Berpikir Positif Bisa Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh?

Sumber ilustrasi: Unsplash
25 Mei 2026 10.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [25.05.2026] Banyak ilmuwan yang meneliti dan mengatakan bawah otak manusia memiliki kemampuan untuk memengaruhi berbagai fungsi fisiologis, termasuk sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi pemahaman tentang bagaimana mekanisme ini bekerja secara biologis baru mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Studi terbaru menunjukkan bahwa pikiran yang diarahkan secara sadar dapat mengaktifkan bagian otak tertentu yang berperan dalam meningkatkan respons imun.

Tor Wager, seorang ahli saraf dari Dartmouth University, menjelaskan bahwa gagasan mengenai pengaruh otak terhadap tubuh sudah lama dipelajari, tetapi baru belakangan ini ilmu saraf mampu mengungkap mekanisme yang mendasarinya. Dalam konteks ini, reward system di otak menjadi pusat perhatian mereka. Sistem ini menghasilkan perasaan senang melalui pelepasan dopamin, misalnya saat seseorang makan makanan favorit atau menerima pujian. Aktivasi sistem ini ternyata tidak hanya berkaitan dengan emosi, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik.

Penelitian yang dipimpin oleh Tamar Koren dari Tel Aviv Medical Center sebelumnya menunjukkan bahwa stimulasi sel-sel penghargaan pada tikus menghasilkan manfaat kesehatan yang signifikan. Tikus yang mengalami stimulasi tersebut menunjukkan kemampuan lebih baik dalam melawan infeksi bakteri, pemulihan lebih cepat dari serangan jantung, serta perlambatan pertumbuhan tumor. Temuan ini mendorong peneliti untuk menguji apakah efek serupa dapat dicapai pada manusia tanpa menggunakan metode genetik yang tidak etis.

Pendekatan yang digunakan kemudian beralih ke pelatihan mental. Para peneliti melatih relawan manusia untuk mengaktifkan sirkuit reward melalui pikiran mereka sendiri. Metode ini terinspirasi dari konsep respons terkondisi yang pertama kali dipelajari oleh Ivan Pavlov pada akhir abad ke-19. Dalam eksperimen klasik tersebut, Pavlov menunjukkan bahwa tubuh dapat merespons isyarat tertentu meskipun tanpa stimulus utama, seperti anjing yang mengeluarkan air liur hanya karena mendengar suara bel.

Konsep serupa kemudian dikembangkan dalam penelitian modern melalui fenomena psikososomatik dan efek plasebo. Efek plasebo, yang sering dianggap remeh, sebenarnya mencerminkan perubahan fisik nyata dalam tubuh yang dipicu oleh harapan positif. Tamar Koren menilai bahwa memahami mekanisme ini dapat membuka peluang untuk meningkatkan efektivitas pengobatan melalui pendekatan berbasis pikiran.

Dalam studi terbaru, tim peneliti merekrut 85 orang dewasa yang menjalani pemindaian otak menggunakan fMRI. Peserta diminta mengaktifkan otak dengan berbagai cara, seperti mengingat pengalaman atau memikirkan masa depan. Aktivitas pada area ventral tegmental area (VTA), yang merupakan bagian penting dari sistem penghargaan, kemudian diukur dan diberi skor.

Melalui proses neurofeedback selama puluhan sesi, peserta belajar menyesuaikan strategi mental untuk meningkatkan aktivitas di area tersebut. Nitzan Lubianiker, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa fokus utama bukan pada nilai absolut, tetapi pada peningkatan aktivitas yang dicapai oleh peserta dari waktu ke waktu.

Setelah pelatihan selesai, peserta menerima vaksin hepatitis B. Respons sistem kekebalan diukur melalui kadar antibodi sebelum dan sesudah vaksinasi. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang berhasil meningkatkan aktivitas di area VTA mengalami peningkatan antibodi sebesar 7 hingga 10 persen. Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivasi mental dapat memperkuat respons imun tubuh.

Jonathan Kipnis, peneliti yang tidak terlibat dalam studi ini, menilai bahwa meskipun peningkatannya relatif kecil, temuan tersebut tetap signifikan karena menunjukkan hubungan langsung antara aktivitas otak dan sistem kekebalan.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak bergantung pada kepribadian seperti tingkat optimisme. Sebaliknya, peserta dengan hasil terbaik cenderung menggunakan strategi mental yang melibatkan harapan positif, seperti memikirkan keluarga atau pengalaman menyenangkan. Tamar Koren menekankan bahwa kondisi mental memiliki peran penting dalam kesejahteraan dan fungsi fisiologis sehari-hari, bahkan tanpa disadari.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pikiran memiliki peran nyata dalam memengaruhi kesehatan fisik, khususnya sistem kekebalan tubuh. Dengan memanfaatkan kemampuan otak untuk mengaktifkan sistem penghargaan melalui pemikiran positif, manusia berpotensi meningkatkan respons imun secara alami, membuka peluang baru dalam pendekatan pengobatan berbasis hubungan antara pikiran dan tubuh.

Diolah dari artikel:
“Positive thinking could help boost your immune system” oleh Esther Landhuis. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/positive-thinking-boost-immune-system

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *