Paus Bungkuk Pecahkan Rekor Migrasi hingga 15.000 Kilometer

Sumber ilustrasi: Pixabay
21 Mei 2026 11.20 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [21.05.2026] Migrasi paus bungkuk telah lama menjadi salah satu fenomena alam paling mengagumkan di lautan dunia. Selama ini, para ilmuwan memahami bahwa paus bungkuk melakukan perjalanan ribuan kilometer setiap tahun antara wilayah makan di perairan dingin dan wilayah berkembang biak di perairan tropis. Akan tetapi sebagian besar penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perpindahan tersebut umumnya terjadi dalam satu jalur migrasi yang relatif konsisten antar wilayah tertentu.

Meski demikian, masih terdapat banyak keterbatasan dalam memahami sejauh mana paus bungkuk dapat berpindah antar populasi yang berbeda. Keterbatasan ini terutama disebabkan oleh sulitnya melacak individu paus di lautan terbuka dalam jangka waktu panjang. Dengan kemajuan teknologi serta meningkatnya kontribusi sains warga, data baru mulai mengungkap bahwa kemampuan migrasi paus bungkuk mungkin jauh melampaui perkiraan sebelumnya.

Penelitian terbaru mendokumentasikan perjalanan luar biasa paus bungkuk yang berpindah antara Australia bagian timur dan Brasil dengan jarak lebih dari 14.000 kilometer melintasi samudra terbuka. Temuan ini menjadi rekor jarak terjauh yang pernah dikonfirmasi antara pengamatan individu paus bungkuk di dunia.

Identifikasi dilakukan melalui perbandingan ribuan foto ekor paus atau fluke, yang memiliki pola unik pada setiap individu. Metode ini memungkinkan peneliti untuk melacak paus yang sama meskipun diamati dalam rentang waktu puluhan tahun dan lokasi yang sangat berjauhan.

Salah satu paus pertama kali tercatat di Hervey Bay, Queensland, pada tahun 2007 dan kembali terlihat pada tahun 2013 di lokasi yang sama sebelum akhirnya teridentifikasi di dekat São Paulo, Brasil, pada tahun 2019. Jarak minimum antara dua wilayah tersebut mencapai sekitar 14.200 kilometer, meskipun para peneliti meyakini jarak sebenarnya lebih panjang karena rute migrasi yang diambil tidak diketahui secara pasti.

Kasus kedua menunjukkan hasil yang lebih ekstrem. Seekor paus yang pertama kali diamati pada tahun 2003 di Abrolhos Bank, Brasil, kemudian ditemukan kembali pada tahun 2025 di Hervey Bay, Australia. Jarak perpindahan yang tercatat mencapai 15.100 kilometer, menjadikannya pergerakan terpanjang yang pernah didokumentasikan untuk satu individu paus bungkuk.

Stephanie Stack dari Griffith University menjelaskan bahwa pencapaian ini hanya dapat terungkap melalui investasi jangka panjang dalam penelitian lintas dekade serta kerja sama internasional. Stephanie Stack juga menekankan bahwa data yang dikumpulkan dari waktu dan lokasi berbeda tetap dapat dihubungkan berkat dokumentasi yang konsisten.

Penelitian ini memanfaatkan lebih dari 19.000 foto fluke yang dikumpulkan sejak tahun 1984 hingga 2025, baik oleh peneliti profesional maupun kontributor sains warga melalui platform Happywhale. Proses analisis melibatkan perangkat lunak pengenalan gambar otomatis yang kemudian diverifikasi secara manual untuk memastikan keakuratan identifikasi.

Cristina Castro dari Pacific Whale Foundation menyampaikan bahwa kontribusi masyarakat memiliki peran penting dalam penelitian ini. Cristina Castro menegaskan bahwa setiap foto yang diunggah membantu memperluas pemahaman tentang biologi paus dan memungkinkan penemuan pergerakan ekstrem yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Meskipun jarak migrasi yang ditemukan sangat besar, fenomena ini tergolong sangat langka. Dari hampir 20.000 paus yang teridentifikasi selama lebih dari empat dekade, hanya dua individu yang tercatat melakukan perpindahan antar wilayah berkembang biak yang sangat jauh tersebut.

Para ilmuwan menilai bahwa perpindahan langka ini tetap memiliki dampak signifikan terhadap populasi paus. Stephanie Stack menjelaskan bahwa perpindahan individu antar wilayah dapat membantu menjaga keanekaragaman genetik serta memungkinkan penyebaran budaya seperti pola nyanyian paus yang dapat berpindah antar populasi.

Temuan ini juga mendukung hipotesis “Southern Ocean Exchange”, yang menyatakan bahwa paus dari populasi berbeda dapat bertemu di wilayah makan yang sama di Antarktika sebelum kembali melalui jalur migrasi yang berbeda. Perubahan lingkungan, termasuk perubahan es laut dan distribusi krill sebagai sumber makanan utama, diduga dapat memengaruhi pola migrasi tersebut di masa depan.

Migrasi paus bungkuk yang melintasi lebih dari 15.000 kilometer menunjukkan bahwa kemampuan jelajah spesies ini jauh lebih luas dari yang sebelumnya dipahami, sekaligus mengungkap pentingnya kolaborasi global dan sains warga dalam penelitian kelautan. Meskipun kejadian ini sangat jarang, perpindahan antar populasi memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman genetik dan dinamika budaya paus, serta memberikan wawasan baru tentang bagaimana perubahan lingkungan dapat memengaruhi pola migrasi di masa mendatang.

Diolah dari artikel:
“Humpback whale breaks migration record with 15,000 kilometer ocean journey” oleh Griffith University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260519224303.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *