Sumber ilustrasi: Pixabay
24 Juni 2026 11.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.06.2026] Penanaman pohon di lahan-lahan pertanian sering digunakan sebagai penghalang terhadap angin kencang, melindungi tanaman, dan menciptakan ruang hidup tambahan bagi satwa liar. Selain itu, upaya ini dilihat sebagai cara untuk meningkatkan biodiversitas atau keanekaragaman hayati, dimana semakin banyak pohon, semakin baik dampaknya bagi lingkungan tersebut.
Akan tetapi, dalam sebuah studi terbaru, diungkapkan sesuatu yang lebih kompleks lagi. Di lanskap lahan basah pertanian, terutama wilayah yang menjadi habitat burung padang rumput dan burung lahan basah, penanaman pohon justru dapat menimbulkan dampak yang berbeda bagi kelompok burung yang berbeda.
Sebuah tim peneliti yang mempelajari daerah pesisir barat Jepang bagian tengah menemukan bahwa shelterbelt, yaitu deretan pohon yang ditanam sebagai penahan angin, tidak menguntungkan semua spesies burung secara menyeluruh. Deretan pohon tersebut memang dapat menyediakan habitat bagi burung yang menyukai semak atau tepian habitat, tetapi pada saat yang sama dapat mengurangi kelimpahan dan keanekaragaman burung yang membutuhkan lanskap terbuka.
Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Environmental Management ini menjadi penting karena banyak program konservasi pertanian mendorong penanaman pohon dan pagar tanaman sebagai strategi untuk meningkatkan biodiversitas. Dalam banyak kasus, fitur berkayu seperti shelterbelt dianggap hampir selalu bermanfaat bagi satwa liar.
Yang menjadi masalah adalah sebagian besar bukti yang mendukung manfaat shelterbelt berasal dari sistem pertanian kering dan padang rumput di Eropa serta Amerika Utara. Pengaruh dari shelterbelt di lanskap pertanian basah seperti sawah masih jauh lebih sedikit dipahami. Padahal ekosistem semacam ini sangat luas di Asia dan berfungsi sebagai habitat penting bagi banyak spesies burung.
Sawah dan lahan basah pertanian memiliki peran ekologis yang unik. Selain menghasilkan pangan, kawasan tersebut juga dapat menjadi pengganti lahan basah alami yang semakin menyusut di berbagai belahan dunia.
Bagi burung yang singgah dari wilayah lain, lahan basah pertanian sering menjadi tempat yang penting dalam perjalanan panjang antarwilayah. Karena itu, perubahan kecil pada struktur lanskap dapat berdampak besar terhadap komunitas burung yang menggunakan kawasan tersebut.
Masumi Hisano dari Hiroshima University menjelaskan bahwa pertanyaan utama studi ini adalah apakah shelterbelt dan fitur linear berkayu lainnya benar-benar menguntungkan semua burung lahan pertanian secara setara, atau justru menciptakan pertukaran ekologis dengan merugikan spesies yang bergantung pada habitat terbuka.
Pertanyaan tersebut penting karena upaya konservasi yang dipandang baik dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak disengaja. Jikxa penanaman pohon mengurangi kualitas habitat bagi burung padang rumput dan burung lahan basah, maka strategi konservasi perlu dirancang dengan lebih hati-hati.
Untuk menyelidiki persoalan ini, para peneliti melakukan studi di lahan pertanian sekitar Danau Kahokugata di Jepang bagian tengah. Lanskap tersebut mencakup area sawah yang luas, ladang teratai, lahan pertanian budidaya, dan padang penggembalaan.
Wilayah sekitar Danau Kahokugata secara rutin mengalami angin musim dingin yang kuat dan badai. Karena itu, shelterbelt banyak digunakan untuk melindungi lahan pertanian dari kerusakan akibat angin.
Pada saat yang sama, Danau Kahokugata merupakan lokasi penting di sepanjang East Asian-Australasian Flyway, salah satu jalur migrasi burung utama. Burung migran menggunakan kawasan ini pada musim yang berbeda, baik sebagai tempat musim dingin maupun wilayah berkembang biak pada musim panas.
Hampir 300 spesies burung telah tercatat di kawasan tersebut. Jumlah ini menunjukkan bahwa Danau Kahokugata bukan hanya ruang produksi pertanian, tetapi juga bagian penting dari jaringan habitat burung regional.
Tim peneliti melakukan survei burung pada Februari dan Maret 2021, lalu kembali melakukan survei pada Juni 2023. Metode yang digunakan adalah point count, yaitu penghitungan burung dari titik pengamatan tertentu untuk mengukur kelimpahan dan keanekaragaman spesies.
Hasil survei memperlihatkan adanya pertukaran ekologis yang jelas. Shelterbelt mendukung keberadaan burung yang berasosiasi dengan semak dan tepi habitat, tetapi mengurangi burung yang bergantung pada ruang terbuka.
Hisano menjelaskan bahwa kelimpahan burung padang rumput lebih dari 70 persen lebih rendah di lokasi yang berada di sebelah shelterbelt dibandingkan lokasi terbuka yang berjarak sekitar satu kilometer.
Angka tersebut menunjukkan bahwa bahkan deretan pohon yang relatif sempit dapat mengubah komposisi komunitas burung dalam suatu lanskap. Dengan kata lain, shelterbelt bukan hanya elemen tambahan di tepi lahan, melainkan struktur ekologis yang dapat menentukan spesies mana yang dapat bertahan.
Menurut Hisano, cara sederhana untuk memahami dampak tersebut adalah dengan melihat shelterbelt seperti dinding ekologis. Bagi sebagian burung, deretan pohon menciptakan habitat baru. Bagi burung lain, terutama burung yang membutuhkan ruang terbuka untuk bersarang dan mencari makan, shelterbelt dapat menjadi penghalang.
Shelterbelt juga dapat meningkatkan risiko predasi. Burung yang hidup di ruang terbuka mungkin lebih rentan karena deretan pohon dapat menyediakan tempat bertengger atau berlindung bagi predator tertentu.
Analisis ini menunjukkan bahwa pengelolaan lanskap pertanian tidak bisa hanya berpegang pada prinsip menambah pohon sebanyak mungkin. Dalam beberapa konteks, terutama lahan basah pertanian, ruang terbuka justru merupakan komponen habitat yang harus dilindungi.
Para peneliti menekankan bahwa pohon tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Memahami di mana pohon ditanam, seberapa banyak, bagaimana susunannya, dan spesies burung apa yang menjadi sasaran konservasi menjadi hal yang lebih penting.
Hisano menjelaskan bahwa pengelolaan lahan pertanian yang ramah keanekaragaman hayati harus menyeimbangkan kompleksitas struktural dengan kebutuhan ekologis spesies habitat terbuka. Keseimbangan ini menjadi sangat penting di lanskap yang lahan basah alaminya sudah banyak dimodifikasi oleh manusia.
Temuan ini juga memberi peringatan bagi program konservasi pertanian. Banyak kebijakan mendorong penanaman pohon tanpa mempertimbangkan secara penuh bagaimana perubahan struktur lanskap dapat memengaruhi seluruh komunitas burung.
Untuk penelitian berikutnya, para ilmuwan ingin mengetahui bagaimana karakteristik shelterbelt memengaruhi satwa liar. Faktor seperti lebar, tinggi, jarak antarbarisan, konfigurasi, dan komposisi spesies pohon kemungkinan memiliki pengaruh berbeda terhadap burung di setiap wilayah dan musim.
Para peneliti juga ingin memahami efek tidak langsung dari shelterbelt, termasuk perubahan aktivitas predator dan konektivitas habitat. Faktor-faktor ini dapat memperkuat atau mengurangi dampak shelterbelt terhadap populasi burung.
Hisano menjelaskan bahwa tujuan akhirnya adalah membantu merancang kebijakan agri-lingkungan berbasis bukti untuk lanskap pertanian basah di seluruh dunia. Alih-alih mempromosikan satu solusi tunggal seperti menanam lebih banyak pohon di semua tempat, penelitian ini mendorong perencanaan lanskap yang memadukan habitat terbuka dan fitur berkayu secara seimbang.
Dengan pendekatan tersebut, lahan basah pertanian dapat tetap produktif bagi manusia sekaligus terus menjadi habitat penting bagi satwa liar. Strategi semacam ini menjadi semakin penting di tengah perubahan lingkungan yang cepat dan penyusutan habitat alami di berbagai kawasan.
Penelitian terbaru dari Hiroshima University menunjukkan bahwa penanaman pohon di lahan pertanian tidak selalu berdampak positif bagi semua jenis burung. Shelterbelt memang dapat membantu spesies yang hidup di semak dan tepi habitat, tetapi dapat mengurangi kelimpahan burung padang rumput serta keanekaragaman burung lahan basah yang membutuhkan ruang terbuka. Konservasi pertanian perlu mempertimbangkan kebutuhan spesies yang berbeda, sehingga penanaman pohon tidak dilakukan secara seragam, melainkan disusun melalui perencanaan lanskap yang menjaga keseimbangan antara habitat terbuka dan fitur berkayu.
Diolah dari artikel:
“More trees can mean fewer birds, new study reveals” oleh Hiroshima University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260620100426.htm