Kayu Apung, Rahasia Api Unggun Manusia Purba?

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
16 Juli 2026 14.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [16.07.2026] Api dapat dikatakan sebagai salah satu penemuan paling penting dalam sejarah evolusi manusia. Kemampuan mengendalikan api memungkinkan manusia purba memasak makanan, menghangatkan tubuh, mengolah bahan, hingga membangun interaksi sosial yang lebih kompleks. Mempertahankan api dalam jangka panjang tentu membutuhkan pasokan bahan bakar yang stabil. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa manusia purba kemungkinan telah menemukan solusi sederhana namun sangat efektif: memanfaatkan kayu apung yang secara alami terkumpul di tepian danau. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Quaternary Science Reviews.

Penelitian tersebut berfokus pada situs arkeologi Acheulean Gesher Benot Ya’aqov (GBY) di wilayah utara Israel yang berasal dari sekitar 780.000 tahun lalu. Para peneliti meyakini bahwa ketersediaan kayu bakar yang melimpah tidak hanya membantu menjaga api tetap menyala, tetapi juga menjadi salah satu alasan mengapa kelompok-kelompok manusia purba terus kembali menghuni lokasi tersebut selama puluhan ribu tahun. Tepian danau menyediakan kombinasi sumber daya yang lengkap, mulai dari air tawar, hewan buruan, tumbuhan pangan, bahan baku pembuatan alat, hingga pasokan kayu bakar yang mudah diperoleh.

Penelitian dilakukan oleh tim internasional dari Israel, Spanyol, dan Jerman yang terdiri atas Prof. Naama Goren-Inbar dari Hebrew University, Prof. Nira Alperson-Afil dan Dr. Yoel Melamed dari Bar-Ilan University, Prof. Ethel Allué dari Universitat Rovira i Virgili dan Institut Català de Paleoecologia, serta Prof. Brigitte Urban dari Leuphana University. Tim memanfaatkan kumpulan arang kuno yang terawetkan dengan sangat baik di situs tersebut, sesuatu yang sangat jarang ditemukan pada situs arkeologi dengan usia hampir 800.000 tahun.

Keberadaan arang dalam jumlah besar memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk mempelajari kehidupan sehari-hari para pengguna api paling awal. Berbeda dengan banyak situs prasejarah lain yang hanya menyimpan bukti pembakaran dalam jumlah terbatas, Gesher Benot Ya’aqov menyimpan catatan penggunaan api secara berulang selama puluhan ribu tahun.

Situs tersebut memiliki lebih dari dua puluh lapisan arkeologi yang menunjukkan bahwa manusia purba berkali-kali menghuni kawasan di tepian Danau Hula purba. Penggalian mengungkap berbagai alat batu dari batu api, batu kapur, dan basal, sisa-sisa hewan buruan, serta beragam tumbuhan seperti buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian yang dikumpulkan dari sekitar danau.

Salah satu lapisan bahkan memperlihatkan bukti adanya perburuan gajah bertaring lurus (straight-tusked elephant). Tengkorak dan tulang-tulang hewan tersebut ditemukan bersama alat batu dan sisa tumbuhan, dengan susunan yang menunjukkan bahwa hewan tersebut dipotong dan diolah di lokasi tersebut.

Menurut penelitian sebelumnya yang dipimpin Prof. Nira Alperson-Afil, api telah digunakan secara rutin oleh penghuni situs tersebut. Perapian menjadi pusat berbagai aktivitas penting, termasuk memasak makanan, membuat peralatan, dan melakukan interaksi sosial.

Untuk mengetahui jenis kayu yang digunakan sebagai bahan bakar, para peneliti menganalisis 266 fragmen arang menggunakan mikroskop. Struktur anatomi kayu di dalam arang memungkinkan identifikasi berbagai spesies tumbuhan yang pernah dibakar.

Hasil analisis menunjukkan keberadaan berbagai jenis tumbuhan, antara lain ash, willow, tanaman anggur, oleander, zaitun, ek, pistachio, dan delima. Arang dari pohon delima bahkan menjadi bukti paling awal mengenai keberadaan tumbuhan tersebut di kawasan Levant.

Para peneliti menemukan bahwa keanekaragaman spesies pada arang jauh lebih tinggi dibandingkan sisa-sisa tumbuhan lain seperti biji, buah, maupun kayu yang tidak terbakar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas mengumpulkan kayu bakar secara tidak langsung memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi vegetasi di sekitar permukiman manusia purba.

Seluruh spesies yang berhasil diidentifikasi menunjukkan bahwa kawasan tersebut terdiri atas habitat tepian danau yang lembap sekaligus hutan Mediterania yang lebih terbuka. Rekonstruksi lingkungan tersebut membantu menjelaskan bagaimana manusia purba memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di sekitarnya.

Salah satu temuan paling menarik adalah bahwa manusia purba tampaknya tidak memilih jenis kayu tertentu sebagai bahan bakar. Komposisi arang menunjukkan bahwa mereka kemungkinan besar memanfaatkan kayu apung yang hanyut dan terkumpul secara alami di sepanjang tepian danau.

Batang dan ranting yang terbawa arus air menciptakan pasokan kayu bakar yang melimpah dan mudah dijangkau. Komposisi spesies pada arang sesuai dengan jenis kayu yang diperkirakan tumbuh di sekitar danau, sehingga memperkuat dugaan bahwa manusia purba cukup mengumpulkan kayu yang telah disediakan oleh alam tanpa perlu mencari jenis tertentu.

Penelitian juga menemukan bahwa area dengan konsentrasi arang yang tinggi sering kali bertepatan dengan banyaknya sisa ikan, terutama gigi ikan mas berukuran besar. Pola tersebut memperkuat bukti bahwa manusia purba telah memasak ikan menggunakan api yang dikendalikan hampir 800.000 tahun yang lalu.

Menurut para peneliti, seluruh temuan tersebut menunjukkan bahwa penghuni Gesher Benot Ya’aqov memiliki kemampuan kognitif yang cukup maju. Mereka mampu mengelola api secara konsisten, mengorganisasi berbagai aktivitas di sekitar perapian, serta memanfaatkan lingkungan sekitar secara efisien untuk mendukung kehidupan sehari-hari.

Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa mengumpulkan bahan bakar kemungkinan tidak memerlukan perencanaan serumit berburu hewan besar atau membuat alat batu. Manusia purba tampaknya memanfaatkan sumber daya yang paling mudah diperoleh sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga untuk aktivitas lainnya.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan manusia purba dalam mempertahankan penggunaan api tidak hanya bergantung pada kemampuan mengendalikannya, tetapi juga pada kecerdasan mereka dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Kayu apung yang terkumpul secara alami di tepian danau diduga menjadi pasokan bahan bakar yang stabil sehingga memungkinkan api terus digunakan selama ribuan tahun. Penelitian ini memberikan gambaran baru mengenai bagaimana kondisi lingkungan setempat dapat membentuk pola permukiman, strategi bertahan hidup, dan perkembangan teknologi manusia pada Kala Pleistosen Tengah.

Diolah dari artikel:
“Scientists discover what kept ancient campfires burning for generations” oleh The Hebrew University of Jerusalem. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260624025502.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *