Sumber ilustrasi: Pixabay
24 April 2026 15.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.04.2026] Persebaran populasi manusia prasejarah adalah suatu hal yang telah lama dipelajari oleh para ilmuwan telah. Pembelajaran dan penelitian mereka meliputi diantaranya bagaimana kelompok manusia berubah, berpindah, atau bahkan menghilang dari suatu wilayah. Salah satu petunjuk penting berasal dari situs pemakaman kuno yang menyimpan jejak kehidupan masyarakat masa lalu. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Ecology & Evolution meneliti sisa-sisa 132 individu yang dimakamkan di sebuah makam megalitik besar dekat Bury, sekitar 50 kilometer di utara Paris. Situs ini diketahui digunakan dalam dua periode berbeda, dengan adanya penurunan populasi signifikan sekitar 3000 SM di antara kedua periode tersebut.
Analisis genetik menunjukkan bahwa individu yang dimakamkan sebelum dan setelah periode penurunan tersebut tidak memiliki hubungan kekerabatan. Frederik Valeur Seersholm dari Globe Institute, University of Copenhagen, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan genetik yang jelas antara kedua kelompok. Kelompok awal memiliki kemiripan dengan populasi petani Zaman Batu di Prancis utara dan Jerman, sementara kelompok berikutnya menunjukkan hubungan genetik kuat dengan wilayah Prancis selatan dan Semenanjung Iberia. Temuan ini mengindikasikan adanya pergantian populasi besar setelah penurunan jumlah penduduk.
Untuk memahami penyebab penurunan populasi tersebut, para peneliti menggunakan teknik DNA yang mampu menangkap seluruh materi genetik yang tersimpan dalam tulang. Metode ini mengungkap keberadaan patogen kuno, termasuk bakteri penyebab wabah pes (Yersinia pestis) serta organisme penyebab demam kambuhan akibat kutu (Borrelia recurrentis). Martin Sikora dari University of Copenhagen menyatakan bahwa meskipun wabah pes terkonfirmasi присутств, bukti yang ada tidak cukup untuk menjadikannya satu-satunya penyebab runtuhnya populasi. Penurunan jumlah penduduk kemungkinan dipicu oleh kombinasi penyakit, tekanan lingkungan, dan gangguan lainnya.
Analisis kerangka juga menunjukkan tingkat kematian yang sangat tinggi pada periode awal, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Laure Salanova dari CNRS menilai pola demografis tersebut sebagai indikator kuat adanya krisis besar dalam masyarakat saat itu.
Selain perubahan jumlah populasi, struktur sosial juga mengalami transformasi signifikan. Pada periode awal, individu yang dimakamkan cenderung berasal dari keluarga besar yang sama, menunjukkan komunitas yang erat lintas generasi. Sebaliknya, pada periode setelah penurunan populasi, pemakaman menjadi lebih selektif dan berfokus pada satu garis keturunan laki-laki. Seersholm menjelaskan bahwa perubahan populasi turut diiringi perubahan dalam struktur sosial masyarakat.
Temuan ini juga berkaitan dengan fenomena yang lebih luas di Eropa. Bukti yang semakin banyak menunjukkan bahwa penurunan populasi Neolitik tidak hanya terjadi di Skandinavia dan Jerman utara, tetapi juga meluas ke Eropa barat dan utara. Perubahan ini kemungkinan turut menjelaskan berhentinya pembangunan makam megalitik dan monumen batu besar lainnya di berbagai wilayah Eropa. Seersholm menambahkan bahwa berakhirnya pembangunan monumen tersebut tampaknya bertepatan dengan hilangnya populasi yang sebelumnya membangunnya.
Penelitian ini mengungkap bahwa penurunan populasi besar di wilayah dekat Paris sekitar 3000 SM diikuti oleh kedatangan kelompok baru dari wilayah selatan, dengan bukti kuat dari analisis DNA kuno. Penyebab penurunan populasi kemungkinan merupakan kombinasi penyakit, tekanan lingkungan, dan faktor lain yang memicu krisis demografis. Pergantian populasi ini juga disertai perubahan struktur sosial dan berkaitan dengan fenomena penurunan Neolitik yang lebih luas di Eropa, termasuk berhentinya pembangunan monumen megalitik.
Diolah dari artikel:
“Ancient DNA reveals a lost population near Paris replaced by strangers” oleh University of Copenhagen. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260421042800.htm