Sungai Dunia Kehabisan Oksigen?

Sumber ilustrasi: Unsplash
18 Mei 2026 11.20 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [18.05.2026] Oksigen terlarut didalam sungai merupakan komponen kunci dalam menjaga kesehatan ekosistem sungai. Oksigen ini mendukung kehidupan organisme air, menjaga keseimbangan keanekaragaman hayati, serta mengatur berbagai proses biogeokimia yang penting. Dalam beberapa dekade terakhir, kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim terhadap sistem air tawar semakin meningkat, terutama terkait perubahan suhu, aliran air, dan kualitas lingkungan perairan.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Science Advances mengungkap bahwa sungai-sungai di seluruh dunia mengalami penurunan kadar oksigen secara signifikan. Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Kun Shi dari Chinese Academy of Sciences ini menganalisis lebih dari 21.000 sistem sungai secara global dalam rentang waktu hampir empat dekade, dari tahun 1985 hingga 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 78,8 persen sungai mengalami deoksigenasi dengan laju rata-rata penurunan sebesar -0,045 mg per liter per dekade.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sungai tropis menjadi wilayah yang paling terdampak. Sungai-sungai yang berada di antara 20 derajat lintang selatan hingga 20 derajat lintang utara, termasuk di wilayah India, mengalami penurunan oksigen paling signifikan. Temuan ini berbeda dari asumsi sebelumnya yang memperkirakan bahwa wilayah lintang tinggi dengan pemanasan lebih cepat akan menghadapi dampak terbesar. Sungai tropis yang sejak awal memiliki kadar oksigen lebih rendah menjadi lebih rentan ketika terjadi penurunan lanjutan, sehingga meningkatkan risiko hipoksia yang dapat mengancam kehidupan organisme air.

Penelitian ini juga mengkaji pengaruh kondisi aliran sungai dan keberadaan bendungan terhadap tingkat deoksigenasi. Sungai dengan kondisi aliran rendah maupun tinggi menunjukkan laju penurunan oksigen yang lebih kecil dibandingkan kondisi aliran normal. Pada kondisi aliran rendah, laju deoksigenasi tercatat lebih rendah sebesar 18,6 persen, sementara pada aliran tinggi penurunannya sekitar 7 persen lebih rendah. Selain itu, dampak bendungan bergantung pada kedalaman waduk, di mana waduk dangkal cenderung mempercepat kehilangan oksigen, sedangkan waduk yang lebih dalam justru membantu mengurangi penurunan tersebut.

Faktor utama yang mendorong penurunan oksigen global dalam sungai adalah berkurangnya kelarutan oksigen akibat peningkatan suhu yang disebabkan oleh perubahan iklim. Penelitian menunjukkan bahwa faktor ini menyumbang sekitar 62,7 persen dari total penurunan oksigen. Selain itu, metabolisme ekosistem yang dipengaruhi oleh suhu, cahaya, dan aliran air berkontribusi sekitar 12 persen terhadap deoksigenasi. Peristiwa gelombang panas juga memainkan peran penting dengan kontribusi sebesar 22,7 persen, sekaligus meningkatkan laju penurunan oksigen dibandingkan kondisi suhu rata-rata.

Keterlibatan peneliti seperti Dr. Qi Guan dalam studi ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data besar dan algoritma pembelajaran mesin mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perubahan lingkungan global. Para peneliti menekankan bahwa sungai tropis perlu menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi untuk mencegah dampak yang lebih parah terhadap ekosistem air tawar.

Penurunan oksigen terlarut di sungai-sungai dunia yang dipicu oleh perubahan iklim, terutama di wilayah tropis, menunjukkan ancaman serius terhadap keberlangsungan ekosistem air tawar, dengan faktor suhu, gelombang panas, serta dinamika aliran dan bendungan berperan dalam mempercepat atau memperlambat proses tersebut.

Diolah dari artikel:
“Scientists warn that the world’s rivers are running out of oxygen” oleh Chinese Academy of Sciences Headquarters. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260515233327.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *