Sumber ilustrasi: Unsplash
30 April 2026 14.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [30.04.2026] Lonjakan harga minyak kembali menjadi sorotan setelah adanya laporan akan adanya rencana Amerika Serikat untuk memperpanjang blokade mereka di Iran. Harga minyak mentah Brent yang merupakan acuan global untuk harga minyak naik menembus harga $120, dan bahkan sempat mencapai $122, per barel pada hari Rabu yang dimana ini merupakan level tertinggi sejak tahun 2022. Kenaikan ini merupakan hasil kekhawatiran dari pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia, khususnya pasokan dari kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu jalur vital distribusi minyak dan gas.
Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan sejumlah eksekutif energi, termasuk pimpinan Chevron Mike Wirth, di Gedung Putih pada Selasa turut memperkuat persepsi pasar bahwa ketegangan akan berlangsung lama. Dalam pertemuan tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari produksi energi domestik hingga stabilitas pasokan global. Agenda ini dipandang sebagai bagian dari upaya pemerintah AS untuk meredam dampak konflik terhadap konsumen domestik.
Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan terdapat instruksi dari Trump untuk menyiapkan blokade jangka Panjang terhadap Pelabuhan Iran semakin mempertegas arah kebijakan tersebut. Langkah ini bertujuan menekan ekonomi Iran dan juga sekaligus membatasi ekspor minyak Iran. Iran memberikan respon dengan pernyataan akan memberikan gangguan pada jalur lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Sejak konflik yang dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz telah menjadi titik krisis Global. Iran memperketat pengiriman sebagai reaksi terhadap serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel, sementara pihak AS merespons dengan kebijakan intersepsi terhadap kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Analisis menunjukkan bahwa meskipun terdapat upaya pembatasan, namun sejumlah kapal tetap berhasil melintasi garis blokade yang memberikan gambaran kompleksitas situasi di lapangan.
Pergerakan harga minyak dalam beberapa minggu terakhir ini menunjukkan volatilitas tinggi. Harga Brent sempat turun ke kisaran $90 per barel pada pertengahan April setelah adanya sinyal deeskalasi konflik. Akan tetapi tren kembali berbalik naik dalam hampir dua pekan terakhir seiring berlanjutnya kebijakan blokade oleh Amerika Serikat.
Dampak konflik ini tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga merembet ke ekonomi global. Di Inggris, kenaikan harga bahan bakar mulai dirasakan masyarakat, sementara risiko kelangkaan pasokan energi dinilai meningkat jika situasi tidak segera membaik. Para analis menilai bahwa setiap hari tanpa pemulihan distribusi energi akan memperbesar tekanan inflasi pada berbagai sektor.
Sementara itu, kondisi ekonomi Iran menunjukkan tekanan yang semakin berat. Tingkat inflasi dilaporkan mencapai lebih dari 50 persen, nilai tukar mata uang anjlok ke titik terendah, dan jutaan warga kehilangan pekerjaan akibat dampak perang. Pemerintah Iran menyatakan tetap mampu bertahan dengan memanfaatkan jalur perdagangan alternatif, meskipun tantangan yang dihadapi semakin kompleks.
Dalam perkembangan diplomatik, upaya negosiasi antara kedua negara masih menemui jalan buntu. Pemerintah Amerika Serikat mendorong Iran untuk segera mencapai kesepakatan, sementara opsi kebijakan yang tersedia dinilai memiliki risiko tinggi. Keputusan untuk melanjutkan blokade dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan tekanan tanpa memperluas konflik secara langsung.
Di sisi lain, proyeksi global menunjukkan adanya potensi kenaikan harga energi yang signifikan. Bank Dunia memperkirakan harga energi dapat melonjak hingga 24 persen pada tahun 2026 jika gangguan pasokan tidak segera teratasi. Kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan tambahan terhadap ekonomi global yang masih dalam fase pemulihan.
Pasar keuangan turut merespons perkembangan ini dengan hati-hati. Bursa saham Eropa mengalami penurunan, sementara indeks di Amerika Serikat cenderung stagnan. Sebaliknya, pasar Asia menunjukkan pemulihan setelah sempat terdampak pada awal konflik. Para pelaku pasar kini mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kemungkinan berlangsungnya blokade dalam jangka panjang.
Analis pasar menilai bahwa dinamika saat ini menuntut penyesuaian strategi investasi, terutama dalam menghadapi ketidakpastian pasokan energi. Ketergantungan global terhadap jalur distribusi seperti Selat Hormuz membuat setiap gangguan memiliki dampak luas dan cepat terhadap harga komoditas serta stabilitas ekonomi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada kawasan yang terlibat, tetapi juga memiliki implikasi global yang luas. Ketidakpastian yang berlanjut berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari energi hingga perdagangan internasional.
Kenaikan harga minyak di atas $120 per barel memberikan cerminan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global akibat rencana blokade berkepanjangan terhadap Iran. Situasi di Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang menentukan arah harga energi, sementara tekanan ekonomi di Iran semakin dalam dan pasar global merespons dengan volatilitas tinggi serta kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian jangka panjang.
Diolah dari artikel:
“Oil price rises above $120 after reports of ‘extended’ Iran blockade” oleh Naomi Rainey, Emer Moreau, dan Jonathan Josephs. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring world news closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.