Detak Jantung Menghambat Pertumbuhan Kanker?

Sumber ilustrasi: Pixabay
30 April 2026 16.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [30.04.2026] Ilmuwan bertanya-tanya mengapa kanker jantung merupakan salah satu jenis kanker yang paling jarang terjadi pada manusia. Dengan angka kejadian kurang dari 2 kasus per 100.000 orang per tahun, fenomena ini sulit dijelaskan hanya dengan faktor kebetulan. Berbagai hipotesis telah diajukan, mulai dari lingkungan biologis jantung hingga karakteristik selnya. Kini, sebuah penelitian terbaru memberikan petunjuk baru bahwa faktor mekanis berupa detak jantung mungkin memainkan peran penting dalam menghambat pertumbuhan kanker.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa gaya fisik dari detak jantung mampu mengubah cara sel kanker berfungsi. Gaya tersebut tidak hanya memengaruhi struktur jaringan, tetapi juga menghentikan kemampuan sel kanker untuk berkembang biak dan menyebar. Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa faktor mekanis dalam tubuh dapat berperan aktif dalam mengendalikan penyakit, bukan hanya faktor genetik atau biokimia.

Fokus utama penelitian ini adalah protein bernama Nesprin-2, yang berada di membran luar inti sel. Protein ini sebelumnya diketahui berfungsi sebagai sensor gaya mekanis. Dalam penelitian terbaru, ditemukan bahwa Nesprin-2 mampu merespons tekanan dari detak jantung dan kemudian menghentikan proliferasi sel kanker. Mekanisme ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara aktivitas fisik organ dan regulasi pertumbuhan sel pada tingkat molekuler.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Serena Zacchigna dari International Centre for Genetic Engineering and Biotechnology di Italia melihat potensi besar dari temuan ini. Zacchigna menjelaskan bahwa pengetahuan tersebut akan dimanfaatkan untuk mengembangkan terapi mekanis kanker, yaitu pendekatan yang menggunakan tekanan fisik untuk menghambat pertumbuhan tumor.

Untuk menguji hipotesis tersebut, para peneliti melakukan eksperimen dengan menanamkan sel kanker paru-paru ke dalam jantung tikus laboratorium. Dalam kondisi jantung berdetak normal, pertumbuhan kanker terlihat terhambat. Sebaliknya, pada jantung yang tidak memompa meskipun tetap mendapat suplai darah, sel kanker berkembang secara signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan gaya mekanis dari detak jantung menjadi faktor kunci dalam mengendalikan pertumbuhan sel kanker.

Eksperimen lanjutan pada jaringan jantung tikus yang dikembangkan di laboratorium menunjukkan hasil serupa. Ketika beban mekanis pada jaringan dikurangi, sel kanker tumbuh dan menyebar lebih cepat. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa tekanan fisik memiliki peran penting dalam mengatur perilaku sel kanker.

Untuk memahami mekanisme lebih dalam, para peneliti menganalisis jaringan dari pasien manusia yang mengalami penyebaran kanker ke jantung. Analisis genetik dan epigenetik menunjukkan bahwa detak jantung dapat mengurangi penanda epigenetik yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor. Dalam proses ini, Nesprin-2 kembali teridentifikasi sebagai komponen penting. Ketika protein tersebut dinonaktifkan, bahkan dalam kondisi jantung berdetak, proliferasi sel kanker meningkat.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengaruh gaya mekanis tidak terbatas pada satu jenis kanker saja. Zacchigna menyebut bahwa pola serupa ditemukan pada berbagai jenis kanker, yang mengindikasikan bahwa mekanisme ini bersifat umum dalam sistem biologis.

Temuan ini mendapat perhatian dari kalangan ilmuwan lain. Julie Phillippi dari University of Pittsburgh menilai penelitian ini memiliki dampak signifikan, tidak hanya dalam memahami kanker jantung tetapi juga dalam pengembangan terapi untuk kanker pada organ lain. Phillippi juga melihat potensi temuan ini dalam membantu memahami regenerasi jaringan jantung secara lebih terarah.

Dalam pengembangan lebih lanjut, tim peneliti tengah merancang perangkat berupa pita mekanis yang dapat dipasang di sekitar tumor kulit untuk meniru tekanan detak jantung. Pendekatan ini dianggap relevan karena kanker kulit metastatik sering menyebar ke jantung, sehingga dapat menjadi model awal uji klinis.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diatasi sebelum terapi ini dapat diterapkan secara luas. Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan bahwa tekanan mekanis justru dapat mempercepat penyebaran sel kanker. Zacchigna menekankan pentingnya memastikan keamanan metode ini sebelum memasuki tahap uji klinis pada manusia.

Selain pendekatan mekanis, para peneliti juga mengeksplorasi kemungkinan pengembangan obat yang dapat meniru efek epigenetik dari detak jantung. Strategi ini diharapkan dapat memberikan alternatif tanpa perlu intervensi fisik langsung pada tumor.

Penelitian ini membuka perspektif baru dalam dunia onkologi dengan menunjukkan bahwa faktor mekanis memiliki peran penting dalam mengendalikan pertumbuhan kanker. Detak jantung tidak hanya berfungsi sebagai penggerak sistem peredaran darah, tetapi juga sebagai mekanisme alami yang dapat menghambat proliferasi sel kanker melalui interaksi kompleks dengan protein seperti Nesprin-2 dan regulasi epigenetik, sehingga memberikan peluang baru dalam pengembangan terapi kanker di masa depan.

Diolah dari artikel:
“Heartbeats physically stop cardiac cancer from growing — and that could be key to thwarting other cancers, too” oleh Sophie Berdugo. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/health/cancer/heartbeats-physically-stop-cardiac-cancer-from-growing-and-that-could-be-key-to-thwarting-other-cancers-too

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *