Mimpi Manusia, Acak, Atau?

Sumber ilustrasi: Unsplash
30 April 2026 14.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [30.04.2026] Siapa yang tidak tahu mimpi? Fenomena ini dikenal di deskripsikan sebagai kondisi yang hadir ketika kita tidur, yang selama ini sering dianggap sebagai rangkaian kejadian acak yang sulit dipahami. Banyak orang mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, sementara ada yang tampak kabur dan tidak dapat diingat. Asal-usul dan makna mimpi telah lama menjadi perhatian dan pertanyaan dalam studi psikologi dan ilmu saraf. Penelitian terbaru dari IMT School for Advanced Studies Lucca kini memberikan sudut pandang baru dengan menunjukkan bahwa mimpi terbentuk dari kombinasi karakter pribadi dan pengalaman hidup.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Psychology ini menganalisis lebih dari 3.700 laporan mimpi dan pengalaman saat terjaga dari 287 peserta berusia 18 hingga 70 tahun. Selama dua minggu, para peserta mencatat aktivitas harian dan pengalaman mimpi mereka. Peneliti ini juga mengumpulkan data terkait kebiasaan tidur, kemampuan kognitif, sifat kepribadian, serta kondisi psikologis untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi isi mimpi.

Dalam menganalisis data tersebut, tim peneliti menggunakan teknologi pemrosesan bahasa alami atau NLP. Metode tersebut memungkinkan pengkajian struktur dan makna mimpi secara sistematis. Hasil analisis menunjukkan bahwa mimpi bukan fenomena acak, melainkan hasil interaksi kompleks antara faktor internal seperti kecenderungan melamun, minat terhadap mimpi, kualitas tidur, serta faktor eksternal seperti peristiwa besar dalam masyarakat, termasuk pandemi COVID-19.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa otak tidak sekadar memutar ulang pengalaman sehari-hari saat tidur. Proses yang terjadi jauh lebih aktif, di mana otak membentuk ulang realitas. Lingkungan yang dikenal seperti tempat kerja, rumah sakit, atau sekolah tidak direproduksi secara identik, melainkan diolah menjadi adegan yang lebih hidup dengan kombinasi elemen yang beragam dan perubahan sudut pandang yang tidak terduga.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mimpi merupakan proses rekonstruksi realitas. Ingatan, imajinasi, dan prediksi masa depan saling berbaur dalam menciptakan pengalaman mimpi yang terkadang terasa surealis. Dengan demikian, mimpi berfungsi sebagai proses mental aktif, bukan sekadar refleksi pasif dari kehidupan sehari-hari.

Perbedaan individu juga memainkan peran penting dalam pengalaman mimpi. Orang yang memiliki kecenderungan melamun lebih sering melaporkan mimpi yang terfragmentasi dan berubah-ubah. Sebaliknya, individu yang menganggap mimpi sebagai sesuatu yang bermakna cenderung mengalami mimpi yang lebih kaya dan imersif.

Selain faktor personal, peristiwa besar juga memengaruhi isi mimpi. Data yang dikumpulkan selama masa lockdown COVID-19 oleh peneliti dari Sapienza University of Rome ini menunjukkan bahwa mimpi pada periode tersebut lebih intens secara emosional dan sering mengandung tema pembatasan. Seiring waktu dan adaptasi psikologis masyarakat, pola tersebut berangsur memudar, menandakan bahwa mimpi berkembang mengikuti kondisi mental individu terhadap perubahan besar.

Valentina Elce sebagai peneliti utama menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan mimpi bukan hanya cerminan pengalaman masa lalu, tetapi proses dinamis yang dipengaruhi oleh identitas dan pengalaman hidup seseorang. Menurut Valentina Elce, penggunaan data skala besar dan metode komputasional memungkinkan pengungkapan pola mimpi yang sebelumnya sulit diidentifikasi.

Penelitian ini juga menyoroti peran kecerdasan buatan dalam studi mimpi. Model NLP mampu menganalisis makna dan struktur laporan mimpi dengan tingkat akurasi yang mendekati penilaian manusia. Pendekatan ini membuka peluang untuk penelitian lebih luas terkait kesadaran, memori, dan kesehatan mental dengan metode yang lebih konsisten dan terukur.

Penggunaan teknologi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang mimpi dapat berkembang seiring kemajuan ilmu komputasi. Kolaborasi antara ilmu psikologi, ilmu saraf, dan kecerdasan buatan menjadi kunci dalam mengungkap kompleksitas pengalaman manusia saat tidur.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa mimpi terbentuk dari interaksi antara faktor internal seperti kepribadian dan kualitas tidur dengan faktor eksternal seperti pengalaman hidup dan peristiwa besar, serta diproses secara aktif oleh otak melalui rekonstruksi realitas. Pendekatan berbasis kecerdasan buatan memungkinkan identifikasi pola mimpi secara lebih sistematis, membuka peluang baru dalam memahami hubungan antara mimpi, kesadaran, dan kesehatan mental.

Diolah dari artikel:
“Your dreams aren’t random. Here’s what’s really happening” oleh IMT School for Advanced Studies Lucca. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260428045538.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *