Mikroba Kecil di Dalam Ikan Membantu Menjaga Kesehatan Lautan?

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
01 Juni 2026 12.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [01.06.2026] Lautan merupakan salah satu komponen terpenting dalam sistem kehidupan Bumi. Selain menjadi rumah bagi jutaan spesies, lautan juga berperan besar dalam mengatur siklus karbon global dan menjaga keseimbangan kimia planet. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa berbagai organisme laut berkontribusi terhadap proses-proses tersebut, termasuk ikan laut yang menghasilkan kalsium karbonat, mineral penting yang memengaruhi kimia air laut dan penyimpanan karbon.

Selama bertahun-tahun, para peneliti menganggap produksi kalsium karbonat pada ikan sepenuhnya dikendalikan oleh tubuh ikan itu sendiri. Namun, penelitian terbaru yang dipimpin oleh Anthony Bonacolta dari University of Miami menunjukkan bahwa terdapat mitra tersembunyi yang mungkin memiliki peran penting dalam proses tersebut. Mitra tersebut adalah mikroba yang hidup di dalam saluran pencernaan ikan.

Studi ini mengungkap kemungkinan adanya hubungan simbiosis antara ikan laut dan komunitas bakteri usus yang dapat memengaruhi kesehatan lautan dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Ikan bertulang sejati atau teleost secara terus-menerus meminum air laut untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Selama proses tersebut, ion kalsium dan karbonat yang berlebih dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk pelet padat kalsium karbonat yang dikenal sebagai ichthyocarbonates.

Menurut Martin Grosell, Maytag Professor of Ichthyology sekaligus ketua Department of Marine Biology and Ecology, penelitian tersebut menunjukkan bahwa mikrobioma usus kemungkinan memiliki peran yang lebih luas dalam biologi ikan maupun siklus nutrisi laut secara global. Martin Grosell menjelaskan bahwa proses yang sebelumnya dianggap sepenuhnya dikendalikan oleh ikan mungkin sebenarnya merupakan hasil hubungan simbiosis yang erat antara ikan dan komunitas mikroba di dalam ususnya.

Untuk menyelidiki mekanisme tersebut, para peneliti melakukan eksperimen laboratorium menggunakan ikan Gulf toadfish (Opsanus beta). Ikan-ikan tersebut ditempatkan dalam lingkungan dengan tingkat salinitas berbeda, yaitu air payau dengan salinitas 9 ppt, air laut normal dengan salinitas 35 ppt, dan air hipersalin dengan salinitas 60 ppt.

Tujuan penelitian tersebut adalah untuk memahami bagaimana tingkat salinitas memengaruhi produksi ichthyocarbonates. Produksi mineral tersebut diketahui meningkat ketika ikan harus beradaptasi dengan lingkungan yang lebih asin melalui proses osmoregulasi.

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang jelas antar kelompok. Ikan yang hidup dalam air dengan salinitas rendah tidak menghasilkan ichthyocarbonates. Produksi mineral mulai terlihat pada ikan yang hidup di air laut normal dan meningkat lebih jauh pada ikan yang berada di lingkungan hipersalin.

Untuk memahami peran mikroba, tim peneliti mengambil sampel dari berbagai bagian usus ikan, dari pelet ichthyocarbonates yang dihasilkan, serta dari lingkungan air di sekitarnya.

Analisis DNA dan RNA memungkinkan para ilmuwan mempelajari komunitas mikroba yang hidup di dalam ikan sekaligus aktivitas gen yang terjadi baik pada ikan maupun mikroorganisme yang terkait dengannya. Teknik pengurutan genetik digunakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang hadir, sementara analisis ekspresi gen membantu mengungkap fungsi biologis yang mungkin berhubungan dengan pembentukan kalsium karbonat.

Penelitian menemukan bahwa kelompok bakteri vibrio, khususnya Photobacterium damselae subsp. damselae, ditemukan dalam jumlah yang sangat melimpah baik di saluran pencernaan maupun pada ichthyocarbonates. Bukti genetik menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki kemampuan biologis yang berkaitan dengan produksi ichthyocarbonates, sehingga kemungkinan berkontribusi langsung terhadap pembentukan mineral bersama ikan inangnya.

Temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai bagaimana organisme mikroskopis dapat memengaruhi proses lingkungan dalam skala besar. Martin Grosell menjelaskan bahwa sebagian besar kehidupan di Bumi bersifat mikrobial dan berperan penting dalam menggerakkan siklus nutrisi serta fungsi ekosistem. Martin Grosell juga menambahkan bahwa lautan sangat kaya akan hubungan simbiosis semacam ini, dan hubungan antara Gulf toadfish dengan bakteri vibrio yang berpotensi terkait produksi kalsium karbonat merupakan contoh baru yang sangat menarik.

Penelitian ini juga memperluas pemahaman mengenai hubungan antara hewan laut, mikrobioma yang hidup di dalam tubuhnya, dan berbagai proses global yang membantu mengatur kimia lautan serta penyimpanan karbon. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mikroorganisme yang selama ini kurang diperhatikan mungkin memiliki kontribusi penting terhadap stabilitas ekosistem laut.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa produksi kalsium karbonat pada ikan laut kemungkinan tidak hanya bergantung pada fisiologi ikan, tetapi juga melibatkan komunitas mikroba yang hidup di dalam ususnya. Melalui analisis genetik dan eksperimen pada berbagai tingkat salinitas, para peneliti menemukan bukti bahwa bakteri tertentu dapat berkontribusi terhadap pembentukan mineral yang berperan dalam kimia lautan dan siklus karbon global. Temuan ini membuka perspektif baru mengenai pentingnya hubungan simbiosis antara hewan laut dan mikroorganisme dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dunia.

Diolah dari artikel:
“The ocean’s health may depend on a tiny microbe inside fish” oleh University of Miami Rosenstiel School of Marine, Atmospheric, and Earth Science. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260530053414.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *