Sumber ilustrasi: Magnific
16 Juli 2026 10.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.07.2026] Menjaga kesehatan jatung merupakan hal krusial yang selalu menjadi sorotan dari banyak studi Kesehatan. Untuk menjaga kesehatan jantung, berolahraga merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa aktivitas fisik rutin mampu meningkatkan kebugaran kardiovaskular, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi risiko berbagai penyakit jantung. Mekanisme biologis yang mendasari manfaat tersebut ternyata masih terus dipelajari. Kini, sebuah penelitian terbaru dari University of Bristol mengungkap bahwa olahraga tidak hanya memperkuat otot jantung, namun juga mengubah jaringan saraf yang mengendalikan kerja organ tersebut. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Autonomic Neuroscience.
Para peneliti menemukan, untuk pertama kalinya, bahwa latihan aerobik secara teratur membentuk ulang jaringan saraf pengendali jantung dengan cara yang berbeda pada sisi kiri dan kanan tubuh. Perbedaan tersebut dinilai berpotensi menjadi dasar bagi pengembangan terapi yang lebih presisi untuk berbagai gangguan jantung, seperti aritmia, nyeri dada, angina, hingga sindrom “patah hati” akibat stres (stress-induced broken-heart syndrome).
Penulis utama penelitian, Dr. Augusto Coppi, Dosen Senior Anatomi Veteriner di University of Bristol, menjelaskan bahwa penelitian tersebut mengungkap pola kiri dan kanan yang sebelumnya tidak diketahui pada sistem saraf otonom, yaitu sistem yang secara otomatis mengatur fungsi jantung. Menurut Dr. Coppi, kelompok saraf tersebut bekerja layaknya pengatur intensitas kerja jantung, dan olahraga aerobik intensitas sedang ternyata membentuk ulang sistem tersebut secara berbeda pada masing-masing sisi tubuh. Temuan tersebut dinilai dapat menjelaskan mengapa beberapa terapi jantung lebih efektif bila diterapkan pada satu sisi dibandingkan sisi lainnya.
Penelitian dilakukan melalui kolaborasi antara University of Bristol, University College London (UCL), University of São Paulo (USP), dan Federal University of São Paulo (UNIFESP). Tim peneliti menggunakan teknik pencitraan tiga dimensi beresolusi tinggi yang dikenal sebagai stereologi untuk mengamati perubahan pada kelompok saraf yang berperan dalam mengatur fungsi jantung.
Dalam percobaan tersebut, tikus menjalani latihan aerobik selama sepuluh minggu. Setelah periode latihan selesai, jumlah neuron pada kelompok saraf kardiovaskular di sisi kanan tubuh meningkat sekitar empat kali lipat dibandingkan sisi kiri jika dibandingkan dengan tikus yang tidak berolahraga. Sementara itu, neuron pada sisi kiri hampir meningkat dua kali lipat ukurannya, sedangkan neuron pada sisi kanan justru sedikit mengecil. Pola tersebut menunjukkan bahwa olahraga mengubah struktur jaringan saraf jantung secara berbeda pada masing-masing sisi tubuh.
Menurut Dr. Coppi, berbagai gangguan seperti aritmia, sindrom patah hati akibat stres, serta beberapa jenis nyeri dada saat ini sering ditangani dengan menurunkan aktivitas ganglion stelata, yaitu sepasang pusat saraf kecil yang berada di bagian bawah leher dan bagian atas dada yang mengirimkan sinyal untuk meningkatkan kerja jantung. Dengan memahami bagaimana olahraga mengubah ganglion tersebut pada sisi kiri dan kanan, penelitian ini memberikan petunjuk baru untuk menyempurnakan prosedur seperti blok saraf maupun denervasi agar dapat diarahkan pada sisi yang paling memberikan manfaat.
Walaupun penelitian tersebut masih berada pada tahap awal dan seluruh percobaan dilakukan pada tikus, hasil yang diperoleh membuka kemungkinan bahwa terapi penyakit jantung di masa depan dapat disesuaikan berdasarkan perbedaan jaringan saraf pada masing-masing sisi tubuh. Pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan efektivitas pengobatan bagi pasien yang mengalami aritmia, angina yang sulit ditangani, maupun sindrom patah hati akibat stres.
Para peneliti kini berencana meneliti bagaimana perubahan struktur saraf tersebut memengaruhi kinerja jantung baik saat berolahraga maupun ketika tubuh sedang beristirahat. Tim juga akan menguji apakah pola perbedaan antara sisi kiri dan kanan tersebut ditemukan pada spesies hewan lain maupun pada manusia menggunakan penanda biologis yang bersifat non-invasif.
Dr. Coppi menambahkan bahwa pemahaman mengenai perbedaan antara sisi kiri dan kanan jaringan saraf jantung dapat menjadi langkah penting menuju terapi yang lebih personal bagi penderita gangguan irama jantung dan angina. Penelitian lanjutan akan difokuskan untuk mengetahui hubungan antara perubahan struktur saraf tersebut dengan fungsi jantung serta memastikan apakah pola serupa juga terjadi pada hewan berukuran lebih besar maupun manusia.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa manfaat olahraga terhadap jantung tidak hanya berasal dari peningkatan kebugaran fisik, tetapi juga dari perubahan mendasar pada jaringan saraf yang mengatur kerja jantung. Penemuan mengenai perbedaan respons saraf di sisi kiri dan kanan tubuh membuka peluang untuk mengembangkan terapi yang lebih tepat sasaran dalam menangani berbagai penyakit jantung. Meskipun masih memerlukan penelitian lanjutan pada manusia, hasil ini memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana olahraga mampu meningkatkan kesehatan jantung hingga ke tingkat sistem saraf.
Diolah dari artikel:
“Exercise doesn’t just strengthen the heart. It rewires it” oleh University of Bristol. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260712011755.htm