Sumber ilustrasi: Pixabay
28 Mei 2026 10.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [28.05.2026] Anemia defisiensi besi hingga kini menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum di dunia, terutama pada perempuan hamil dan remaja putri di negara berkembang. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, komplikasi kehamilan, hingga peningkatan risiko penyakit serius. Selama bertahun-tahun, suplementasi zat besi menjadi pendekatan utama untuk mengatasi anemia, namun efektivitas penyerapan zat besi oleh tubuh sering kali menjadi tantangan tersendiri. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama dari sumber makanan nabati.
Dalam sebuah tinjauan terbaru yang dipublikasikan di BMJ Nutrition Prevention & Health, para peneliti menemukan bahwa jus jambu biji berpotensi meningkatkan efektivitas suplementasi zat besi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perempuan dan remaja putri yang mengonsumsi jus jambu biji, khususnya bersamaan dengan suplemen zat besi, mengalami peningkatan kadar hemoglobin yang lebih baik dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi suplemen zat besi saja. Temuan ini menarik perhatian karena jambu biji diketahui memiliki kandungan vitamin C yang sangat tinggi, bahkan hingga empat kali lebih banyak dibandingkan jeruk per 100 gram.
Para peneliti menjelaskan bahwa vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih efisien. Selain vitamin C, jambu biji juga mengandung vitamin A, folat, serat pangan, dan sejumlah kecil zat besi. Beberapa studi kecil sebelumnya di Indonesia telah mengindikasikan bahwa konsumsi jus jambu biji dapat membantu meningkatkan hemoglobin, namun bukti-bukti tersebut sebelumnya belum pernah dianalisis bersama secara komprehensif.
Untuk memahami potensi manfaat tersebut secara lebih luas, para peneliti menganalisis 17 studi yang dipublikasikan sejak tahun 2000. Studi-studi tersebut terdiri dari 15 penelitian kuasi-eksperimental dan dua uji acak terkontrol. Enam studi melibatkan remaja putri, sedangkan 11 lainnya berfokus pada perempuan hamil. Sebagian besar penelitian menguji konsumsi jus jambu biji bersamaan dengan suplementasi zat besi.
Data gabungan dari 12 studi yang melibatkan 235 perempuan dan remaja putri menunjukkan adanya peningkatan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 1,71 g/dl setelah konsumsi jus jambu biji. Ketika dianalisis secara terpisah, remaja putri mengalami peningkatan rata-rata 1,52 g/dl, sementara perempuan hamil menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 1,84 g/dl.
Peneliti juga membandingkan kelompok yang hanya mengonsumsi suplemen zat besi dengan kelompok yang mengonsumsi suplemen zat besi bersama jus jambu biji. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi tersebut menghasilkan kadar hemoglobin rata-rata 1,29 g/dl lebih tinggi dibandingkan penggunaan suplemen zat besi saja. Para peneliti menyebut peningkatan sebesar 1 hingga 2 g/dl berpotensi memindahkan individu dari kategori anemia ringan atau sedang menuju kondisi non-anemia, yang dapat berdampak pada peningkatan energi, fungsi kognitif, dan produktivitas.
Meskipun demikian, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Seluruh studi dilakukan di Indonesia dan memiliki variasi besar dalam desain penelitian, jenis jambu biji yang digunakan, dosis, lama intervensi, serta karakteristik peserta. Selain itu, sebagian besar bukti berasal dari studi kuasi-eksperimental, bukan uji klinis acak berskala besar yang dianggap lebih kuat secara ilmiah. Tidak adanya tindak lanjut jangka panjang juga membuat manfaat jangka panjang konsumsi jus jambu biji belum dapat dipastikan.
Para peneliti tetap menilai bahwa jus jambu biji memiliki potensi sebagai strategi nutrisi murah dan praktis untuk membantu mengurangi anemia ringan hingga sedang. Pendekatan tersebut dinilai dapat diterapkan dalam program nutrisi sekolah, layanan kesehatan ibu hamil, maupun inisiatif kesehatan masyarakat lainnya. Peneliti juga menekankan bahwa jambu biji telah diterima secara budaya di banyak wilayah Asia dan relatif mudah diperoleh, sehingga berpotensi menjadi pendekatan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.
Profesor Sumantra Ray dari NNEdPro Global Institute for Food, Nutrition and Health menyampaikan bahwa penelitian tersebut mendukung pemahaman ilmiah yang telah ada mengenai peran vitamin C dalam meningkatkan penyerapan zat besi. Namun Ray juga menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut dengan metodologi yang lebih ketat masih diperlukan sebelum jus jambu biji dapat direkomendasikan sebagai pengganti pengobatan anemia konvensional.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa konsumsi jus jambu biji berpotensi membantu meningkatkan kadar hemoglobin, terutama ketika dikombinasikan dengan suplementasi zat besi. Kandungan vitamin C yang tinggi menjadikan buah ini kandidat menarik sebagai pendekatan nutrisi murah dan mudah diakses dalam pengendalian anemia ringan hingga sedang. Meskipun bukti awal terlihat menjanjikan, penelitian klinis yang lebih besar dan lebih ketat masih diperlukan untuk memastikan efektivitas, dosis optimal, serta manfaat jangka panjang penggunaan jus jambu biji dalam penanganan anemia.
Diolah dari artikel:
“Scientists say guava juice could make iron supplements work better” oleh BMJ Group. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260527023200.htm