Sumber ilustrasi: Unsplash
11 Maret 2026 09.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [11.03.2026] Dalam berbagai karya fiksi, listrik sering digambarkan sebagai kekuatan yang dapat dikendalikan dengan mudah. Dalam serial Pokémon, misalnya, Pikachu mampu menembakkan serangan listrik dari kantong di pipinya. Serangan khas bernama Thunderbolt bahkan digambarkan memiliki kekuatan hingga 100.000 volt.
Konsep serupa juga muncul dalam berbagai cerita populer lainnya. Di dunia Marvel Universe, Thor menggunakan palu Mjölnir untuk melemparkan petir. Sementara dalam serial animasi Avatar: The Last Airbender, karakter Azula digambarkan mampu mengendalikan petir dan mengarahkannya ke musuh.
Namun pada kenyataannya, mengendalikan listrik jauh lebih rumit dibandingkan dalam cerita fiksi. Listrik merupakan aliran partikel bermuatan yang biasanya memerlukan jalur tertentu, seperti kabel logam, agar dapat bergerak. Udara bukan penghantar listrik yang baik, sehingga membuat listrik mengalir bebas di udara dan menuju arah tertentu merupakan tantangan besar bagi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Meskipun demikian, para ilmuwan menemukan bahwa alam menyediakan beberapa contoh organisme yang mampu menghasilkan listrik secara alami. Selain itu, perkembangan teknologi juga mulai menunjukkan cara-cara baru untuk mengarahkan energi listrik yang sangat besar, termasuk petir.
Salah satu contoh kemampuan menghasilkan listrik di alam dapat ditemukan pada electric eel atau belut listrik, yakni belut yang hidup di sungai Amazon. Belut listrik dewasa dapat tumbuh hingga sekitar 2,5 meter dengan berat mencapai 18 kilogram.
Penelitian menunjukkan bahwa belut listrik mampu mengendalikan kapan dan bagaimana energi listrik digunakan. Ahli biologi Raimundo Nonato Mendes-Júnior dari Chico Mendes Institute for Biodiversity Conservation menjelaskan bahwa hewan tersebut memiliki kemampuan luar biasa dalam mengontrol pelepasan listrik dari tubuhnya.
Belut listrik menggunakan sengatan lemah untuk mendeteksi mangsa atau berkomunikasi dengan individu lain. Ketika menghadapi ancaman atau saat berburu, belut listrik dapat menghasilkan sengatan yang jauh lebih kuat. Penelitian menunjukkan bahwa sengatan maksimum dapat mencapai sekitar 860 volt, atau sekitar tujuh kali lebih besar dibandingkan listrik dari stopkontak rumah di Amerika Serikat.
Kemampuan ini berasal dari ribuan sel khusus yang disebut elektrosit. Sel-sel tersebut bekerja seperti baterai kecil yang tersusun dalam barisan panjang di dalam tubuh belut. Ketika sistem saraf mengirim sinyal, seluruh elektrosit dapat aktif secara bersamaan dan menghasilkan lonjakan listrik yang dilepaskan ke lingkungan sekitar.
Karena air menyebarkan listrik, kekuatan sengatan akan melemah sebelum mencapai target. Dalam situasi tertentu, seperti ketika menghadapi predator yang sebagian berada di atas permukaan air seperti caiman, belut listrik dapat melompat keluar dari air. Perilaku tersebut memungkinkan sengatan listrik mengenai target secara langsung tanpa banyak berkurang akibat penyebaran energi di air.
Walaupun kemampuan belut listrik sangat mengesankan, kekuatan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan energi yang terdapat dalam petir. Para ilmuwan kemudian mempelajari bagaimana petir terbentuk dan apakah fenomena tersebut dapat diarahkan secara sengaja.
Petir terbentuk ketika listrik statis menumpuk di dalam awan badai. Tabrakan antara partikel es kecil di dalam awan menyebabkan perpindahan elektron, sehingga sebagian wilayah awan menjadi sangat bermuatan negatif.
Dalam kondisi normal, udara sulit menghantarkan listrik. Namun ketika muatan listrik cukup besar, udara dapat terionisasi dan membentuk plasma, yaitu kumpulan partikel bermuatan bebas. Fisikawan Jerry Moloney dari University of Arizona menjelaskan bahwa plasma tersebut dapat bertindak seperti kabel tak terlihat di langit yang memungkinkan arus listrik bergerak.
Energi dalam satu sambaran petir sangat besar. Peneliti fisika atmosfer Carmen Guerra-Garcia dari Massachusetts Institute of Technology menyebutkan bahwa energi dalam satu sambaran dapat cukup untuk memasok listrik rumah selama sekitar satu minggu.
Petir biasanya memilih jalur termudah menuju permukaan bumi. Karena alasan tersebut, petir sering menyambar objek tinggi seperti pohon atau menara. Fenomena ini menjadi dasar penemuan penangkal petir oleh Benjamin Franklin, yang menggunakan batang logam tinggi untuk mengalihkan sambaran petir agar tidak merusak bangunan.
Penelitian modern bahkan menunjukkan bahwa arah petir dapat dipengaruhi dengan teknologi tertentu. Pada tahun 2021, para ilmuwan di Switzerland berhasil memandu petir menggunakan sinar laser berdaya tinggi selama badai.
Laser menghasilkan berkas cahaya yang sangat terfokus dan bergerak lurus. Jika energinya cukup besar, sinar tersebut dapat melepaskan elektron dari molekul udara dan membentuk jalur plasma tipis. Jalur tersebut kemudian berfungsi sebagai rute yang dapat diikuti oleh sambaran petir.
Dalam percobaan tersebut, sambaran petir mengikuti jalur plasma yang dibuat oleh laser sejauh sekitar 50 meter sebelum mencapai penangkal petir di sebuah menara. Temuan tersebut menunjukkan bahwa secara teori arah petir dapat dikendalikan dengan menciptakan jalur plasma di udara.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa konsep ini secara prinsip memungkinkan pembuatan jalur listrik di berbagai arah dengan menggunakan laser. Jika muatan listrik yang cukup besar tersedia, energi tersebut dapat dilepaskan mengikuti jalur plasma yang telah dibuat.
Namun demikian metode tersebut masih sangat berbahaya dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari. Risiko sambaran langsung dari petir sangat besar sehingga eksperimen semacam ini memerlukan peralatan khusus serta prosedur keselamatan yang ketat.
Penelitian mengenai listrik di alam menunjukkan bahwa beberapa organisme seperti belut listrik memiliki kemampuan alami untuk menghasilkan dan mengendalikan energi listrik. Namun kekuatan yang dihasilkan masih jauh lebih kecil dibandingkan energi yang terdapat dalam fenomena petir di atmosfer. Di sisi lain, pemahaman ilmiah tentang pembentukan petir memperlihatkan bahwa listrik dapat mengalir melalui jalur plasma yang terbentuk di udara.
Eksperimen menggunakan laser untuk memandu petir menunjukkan bahwa secara teori arah sambaran listrik raksasa tersebut dapat dikendalikan. Meskipun teknologi tersebut masih dalam tahap penelitian dan sangat berbahaya untuk digunakan secara luas, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pengendalian energi listrik di udara bukanlah hal yang sepenuhnya mustahil di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Could a person ever wield lightning as a weapon?” oleh Celina Zhao.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/lightning-weapon-guide-electricity