Sumber ilustrasi: Unsplash
22 April 2026 17.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [22.04.2026] Pada bulan juni 2024, sebuah kelompok peneliti dari Penn State meteorology and atmospheric science melakukan peneliti meteorologi dan ilmu atmosfer melakukan ekspedisi untuk mengejar badai menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi dengan instrumen pengamatan khusus. Fokus utama penelitian ini adalah fenomena yang dikenal sebagai corona discharge, yaitu semburan kecil listrik yang muncul di ujung daun dan berpotensi menghasilkan cahaya samar dalam spektrum ultraviolet.
Tim peneliti yang dipimpin oleh William Brune bersama Patrick McFarland, Jena Jenkins, dan David Miller awalnya melakukan pengamatan di wilayah Florida karena frekuensi badai yang tinggi. Akan tetapi, kondisi cuaca yang tidak mendukung selama beberapa minggu pertama sehingga tidak menghasilkan data yang signifikan.
Terobosan terjadi ketika tim berpindah ke wilayah North Carolina. Dalam kondisi badai yang berlangsung lebih lama, para peneliti berhasil merekam aktivitas corona discharge pada pohon sweetgum dan pinus loblolly. Pengamatan ini menjadi bukti pertama yang mengonfirmasi keberadaan fenomena tersebut di alam bebas, yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters. Patrick McFarland menyampaikan bahwa penemuan tersebut menunjukkan bahwa teori yang telah berkembang selama lebih dari setengah abad akhirnya dapat dibuktikan melalui observasi langsung.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa corona discharge terbentuk akibat ketidakseimbangan muatan listrik selama badai. Awan bermuatan negatif menarik muatan positif dari tanah yang kemudian mengalir melalui struktur pohon menuju ujung daun. Pada titik-titik kecil tersebut, medan listrik menjadi cukup kuat untuk menghasilkan pancaran cahaya ultraviolet yang sangat lemah.
Fenomena ini tidak hanya menarik dari sisi fisika atmosfer, tetapi juga memiliki implikasi kimia yang penting. Radiasi ultraviolet yang dihasilkan mampu memecah molekul uap air dan membentuk senyawa hidroksil, yang dikenal sebagai agen oksidator utama di atmosfer. Senyawa ini berperan dalam memecah polutan udara, termasuk gas rumah kaca seperti metana, sehingga berpotensi membantu proses pembersihan alami atmosfer.
Penelitian sebelumnya dalam skala laboratorium telah menunjukkan hubungan antara emisi ultraviolet dari corona discharge dan pembentukan hidroksil. Dalam eksperimen tersebut, cabang pohon diberi pulsa listrik untuk mensimulasikan kondisi badai. Hasil pengamatan lapangan memperkuat temuan tersebut, meskipun juga ditemukan kerusakan kecil pada daun di titik terjadinya fenomena.
Untuk mendukung pengamatan di lapangan, para peneliti mengembangkan sistem teleskop khusus yang mampu mendeteksi cahaya ultraviolet dengan presisi tinggi. Perangkat ini memungkinkan pemisahan sinyal corona dari gangguan cahaya lain seperti sinar matahari, sehingga fenomena yang hampir tidak terlihat oleh mata manusia dapat direkam dengan jelas.
Melalui sistem tersebut, tim berhasil mencatat ratusan peristiwa corona dalam satu badai. Patrick McFarland menjelaskan bahwa fenomena ini tampak sebagai kilauan halus yang tersebar luas di pucuk pohon saat badai berlangsung, serta memiliki potensi dampak terhadap interaksi antara vegetasi dan atmosfer.
Meskipun keberadaan corona discharge kini telah dikonfirmasi di alam, sejumlah pertanyaan masih terbuka. Para peneliti masih menyelidiki apakah fenomena ini memberikan dampak negatif terhadap kesehatan pohon atau justru memiliki manfaat tertentu bagi ekosistem. Kolaborasi dengan ahli ekologi dan biologi sedang dilakukan untuk memahami peran fenomena ini secara lebih mendalam.
Penemuan terbaru menunjukkan bahwa fenomena listrik pada pucuk pohon selama badai tidak hanya benar-benar terjadi di alam, tetapi juga berpotensi memainkan peran penting dalam proses pembersihan udara melalui pembentukan senyawa oksidator. Bukti observasi langsung ini membuka perspektif baru mengenai interaksi antara hutan dan atmosfer, sekaligus menegaskan bahwa masih banyak proses alam yang belum sepenuhnya dipahami.
Diolah dari artikel:
“Scientists just captured trees glowing with electricity during storms” oleh Penn State. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260421042805.htm