Sumber ilustrasi: Pixabay
20 Mei 2026 12.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [20.05.2026] Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan memahami bahwa banyak spesies tumbuhan telah hilang dari alam liar akibat perubahan lingkungan, aktivitas manusia, dan keterbatasan pemantauan di wilayah terpencil. Secara global, diperkirakan ratusan spesies tumbuhan telah dinyatakan punah sejak abad ke-18, terutama karena kurangnya data pengamatan yang berkelanjutan. Salah satu spesies yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Ptilotus senarius, tanaman langka yang terakhir kali didokumentasikan pada tahun 1967 di Australia bagian utara. Selama hampir 60 tahun tanpa catatan keberadaan, spesies ini dianggap telah menghilang sepenuhnya dari habitat alaminya.
Akan tetapi perkembangan teknologi digital dan partisipasi masyarakat dalam sains warga mulai mengubah cara ilmuwan mengumpulkan data keanekaragaman hayati. Platform seperti iNaturalist memungkinkan siapa saja untuk mendokumentasikan flora dan fauna yang ditemui, sehingga memperluas jangkauan pengamatan ilmiah. Dalam konteks ini, kontribusi individu non-ilmuwan mulai menjadi bagian penting dalam mendeteksi keberadaan spesies yang jarang atau bahkan dianggap punah.
Penemuan kembali Ptilotus senarius bermula dari pengamatan tidak sengaja oleh seorang hortikulturis profesional bernama Aaron Bean yang sedang berada di sebuah properti pedalaman di Queensland. Setelah menemukan tanaman yang tampak tidak biasa, Aaron Bean mengambil beberapa foto dan mengunggahnya ke platform iNaturalist. Tindakan sederhana tersebut kemudian memicu rangkaian identifikasi ilmiah yang signifikan.
Foto yang diunggah akhirnya menarik perhatian ahli botani Anthony Bean dari Queensland Herbarium. Anthony Bean mengenali tanaman tersebut sebagai Ptilotus senarius, spesies yang pernah dideskripsikan olehnya sekitar satu dekade sebelumnya dan tidak pernah tercatat kembali sejak tahun 1967. Identifikasi ini menjadi langkah awal dalam memastikan bahwa spesies tersebut masih bertahan di alam liar.
Proses konfirmasi tidak berhenti pada identifikasi visual. Dengan dukungan pemilik lahan yang membantu pengambilan spesimen, para peneliti berhasil memastikan keberadaan spesies tersebut secara ilmiah. Status tanaman yang sebelumnya dianggap punah kemudian direvisi menjadi sangat terancam punah, membuka peluang bagi upaya konservasi yang lebih terarah.
Thomas Mesaglio dari UNSW School of Biological, Earth and Environmental Sciences menjelaskan bahwa penemuan ini terjadi melalui kombinasi kebetulan dan kondisi yang saling mendukung, termasuk keterlibatan individu yang aktif menggunakan platform sains warga. Menurut Thomas Mesaglio, kebiasaan pengguna iNaturalist dalam mendokumentasikan objek yang menarik secara oportunistik berperan besar dalam menghasilkan temuan tak terduga seperti ini.
Kasus ini juga mencerminkan tren yang lebih luas dalam penelitian modern. Sains warga semakin berkontribusi dalam pengumpulan data biologis, baik dalam menemukan kembali spesies yang hilang maupun dalam mengidentifikasi spesies baru. Kondisi geografis Australia yang luas dan sebagian besar wilayahnya berada di lahan milik pribadi membuat keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting. Thomas Mesaglio menekankan bahwa akses ke wilayah privat melalui pemilik lahan membuka peluang eksplorasi yang sebelumnya sulit dijangkau oleh ilmuwan.
Selain itu, kualitas data yang dikumpulkan oleh masyarakat juga menjadi perhatian utama. Dokumentasi yang detail, termasuk foto dari berbagai bagian tanaman serta informasi lingkungan seperti kondisi tanah dan vegetasi sekitar, dinilai sangat membantu proses identifikasi ilmiah. Thomas Mesaglio juga menyampaikan bahwa semakin lengkap informasi yang diberikan, semakin besar potensi data tersebut untuk digunakan dalam penelitian di masa depan.
Penelitian terpisah menunjukkan bahwa iNaturalist telah digunakan dalam publikasi ilmiah yang mencakup 128 negara dan ribuan spesies, menandakan peningkatan signifikan dalam peran platform ini dalam sains global. Dengan jutaan data yang terus bertambah, peluang untuk menemukan spesies yang belum teridentifikasi atau yang dianggap hilang menjadi semakin besar.
Penemuan kembali Ptilotus senarius menunjukkan bahwa spesies yang dianggap punah masih memiliki kemungkinan untuk bertahan di habitat yang belum terpantau, sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat dalam penelitian keanekaragaman hayati. Peran sains warga melalui platform digital terbukti mampu memperluas cakupan pengamatan dan menyediakan data berharga bagi konservasi, terutama di wilayah yang sulit diakses. Temuan ini juga mendorong peningkatan partisipasi publik dan pengumpulan data yang lebih berkualitas untuk mendukung upaya perlindungan spesies yang terancam punah.
Diolah dari artikel:
“Plant believed extinct for 60 years suddenly reappears” oleh University of New South Wales. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260517211447.htm