Sumber ilustrasi: Magnific
31 Juli 2026 08.20 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [31.07.2026] Mengapa sebagian mimpi terasa begitu nyata hingga sulit dibedakan dari pengalaman sebenarnya, sementara mimpi lain hanya berupa potongan-potongan peristiwa yang membingungkan? Pertanyaan tersebut telah lama menjadi perhatian para ilmuwan yang berusaha memahami bagaimana otak bekerja ketika seseorang tertidur.
Selama bertahun-tahun, mimpi sering dianggap sebagai hasil aktivitas otak yang berlangsung secara acak. Berbagai teori menyebut mimpi hanya merupakan pantulan pengalaman sehari-hari atau konsekuensi dari proses biologis selama tidur. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa mimpi kemungkinan memiliki struktur yang jauh lebih kompleks.
Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh peneliti dari IMT School for Advanced Studies Lucca menemukan bahwa mimpi tidak sekadar menyusun kembali pengalaman yang telah dialami seseorang. Otak justru tampak membangun kembali realitas dengan menggabungkan ingatan, emosi, imajinasi, karakter pribadi, hingga pengalaman sosial yang sedang berlangsung.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa peristiwa besar yang dialami masyarakat, seperti pandemi COVID-19, dapat meninggalkan jejak yang jelas dalam isi mimpi. Temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai bagaimana otak memproses pengalaman ketika seseorang sedang tidur.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Psychology menganalisis lebih dari 3.700 laporan mengenai mimpi dan pengalaman ketika terjaga. Seluruh data berasal dari 287 peserta berusia antara 18 hingga 70 tahun.
Selama dua minggu, setiap peserta diminta mencatat mimpi yang dialami setiap bangun tidur sekaligus mendokumentasikan berbagai pengalaman yang terjadi sepanjang hari.
Selain laporan mimpi, para peneliti juga mengumpulkan informasi mengenai kualitas tidur, kebiasaan tidur, kepribadian, kemampuan kognitif, serta berbagai karakteristik psikologis setiap peserta.
Gabungan berbagai data tersebut memungkinkan para peneliti membandingkan pengalaman nyata seseorang dengan dunia yang muncul di dalam mimpinya.
Untuk mengolah ribuan laporan tertulis, tim peneliti menggunakan Natural Language Processing (NLP), yaitu teknologi kecerdasan buatan yang mampu menganalisis pola bahasa, hubungan antarkata, serta makna yang terkandung di dalam suatu teks.
Penggunaan NLP memungkinkan analisis dilakukan secara konsisten terhadap ribuan laporan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penilaian subjektif para peneliti.
Teknologi tersebut digunakan untuk mengukur struktur semantik dari setiap laporan. Struktur semantik menggambarkan bagaimana kata, gagasan, serta konsep saling terhubung sehingga membentuk makna di dalam suatu cerita.
Hasil analisis menunjukkan bahwa mimpi tidak sepenuhnya acak maupun bersifat kacau. Isi mimpi memperlihatkan pola yang dipengaruhi oleh berbagai karakteristik individu, seperti kualitas tidur, kecenderungan pikiran mengembara (mind-wandering), dan perhatian seseorang terhadap pengalaman bermimpi.
Peristiwa yang sedang berlangsung di lingkungan sosial juga terbukti memengaruhi tema-tema yang muncul di dalam mimpi.
Ketika para peneliti membandingkan pengalaman saat terjaga dengan isi mimpi, ditemukan bahwa otak tidak sekadar memutar ulang kejadian sehari-hari.
Sebaliknya, berbagai unsur dari kehidupan nyata mengalami transformasi sebelum muncul dalam mimpi.
Tempat kerja, rumah sakit, ruang kelas, maupun lokasi lain yang dikenal seseorang dapat muncul kembali, tetapi biasanya digabungkan dengan tempat yang sama sekali berbeda, sudut pandang yang berubah-ubah, ataupun lingkungan yang asing.
Berbagai pengalaman yang sebenarnya tidak saling berkaitan juga dapat menyatu menjadi satu adegan yang terasa sangat nyata.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa mimpi merupakan proses penyusunan ulang realitas, bukan sekadar penyimpanan atau pemutaran kembali memori.
Otak tampaknya menggabungkan pengalaman masa lalu dengan imajinasi, harapan, serta kemungkinan pengalaman di masa depan sehingga menghasilkan skenario yang benar-benar baru.
Proses tersebut menjelaskan mengapa banyak mimpi terasa sangat hidup, emosional, mendalam, bahkan sering kali tampak surealis.
Penelitian juga menemukan bahwa cara seseorang bermimpi dipengaruhi oleh karakter pribadinya.
Peserta yang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami mind-wandering ketika terjaga cenderung melaporkan mimpi yang berubah sangat cepat dan terdiri atas rangkaian adegan yang terfragmentasi.
Perpindahan antarperistiwa maupun antarlokasi dalam kelompok tersebut terjadi jauh lebih cepat dibandingkan peserta lainnya.
Sebaliknya, peserta yang menganggap mimpi sebagai pengalaman yang bermakna cenderung melaporkan mimpi dengan detail yang jauh lebih kaya.
Deskripsi mimpi dari kelompok tersebut memperlihatkan rincian visual, suasana, dan pengalaman sensorik yang lebih kuat sehingga mimpi terasa menyerupai pengalaman nyata.
Para peneliti menjelaskan bahwa hasil tersebut belum membuktikan bahwa keyakinan terhadap makna mimpi secara langsung menyebabkan mimpi menjadi lebih jelas.
Namun, penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara cara seseorang memandang mimpi dengan bagaimana mimpi tersebut dialami maupun diingat.
Tim peneliti juga membandingkan laporan mimpi yang dikumpulkan selama masa karantina COVID-19 oleh ilmuwan dari Sapienza University of Rome dengan laporan yang dikumpulkan beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah pandemi.
Selama masa karantina, isi mimpi memperlihatkan emosi yang lebih kuat serta lebih banyak menggambarkan pembatasan, hambatan, keterkurungan, dan berbagai bentuk keterbatasan lainnya.
Tema-tema tersebut mencerminkan situasi yang sedang dihadapi masyarakat pada masa pandemi.
Seiring berjalannya waktu, unsur-unsur tersebut secara bertahap semakin berkurang dari laporan mimpi para peserta.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa isi mimpi dapat berubah mengikuti proses penyesuaian psikologis manusia terhadap berbagai peristiwa besar dalam kehidupan.
Mimpi dengan demikian berpotensi menjadi petunjuk mengenai bagaimana pikiran beradaptasi terhadap perubahan sosial maupun tekanan psikologis dalam jangka panjang.
Valentina Elce, peneliti dari IMT School for Advanced Studies Lucca sekaligus penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa mimpi bukan sekadar cerminan pengalaman masa lalu, melainkan proses dinamis yang dibentuk oleh identitas seseorang serta berbagai pengalaman hidup yang sedang dijalani.
Valentina Elce juga menjelaskan bahwa penggunaan data dalam jumlah besar yang dipadukan dengan metode komputasional memungkinkan pola-pola dalam isi mimpi ditemukan dengan cara yang sebelumnya sulit dilakukan.
Penelitian tersebut juga memperlihatkan potensi besar kecerdasan buatan dalam bidang ilmu tidur dan ilmu saraf.
Model NLP mampu mengenali struktur serta makna laporan mimpi dengan tingkat akurasi yang sebanding dengan penilaian manusia independen.
Kemampuan tersebut membuka peluang untuk menganalisis kumpulan mimpi dalam jumlah jauh lebih besar dengan hasil yang konsisten dan dapat diulang.
Pendekatan tersebut berpotensi membantu penelitian mengenai kesadaran, memori, pemrosesan emosi, hingga berbagai gangguan kesehatan mental.
Selama ini mimpi menjadi salah satu fenomena psikologis yang paling sulit dipelajari karena sifatnya sangat personal dan sering kali sulit dijelaskan melalui bahasa.
Analisis bahasa berbasis kecerdasan buatan memungkinkan berbagai pola tersembunyi dalam mimpi diungkap secara lebih sistematis dibandingkan pendekatan tradisional.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mimpi merupakan proses aktif ketika otak menyusun ulang berbagai unsur realitas, bukan sekadar memutar kembali pengalaman sehari-hari. Kepribadian, kualitas tidur, kecenderungan pikiran mengembara, pandangan terhadap mimpi, serta berbagai peristiwa sosial besar seperti pandemi COVID-19 terbukti memengaruhi isi dan karakter mimpi seseorang. Penggunaan kecerdasan buatan melalui Natural Language Processing juga membuka pendekatan baru untuk memahami hubungan antara mimpi, kesadaran, ingatan, emosi, dan kesehatan mental melalui analisis data dalam skala yang jauh lebih besar.
Diolah dari artikel:
“Your dreams aren’t random. Your brain is rewriting reality” oleh IMT School for Advanced Studies Lucca. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260725105731.htm