Manusia Bisa “Melihat” dengan Suara?

Sumber ilustrasi: Pixabay
04 Juni 2026 13.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [04.06.2026] Kemampuan untuk mengenali lingkungan sekitar umumnya dikaitkan dengan penglihatan. Akan tetapi sebagian orang tunanetra mampu membangun gambaran ruang di sekitar mereka menggunakan suara melalui proses yang dikenal sebagai ekolokasi. Teknik ini telah lama diketahui digunakan oleh kelelawar untuk mencari jalan dan menemukan mangsa, tetapi manusia juga dapat memanfaatkan prinsip yang sama untuk mengenali posisi objek di sekitarnya. Para ilmuwan telah mengetahui bahwa ekolokasi dapat mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan penglihatan serta meningkat melalui latihan. Meskipun demikian, mekanisme bagaimana informasi tersebut dikumpulkan dan diproses secara bertahap di dalam otak masih belum sepenuhnya dipahami.

Sebuah penelitian terbaru memberikan gambaran lebih rinci mengenai bagaimana para ahli ekolokasi memanfaatkan suara untuk bernavigasi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal eNeuro tersebut menunjukkan bahwa setiap suara klik yang dihasilkan memberikan tambahan informasi yang membantu membangun peta mental mengenai lingkungan sekitar.

Banyak orang tunanetra mengandalkan tongkat, anjing pemandu, atau perangkat GPS yang dapat dikenakan. Tetapi, ada sebagian orang memiliki kemampuan tambahan berupa ekolokasi. Teknik tersebut dilakukan dengan menghasilkan suara klik tajam menggunakan lidah, kemudian mendengarkan gema yang dipantulkan kembali untuk mengetahui posisi benda-benda di sekitar.

Para peneliti melaporkan bahwa aktivitas otak yang diamati menunjukkan adanya pembaruan terus-menerus terhadap representasi mental lingkungan setiap kali suara klik dan gema diterima. Dengan kata lain, kemampuan mengenali ruang tidak terbentuk sekaligus, melainkan disusun sedikit demi sedikit dari informasi yang terus bertambah.

Suara klik dan gema tidak hanya dapat memberikan petunjuk mengenai lokasi suatu objek, tetapi juga ukuran dan bahkan kemungkinan teksturnya. Prinsip yang sama telah lama diketahui digunakan oleh kelelawar ketika terbang pada malam hari.

Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa penggunaan ekolokasi pada manusia mampu mengaktifkan area otak yang biasanya berkaitan dengan penglihatan. Penelitian-penelitian tersebut juga menemukan bahwa kemampuan tersebut berkembang secara signifikan melalui latihan yang berulang.

Namun demikian, para ilmuwan masih berusaha memahami bagaimana proses penggabungan informasi tersebut terjadi secara langsung. Santani Teng, seorang ahli saraf kognitif di Smith-Kettlewell Eye Research Institute di San Francisco, berpendapat bahwa masih belum diketahui secara rinci bagaimana informasi dari setiap gema digabungkan menjadi suatu pemahaman yang lebih lengkap mengenai lingkungan sekitar. Bersama Haydée García-Lázaro, Teng mempelajari bagaimana otak manusia berpikir, belajar, dan memproses informasi.

Untuk menyelidiki mekanisme tersebut, para peneliti merekam suara klik dan gema yang dirancang seolah-olah dipantulkan dari objek yang berada di dekat pendengar. Rekaman tersebut kemudian diperdengarkan kepada dua kelompok sukarelawan yang memiliki kemampuan berbeda.

Kelompok pertama terdiri dari empat orang tunanetra yang merupakan ahli dalam menggunakan ekolokasi. Kelompok kedua terdiri dari 21 orang dengan penglihatan normal yang tidak memiliki pengalaman menggunakan teknik tersebut.

Setiap peserta mendengarkan serangkaian suara klik yang diikuti gema. Suara tersebut diperdengarkan dalam kelompok yang terdiri dari dua, lima, delapan, atau sebelas pasangan klik dan gema. Setelah setiap rangkaian selesai, para peserta diminta menentukan apakah objek berada di sisi kanan atau kiri mereka. Selama proses berlangsung, aktivitas otak para peserta direkam menggunakan elektroda yang dipasang di kepala.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para ahli ekolokasi tunanetra memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dalam menentukan arah objek dibandingkan peserta dengan penglihatan normal. Salah seorang ahli ekolokasi bahkan mampu mengenali arah objek hanya setelah mendengarkan dua pasangan klik dan gema.

Data aktivitas otak menunjukkan bahwa setiap pasangan klik dan gema memberikan rincian tambahan mengenai lingkungan sekitar. Monica Gori dari Italian Institute of Technology dan Institute for Human & Machine Cognition, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, berpendapat bahwa para ahli ekolokasi menggabungkan informasi tambahan tersebut secara bertahap seiring waktu, bukan berdasarkan satu gambaran tunggal yang diperoleh sekaligus.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan ekolokasi melibatkan proses akumulasi informasi yang terus berkembang. Setiap gema memberikan detail baru yang kemudian dipadukan dengan informasi sebelumnya untuk membentuk representasi ruang yang semakin lengkap.

García-Lázaro menjelaskan bahwa penelitian selanjutnya akan difokuskan untuk memahami faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi ahli ekolokasi yang lebih baik. García-Lázaro secara khusus tertarik untuk mempelajari bagaimana para ahli dapat belajar mengabaikan suara klik yang mereka hasilkan dan hanya berfokus pada gema yang kembali.

Santani Teng berpendapat bahwa kemampuan tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat magis. Menurut Teng, para ahli ekolokasi memiliki keterampilan yang sangat luar biasa dan kemampuan tersebut memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa manusia dapat memanfaatkan suara untuk membangun peta mental lingkungan secara bertahap melalui ekolokasi. Setiap pasangan klik dan gema memberikan informasi baru yang diproses oleh otak sehingga memungkinkan para ahli ekolokasi mengenali posisi objek dengan sangat akurat. Penelitian ini juga membuka peluang untuk memahami lebih dalam bagaimana otak mengolah informasi sensorik dan bagaimana kemampuan tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas hidup orang dengan gangguan penglihatan.

Diolah dari artikel:
“Some people use echolocation to get around. Here’s how it works” oleh Nora Bradford. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/human-echolocation-blind-navigate-brain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *