Kacang-Kacangan dan Kedelai Dapat Menurunkan Risiko Hipertensi Hingga Hampir 30 Persen?

Sumber ilustrasi: Pixabay
30 Mei 2026 14.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [30.05.2026] Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko terbesar bagi penyakit jantung, stroke, dan berbagai gangguan kardiovaskular lainnya. Organisasi kesehatan di berbagai negara terus mendorong perubahan pola makan sebagai salah satu strategi utama untuk mengurangi beban penyakit tersebut. Dalam beberapa dekade terakhir, perhatian ilmuwan semakin tertuju pada pola makan berbasis tumbuhan karena sejumlah penelitian menunjukkan kaitannya dengan kesehatan jantung yang lebih baik.

Kacang-kacangan dan produk kedelai termasuk kelompok makanan yang sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa makanan tersebut dapat membantu menjaga kadar kolesterol, mengurangi risiko penyakit jantung, dan mendukung kesehatan metabolik. Akan tetapi hubungan langsung antara konsumsi kacang-kacangan atau produk kedelai dengan risiko hipertensi masih menghasilkan temuan yang beragam.

Sebuah analisis terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Nutrition Prevention & Health berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian ini menggabungkan hasil dari berbagai studi jangka panjang yang dilakukan di sejumlah negara untuk mengevaluasi apakah konsumsi kacang-kacangan dan produk kedelai benar-benar berkaitan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah.

Kacang-kacangan yang dianalisis dalam penelitian meliputi kacang polong, lentil, kacang arab, dan berbagai jenis kacang lainnya. Sementara itu, kelompok produk kedelai mencakup tahu, susu kedelai, edamame, tempe, dan miso. Kedua kelompok makanan tersebut dikenal kaya akan protein nabati dan berbagai zat gizi penting.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, para peneliti meninjau seluruh studi yang dipublikasikan hingga Juni 2025. Analisis tersebut mencakup 10 publikasi yang berisi data dari 12 studi observasional jangka panjang yang dilakukan di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Lima studi berasal dari Amerika Serikat, lima dari negara-negara Asia termasuk China, Iran, Korea Selatan, dan Jepang, serta dua studi dari Eropa yaitu Prancis dan Inggris. Sebanyak sembilan studi melibatkan peserta laki-laki dan perempuan, dua studi hanya melibatkan perempuan, dan satu studi hanya melibatkan laki-laki.

Jumlah peserta dalam penelitian yang dianalisis sangat beragam, mulai dari 1.152 hingga 88.475 orang. Sementara itu, jumlah kasus hipertensi yang diamati berkisar antara 144 kasus hingga lebih dari 35.000 kasus.

Setelah seluruh data digabungkan, para peneliti menemukan hubungan yang konsisten antara konsumsi kacang-kacangan dan produk kedelai dengan penurunan risiko hipertensi. Individu yang mengonsumsi kacang-kacangan dalam jumlah tertinggi memiliki kemungkinan 16 persen lebih rendah untuk mengalami hipertensi dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.

Pada kelompok produk kedelai, manfaat yang ditemukan bahkan sedikit lebih besar. Individu dengan konsumsi produk kedelai tertinggi menunjukkan risiko hipertensi yang 19 persen lebih rendah dibandingkan kelompok dengan konsumsi paling sedikit.

Peneliti kemudian melakukan analisis dosis-respons untuk melihat bagaimana perubahan jumlah konsumsi memengaruhi risiko hipertensi. Hasilnya menunjukkan bahwa manfaat kacang-kacangan meningkat secara bertahap hingga konsumsi sekitar 170 gram per hari. Pada tingkat konsumsi tersebut, penurunan risiko hipertensi mencapai sekitar 30 persen.

Untuk produk kedelai, manfaat terbesar ditemukan pada konsumsi sekitar 60 hingga 80 gram per hari. Pada rentang tersebut, risiko hipertensi menurun sekitar 28 hingga 29 persen. Setelah melewati jumlah tersebut, peningkatan konsumsi tidak menunjukkan manfaat tambahan yang berarti.

Sebagai gambaran praktis, sekitar 100 gram kacang-kacangan atau produk kedelai setara dengan satu cangkir atau lima hingga enam sendok makan kacang, lentil, kacang arab, atau kedelai yang telah dimasak. Jumlah tersebut juga kira-kira setara dengan satu porsi tahu seukuran telapak tangan.

Berdasarkan kriteria penilaian bukti dari World Cancer Research Fund, para peneliti menyimpulkan bahwa terdapat bukti yang mengarah pada hubungan sebab-akibat yang mungkin antara konsumsi kacang-kacangan dan produk kedelai yang lebih tinggi dengan risiko hipertensi yang lebih rendah.

Beberapa mekanisme biologis dinilai dapat menjelaskan hubungan tersebut. Kacang-kacangan dan produk kedelai mengandung kalium, magnesium, serta serat pangan dalam jumlah tinggi. Ketiga komponen tersebut telah lama diketahui berperan dalam menjaga tekanan darah tetap sehat.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa serat larut dari kacang-kacangan dan kedelai dapat difermentasi oleh mikroorganisme di dalam usus untuk menghasilkan asam lemak rantai pendek. Senyawa tersebut diduga membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks dan melebar sehingga mendukung pengendalian tekanan darah.

Selain itu, produk kedelai mengandung isoflavon, yaitu senyawa tumbuhan yang menurut sejumlah penelitian dapat berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah. Kombinasi berbagai nutrisi tersebut kemungkinan menjadi salah satu alasan mengapa manfaat kesehatan ditemukan secara konsisten dalam banyak penelitian.

Meskipun demikian, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Jenis kacang-kacangan yang dikonsumsi peserta berbeda-beda, metode pengolahan makanan tidak seragam, pola makan keseluruhan peserta juga bervariasi, dan definisi hipertensi yang digunakan dalam masing-masing studi tidak selalu sama.

Tingkat konsumsi makanan yang diamati juga berbeda cukup jauh antar penelitian. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi hasil akhir dan menjadi salah satu alasan mengapa penelitian tambahan masih diperlukan.

Meski terdapat keterbatasan, tim peneliti menilai temuan ini memiliki implikasi kesehatan masyarakat yang penting mengingat prevalensi hipertensi terus meningkat di seluruh dunia. Para peneliti juga mencatat bahwa konsumsi kacang-kacangan di Eropa dan Inggris masih jauh di bawah rekomendasi gizi yang ada.

Rata-rata konsumsi kacang-kacangan di kawasan tersebut hanya sekitar 8 hingga 15 gram per hari. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rekomendasi konsumsi 65 hingga 100 gram per hari yang dianggap bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular secara keseluruhan.

Tim peneliti berpendapat bahwa temuan ini memberikan dukungan tambahan terhadap rekomendasi gizi yang mendorong masyarakat untuk mengintegrasikan kacang-kacangan dan produk kedelai sebagai sumber protein sehat dalam pola makan sehari-hari. Namun, penelitian kohort berskala besar masih diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan yang ditemukan.

Profesor Sumantra Ray, Kepala Ilmuwan dan Direktur Eksekutif NNEdPro Global Institute for Food, Nutrition and Health, menilai bahwa penelitian ini memperkuat bukti mengenai manfaat pola makan berbasis tumbuhan terhadap kesehatan kardiovaskular. Menurut Sumantra Ray, hasil penelitian memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap penggunaan kacang-kacangan dan produk kedelai sebagai strategi nutrisi untuk membantu mengurangi beban hipertensi global.

Sumantra Ray juga menyoroti pentingnya analisis dosis-respons yang dilakukan dalam penelitian karena pendekatan tersebut membantu mengidentifikasi target konsumsi yang realistis untuk diterapkan dalam pedoman gizi maupun layanan kesehatan. Di sisi lain, Sumantra Ray mengingatkan bahwa pengaruh faktor-faktor lain yang belum terukur belum dapat sepenuhnya dikesampingkan.

Sumantra Ray menambahkan bahwa manfaat produk kedelai yang tampak mencapai titik jenuh pada konsumsi 60 hingga 80 gram per hari masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Menurut Sumantra Ray, belum diketahui secara pasti apakah kondisi tersebut mencerminkan batas biologis yang nyata atau hanya akibat keterbatasan jumlah penelitian yang tersedia untuk dianalisis.

Analisis yang menggabungkan data dari berbagai negara menunjukkan bahwa konsumsi kacang-kacangan dan produk kedelai secara teratur berkaitan dengan penurunan risiko hipertensi. Manfaat terbesar terlihat pada konsumsi sekitar 170 gram kacang-kacangan per hari dan 60 hingga 80 gram produk kedelai per hari, dengan penurunan risiko yang dapat mendekati 30 persen. Kandungan kalium, magnesium, serat, dan isoflavon diduga berperan penting dalam efek tersebut. Meskipun penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memperkuat bukti yang ada, temuan ini memberikan dukungan yang semakin kuat bagi peran protein nabati dalam menjaga kesehatan jantung dan mengurangi risiko tekanan darah tinggi.

Diolah dari artikel:
“Eating more beans and soy could slash high blood pressure risk by nearly 30%” oleh BMJ Group. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260523103906.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *