gagasan tentang manusia yang terinfeksi patogen tanaman sering muncul dalam cerita fiksi ilmiah. Konsep ini menggambarkan skenario ekstrem, mulai dari penyakit misterius hingga kondisi menyerupai zombie. Di dunia nyata, pertanyaan serupa mulai mendapat perhatian ilmiah: apakah mikroorganisme yang menyerang tanaman benar-benar bisa menginfeksi manusia? Pengetahuan dasar biologi menunjukkan bahwa perbedaan mendasar antara sel tanaman dan manusia seharusnya menjadi penghalang kuat bagi perpindahan patogen lintas spesies.
Patogen tanaman terdiri dari virus, bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain yang menyerang jaringan tanaman. Organisme ini berkembang dengan cara menginfeksi sel tanaman, berkembang biak, lalu menyebar dengan memanfaatkan jaringan sebagai sumber nutrisi. Dampaknya dapat berupa kematian sel, perubahan warna, gangguan fotosintesis, hingga kematian tanaman. Jamur diketahui menjadi penyebab sekitar 85 persen penyakit pada tanaman, menjadikannya kelompok patogen yang paling dominan dalam dunia botani.
Perbedaan struktur biologis antara manusia dan tanaman menjadi faktor utama yang membatasi infeksi lintas spesies. Dr. Soma Dutta dari Apollo Multispeciality Hospitals di Kolkata menjelaskan bahwa perpindahan patogen dari tanaman ke manusia sangat jarang terjadi karena arsitektur biologis keduanya sangat berbeda. Dinding sel tanaman yang tersusun dari selulosa dan hemiselulosa membutuhkan mekanisme khusus untuk ditembus, sementara sel manusia dilindungi oleh membran lipid yang dilengkapi sistem imun berbasis reseptor.
Selain perbedaan struktur, suhu tubuh manusia juga menjadi penghalang alami. Banyak patogen tanaman berkembang optimal pada suhu sekitar 25 derajat Celsius, sedangkan suhu tubuh manusia jauh lebih tinggi. Dutta menggambarkan tubuh manusia sebagai lingkungan yang terlalu panas bagi sebagian besar patogen tanaman, sehingga protein mikroorganisme tersebut dapat rusak sebelum menyebabkan infeksi.
Akan tetapi, penelitian menunjukkan adanya pengecualian yang menarik perhatian ilmuwan. Pada tahun 2023, Dutta bersama Ujjwayini Ray melaporkan kasus infeksi jamur Chondrostereum purpureum pada seorang manusia. Pasien yang terinfeksi mengalami gejala seperti batuk kronis dan kesulitan menelan, sebelum akhirnya ditemukan abses di dekat saluran pernapasan. Jamur tersebut biasanya hanya menginfeksi tanaman, khususnya menyebabkan penyakit daun perak.
Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa pasien merupakan seorang mikolog tanaman yang memiliki paparan intens terhadap jamur selama bertahun-tahun. Dutta menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap spora kemungkinan membuka jalur masuk melalui sistem pernapasan. Peneliti menduga spora tersebut mampu menghindari proses fagositosis dalam sistem imun, sehingga dapat berkembang di dalam tubuh manusia meskipun kondisi suhu tidak ideal.
Kasus ini berhasil ditangani dengan terapi antijamur, tetapi tidak semua infeksi lintas spesies berakhir dengan baik. Patogen tanaman yang berhasil menginfeksi manusia umumnya menyerang individu dengan sistem imun yang lemah. Dalam kondisi tertentu, mikroorganisme tersebut dapat berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti pada kateter atau alat bantu pernapasan, dan meningkatkan risiko infeksi pada pasien rentan.
Beberapa bakteri tanaman telah diketahui berbahaya bagi manusia. Pantoea agglomerans yang biasa ditemukan pada tanaman pangan dapat menjadi mematikan jika masuk ke aliran darah manusia. Bakteri dari genus Burkholderia juga dilaporkan menginfeksi pasien dengan kondisi kesehatan tertentu, menyebabkan pneumonia hingga keracunan darah. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa strain mampu menembus pertahanan saluran pernapasan dan menyebar di paru-paru.
Selain itu, Pseudomonas aeruginosa, yang menyebabkan pembusukan pada tanaman seperti selada dan kentang, juga sering ditemukan di lingkungan rumah sakit. Bakteri ini dapat menginfeksi pasien dengan kondisi medis serius seperti luka bakar, kanker, atau AIDS, dan menyebabkan infeksi pada berbagai organ tubuh.
Di sisi lain, virus tanaman selama ini dianggap tidak berbahaya bagi manusia. Mekanisme infeksi virus tanaman yang bergantung pada celah dinding sel membuatnya sulit beradaptasi dengan sel manusia. Namun, penelitian mulai menemukan indikasi interaksi yang lebih kompleks. Philippe Colson dari Aix-Marseille University menemukan RNA virus pepper mild mottle dalam sampel tinja manusia, serta korelasi dengan gejala seperti demam dan gatal.
Colson juga menemukan antibodi terhadap virus tersebut dalam tubuh manusia, yang menunjukkan adanya respons imun. Meskipun hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan, temuan ini membuka kemungkinan bahwa virus tanaman dapat berinteraksi dengan tubuh manusia dalam kondisi tertentu. Ketahanan virus ini di dalam sistem pencernaan bahkan membuatnya digunakan sebagai indikator pencemaran limbah manusia di lingkungan perairan.
Penelitian lain juga menyoroti virus mosaik tembakau yang ditemukan dalam jaringan paru-paru pasien kanker serta dalam air liur perokok. Colson menyampaikan bahwa temuan ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan peran virus tanaman dalam penyakit manusia, meskipun bukti yang ada masih bersifat awal dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tantangan utama dalam memahami fenomena ini adalah menjelaskan bagaimana virus tanaman dapat menginfeksi sel manusia, mengingat perbedaan mekanisme infeksi yang signifikan. Meskipun demikian, Colson meyakini bahwa penelitian di bidang ini akan berkembang karena potensi implikasinya terhadap kesehatan manusia.
Perubahan lingkungan global juga menjadi faktor yang mulai diperhitungkan. Dutta menyoroti bahwa peningkatan suhu akibat perubahan iklim dapat mengurangi efektivitas penghalang suhu tubuh manusia terhadap patogen tanaman. Adaptasi mikroorganisme terhadap suhu yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan peluang bertahannya patogen tersebut dalam tubuh manusia.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa infeksi manusia oleh patogen tanaman merupakan fenomena yang sangat jarang, terutama pada individu dengan sistem imun yang sehat, namun bukan sesuatu yang mustahil. Perbedaan biologis yang kuat tetap menjadi penghalang utama, tetapi kasus-kasus langka serta perubahan lingkungan global menunjukkan bahwa kewaspadaan dan penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memahami potensi risiko di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Can people catch infections from plants?” oleh Emma Bryce. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/health/can-people-catch-infections-from-plants