Apakah Otak Memutuskan untuk Bersosialisasi Sebelum Kita Melakukannya?

Sumber ilustrasi: Pixabay
04 Juni 2026 13.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [04.06.2026] Otak diketahui oleh para ilmuwan mengubah informasi sosial menjadi tindakan nyata. Mengapa seseorang memutuskan untuk mendekati orang lain dan memulai interaksi masih menjadi pertanyaan penting dalam ilmu saraf. Selama ini, perilaku sosial umumnya dipahami melalui gerakan atau tindakan yang dapat diamati secara langsung. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses tersebut mungkin dimulai jauh sebelum tubuh kita bergerak.

Dalam sebuah studi baru dari Hebrew University of Jerusalem, para peneliti menemukan bahwa perilaku sosial didahului oleh pola aktivitas khas yang menyebar ke seluruh otak beberapa detik sebelum suatu tindakan terjadi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kekuatan pola saraf tersebut berkaitan dengan tingkat dorongan sosial yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Lilah Avitan dan dilakukan oleh mahasiswa doktoral Imri Lifshitz bersama anggota lain dari laboratorium Avitan di Edmond and Lily Safra Center for Brain Sciences (ELSC) di Hebrew University of Jerusalem.

Untuk memahami bagaimana otak menerjemahkan informasi sosial menjadi tindakan, para peneliti menggunakan ikan zebra sebagai organisme model. Hewan ini memungkinkan para ilmuwan memantau aktivitas otak hingga tingkat sel individu, sehingga memberikan gambaran rinci mengenai proses yang berlangsung di dalam sistem saraf.

Tim peneliti mengembangkan sistem eksperimen baru yang memungkinkan seekor ikan mengamati dan merespons ikan lain yang berenang di dekatnya. Pada saat yang sama, aktivitas di seluruh otak ikan pengamat direkam secara waktu nyata.

Pendekatan tersebut memungkinkan para peneliti mengikuti proses pengambilan keputusan sosial dari awal hingga tindakan terjadi. Dengan demikian, para ilmuwan dapat mempelajari peristiwa saraf yang muncul sebelum seekor ikan memutuskan untuk mendekati individu lain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan aktivitas otak mulai terjadi beberapa detik sebelum ikan bergerak menuju ikan lain. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa keputusan sosial tidak dimulai bersamaan dengan gerakan, melainkan muncul lebih dahulu di dalam jaringan saraf.

Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa perilaku sosial tidak dikendalikan oleh satu wilayah otak tertentu saja. Sebaliknya, berbagai bagian otak mengalami perubahan aktivitas secara terkoordinasi.

Aktivitas saraf meningkat pada pallium, wilayah otak tingkat tinggi yang berkaitan dengan perilaku kompleks. Pada saat yang sama, aktivitas di beberapa wilayah otak lainnya justru mengalami penurunan.

Gabungan perubahan tersebut membentuk kondisi yang oleh para peneliti disebut sebagai keadaan saraf pra-keputusan. Pola aktivitas ini menjadi tanda bahwa suatu tindakan sosial akan segera terjadi.

Para peneliti menemukan bahwa pola aktivitas tersebut dapat digunakan untuk memprediksi perilaku seekor ikan bahkan sebelum gerakan dimulai. Dengan kata lain, sinyal saraf tertentu telah muncul sebelum tindakan sosial terlihat secara fisik.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kekuatan pola saraf berbeda-beda pada setiap individu. Variasi tersebut ternyata berkaitan dengan tingkat kecenderungan sosial masing-masing ikan.

Ikan yang memiliki pola aktivitas saraf lebih kuat cenderung menunjukkan perilaku yang lebih sosial dibandingkan individu lainnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sinyal saraf tersebut mencerminkan dorongan sosial mendasar yang dimiliki setiap individu.

Selain itu, penelitian ini semakin menegaskan pentingnya pallium dalam mengatur perilaku sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah otak tersebut memainkan peran sentral dalam menghasilkan motivasi untuk mendekati individu lain dan terlibat dalam interaksi sosial.

Dr. Lilah Avitan menjelaskan bahwa penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi tanda khas saraf yang menyebar ke seluruh otak dan muncul sebelum gerakan dimulai. Menurut Dr. Avitan, tanda khas tersebut tidak hanya mampu memprediksi apakah suatu tindakan yang akan datang bersifat sosial, tetapi juga menunjukkan seberapa kuat dorongan sosial yang dimiliki individu tersebut.

Pemahaman mengenai bagaimana otak menghasilkan perilaku sosial dapat membantu para peneliti menjelaskan mengapa sebagian individu secara alami lebih sosial dibandingkan yang lain. Perbedaan tersebut selama ini menjadi salah satu pertanyaan penting dalam ilmu perilaku dan ilmu saraf.

Karena struktur otak yang berperan dalam perilaku sosial memiliki kesamaan pada berbagai spesies, temuan ini juga dapat memberikan petunjuk mengenai fungsi sosial pada manusia. Penelitian tersebut berpotensi membantu para ilmuwan memahami berbagai kondisi yang melibatkan perubahan atau gangguan perilaku sosial.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa keputusan untuk melakukan interaksi sosial mulai terbentuk di dalam otak beberapa detik sebelum tindakan terlihat secara fisik. Aktivitas yang terkoordinasi di berbagai wilayah otak, terutama pada pallium, membentuk suatu keadaan saraf pra-keputusan yang tidak hanya dapat memprediksi munculnya perilaku sosial, tetapi juga mencerminkan tingkat dorongan sosial setiap individu. Hasil penelitian ini membuka peluang baru untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari perilaku sosial pada hewan maupun manusia.

Diolah dari artikel:
“Your brain starts making social decisions before you do” oleh The Hebrew University of Jerusalem. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260602021629.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *