Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
08 Juni 2026 11.45 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [08.06.2026] Fenomena El Niño merupakan salah satu pola iklim alami yang paling berpengaruh terhadap cuaca global. Perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis dapat memicu gangguan pada pola curah hujan, meningkatkan suhu rata-rata bumi, serta memengaruhi sektor pertanian dan ketersediaan pangan di berbagai wilayah dunia. El Niño merupakan fase hangat dari siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yang secara alami bergantian dengan fase dingin La Niña dan periode netral.
Peristiwa El Niño biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Ketika fase hangat berkembang, suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur meningkat, menyebabkan pelemahan angin pasat dan memicu perubahan besar pada pola cuaca global. Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengaitkan El Niño dengan berbagai kejadian ekstrem, mulai dari kekeringan, banjir, kebakaran hutan, hingga dampak terhadap produksi pangan dan stabilitas sosial di berbagai kawasan.
El Niño terakhir berlangsung dari Juni 2023 hingga April 2024. Peristiwa tersebut memberikan tambahan panas ke planet yang telah mengalami pemanasan akibat aktivitas manusia. Dampaknya menjadikan tahun 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat sekaligus tahun pertama yang melampaui ambang pemanasan global 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris sebagai batas penting untuk menghindari dampak perubahan iklim yang semakin berbahaya.
Analisis terbaru dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menunjukkan bahwa suhu permukaan laut pada wilayah Niño 3.4 di Samudra Pasifik ekuator tengah dapat mencapai sekitar 3 derajat Celsius di atas rata-rata pada Desember tahun ini. Sejumlah skenario bahkan memperlihatkan kemungkinan kenaikan suhu melebihi 4 derajat Celsius.
Jika proyeksi tersebut terbukti benar, El Niño kali ini akan melampaui dua peristiwa terkuat sebelumnya yang terjadi pada 1997–1998 dan 2015–2016. Pada kedua kejadian tersebut, anomali suhu pada indeks Niño 3.4 tercatat sekitar 2,3 derajat Celsius di atas rata-rata.
Meteorolog sekaligus penulis cuaca global dari Washington Post, Ben Noll, menjelaskan bahwa hampir seluruh skenario prakiraan kini telah melampaui ambang kenaikan 3 derajat Celsius. Ben Noll menyebut bahwa beberapa skenario ekstrem bahkan melebihi 4 derajat Celsius, sehingga proyeksi terbaru tersebut menggambarkan kemungkinan El Niño terkuat yang pernah tercatat.
Dampak El Niño pada masa lalu diketahui sangat luas. Berbagai studi telah menghubungkan fenomena tersebut dengan kelaparan di Eropa pada masa lampau, meningkatnya konflik sipil di kawasan tropis, serta kejadian kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan di berbagai belahan dunia. Kemunculan El Niño kali ini juga bertepatan dengan meningkatnya kerawanan pangan global yang diperparah oleh perang Iran.
Pembaruan yang dikeluarkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni menyebutkan bahwa peluang terbentuknya El Niño mencapai 80 persen sebelum September dan meningkat menjadi 90 persen sebelum November. Organisasi tersebut juga mengingatkan dunia untuk bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya peristiwa yang kuat.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan telah menunjukkan dengan tingkat kepastian 90 persen bahwa El Niño akan datang dalam beberapa bulan mendatang. António Guterres menilai fenomena tersebut harus dipandang sebagai peringatan iklim yang mendesak bagi dunia.
António Guterres juga menekankan bahwa meskipun El Niño merupakan bagian dari variabilitas alami iklim, keberadaannya akan memperkuat pemanasan global yang telah dipicu oleh aktivitas manusia. Menurut António Guterres, kondisi El Niño akan menambah panas pada planet yang sudah mengalami pemanasan berbahaya, sehingga dampaknya dapat menjadi lebih kuat, menjangkau wilayah yang lebih luas, dan menyebar melintasi batas negara dengan kecepatan yang merusak.
António Guterres berpendapat bahwa respons yang sebanding dengan besarnya krisis diperlukan untuk menghadapi ancaman tersebut. Langkah yang diperlukan mencakup pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, percepatan transisi menuju energi terbarukan, perlindungan terhadap kelompok paling rentan, serta pengembangan sistem peringatan dini yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat.
Para ilmuwan menilai bahwa pemahaman mengenai El Niño tidak hanya penting untuk memprediksi kondisi cuaca, tetapi juga untuk mempersiapkan sektor pertanian, ketahanan pangan, serta strategi mitigasi bencana di masa mendatang. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa dunia mungkin akan menghadapi salah satu peristiwa El Niño paling ekstrem dalam sejarah modern.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa El Niño yang diperkirakan berkembang tahun ini berpotensi menjadi peristiwa terkuat yang pernah tercatat, dengan anomali suhu yang dapat melampaui rekor sebelumnya. Organisasi internasional dan para ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena tersebut dapat memperburuk dampak perubahan iklim yang sudah berlangsung, sehingga berbagai upaya mitigasi dan adaptasi menjadi semakin penting untuk mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan.
Diolah dari artikel:
“Coming El Niño will be the strongest ever recorded, new forecast predicts” oleh Ben Turner. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.