Imajinasi Manusia Bukan Sekadar Memutar Ulang Apa yang Pernah Dilihat dan Didengar?

Sumber ilustrasi: Unsplash
11 Juni 2026 15.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [11.06.2026] Imaginasi merupakan salah satu topik paling menarik yang tengah dibahas dalam dunia ilmu. Hingga kini, para ilmuwan berusaha memahami bagaimana manusia mampu membayangkan sesuatu yang tidak sedang berada di depan mata. Ketika seseorang membayangkan air terjun, misalnya, gambaran mengenai aliran air yang jatuh ke kolam biru, pepohonan di sekitarnya, hingga suara gemuruh air dapat muncul dengan sangat jelas. Masih menjadi misteri apakah aktivitas otak ketika membayangkan sesuatu sama dengan aktivitas otak ketika benar-benar melihat atau mendengarnya. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Neuron menunjukkan bahwa terdapat kesamaan tertentu antara keduanya. Akan tetapi kesamaan tersebut ternyata tidak terjadi pada bagian otak yang secara khusus memproses penglihatan atau pendengaran, melainkan pada jaringan otak tingkat tinggi yang mengintegrasikan berbagai jenis informasi sensorik.

Rodrigo Braga, ahli saraf yang memimpin penelitian tersebut, menjelaskan bahwa ketertarikan terhadap topik ini muncul sejak masa remajanya. Braga mengungkapkan bahwa saat itu dirinya menyadari adanya suara di dalam kepala yang seolah-olah menceritakan pikirannya sendiri. Menurut Braga, pengalaman tersebut terasa aneh karena manusia dapat mengalami pikiran dan sensasi seakan-akan benar-benar sedang merasakannya secara langsung.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Braga bersama timnya di Feinberg School of Medicine, Northwestern University, melakukan penelitian terhadap delapan orang. Para peserta diminta membayangkan berbagai hal, mulai dari pemandangan, wajah, suara orang lain, monolog internal mereka sendiri, hingga berbagai suara lainnya. Selama proses tersebut berlangsung, aktivitas otak para peserta direkam menggunakan pemindaian MRI.

Data MRI yang dikumpulkan selama berjam-jam memungkinkan para peneliti membuat peta otak yang bersifat individual untuk setiap peserta. Peta tersebut memperlihatkan perubahan aktivitas otak yang terjadi selama proses imajinasi berlangsung.

Para peserta menerima petunjuk yang bersifat terbuka. Sebagai contoh, mereka diminta membayangkan sebuah kastel yang berdiri di atas bukit atau membayangkan sebuah lagu rock yang sedang diputar di radio. Setelah itu, para ilmuwan meminta peserta menjelaskan apa yang mereka lihat dan dengar di dalam pikiran serta seberapa jelas dan realistis pengalaman tersebut dirasakan.

Setelah sesi pemindaian selesai, tim peneliti melanjutkan dengan wawancara tambahan. Wawancara tersebut bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang membuat sebagian gambaran mental terasa lebih hidup dibandingkan gambaran lainnya.

Dalam analisis yang dilakukan, data penelitian dibagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama berkaitan dengan lokasi dan peristiwa yang dibayangkan, sedangkan kelompok kedua berkaitan dengan ucapan dan bahasa yang dibayangkan.

Ketika para peserta membayangkan lokasi atau suatu peristiwa, mereka melaporkan adanya gambaran visual yang sangat jelas di dalam benak mereka. Pada saat yang sama, aktivitas pada jaringan otak yang dikenal sebagai default network A mengalami peningkatan. Jaringan neuron tersebut diketahui memiliki peran dalam memproses informasi spasial yang nyata.

Sementara itu, ketika para peserta membayangkan ucapan atau bahasa, mereka melaporkan adanya suara yang sangat jelas di dalam kepala mereka. Aktivitas pada jaringan bahasa di otak juga meningkat. Jaringan tersebut biasanya aktif ketika seseorang membaca atau mendengarkan pembicaraan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemandangan dan suara yang dibayangkan memang melibatkan sebagian sistem yang juga digunakan untuk memproses pengalaman nyata.

Namun, para peneliti menemukan sesuatu yang cukup menarik. Sensasi yang dibayangkan tidak mengaktifkan wilayah otak yang secara khusus menangani penglihatan dan pendengaran. Sebaliknya, default network A dan jaringan bahasa justru merespons berbagai informasi baru tanpa memandang dari indra mana informasi tersebut berasal.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketika seseorang membayangkan objek tertentu yang baru saja dilihat, bagian otak yang berkaitan dengan penglihatan akan ikut aktif. Akan tetapi, hasil tersebut tidak ditemukan dalam penelitian terbaru ini.

Nathan Anderson, ahli saraf dari Brigham Young University yang turut terlibat dalam penelitian, menjelaskan bahwa area visual dasar otak merespons rincian-rincian seperti warna, garis, dan tepi objek. Menurut Anderson, rincian semacam itu penting ketika seseorang diminta membayangkan objek tertentu yang pernah dilihat. Namun, ketika seseorang hanya diminta membayangkan suatu pemandangan secara umum, rincian visual yang sangat spesifik tidak selalu diperlukan sehingga neuron yang bertugas memproses detail-detail tersebut tidak ikut aktif.

Stephen Kosslyn, ahli saraf dari Harvard University yang tidak terlibat dalam penelitian ini, berpendapat bahwa hasil tersebut tidak terlalu mengejutkan. Kosslyn menjelaskan bahwa karena para peserta tidak diminta membayangkan gambar atau suara secara mendetail, maka masuk akal apabila wilayah otak yang berkaitan dengan tugas tersebut tidak menunjukkan peningkatan aktivitas.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Alfredo Spagna dari John Cabot University di Roma. Spagna menilai bahwa penggunaan petunjuk yang terbuka justru menjadi salah satu kekuatan utama penelitian ini. Menurut Spagna, gambaran mental dalam kehidupan sehari-hari lebih menyerupai membayangkan sebuah kastel di atas bukit dibandingkan mengingat rincian kecil dari sesuatu yang baru saja dilihat. Dengan demikian, petunjuk yang digunakan dalam penelitian tersebut kemungkinan lebih mendekati cara kerja imajinasi manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun demikian, banyak aspek mengenai cara otak menghasilkan pengalaman visual dan suara yang terasa begitu nyata masih belum sepenuhnya dipahami. Spagna berpendapat bahwa penelitian ini merupakan salah satu dari banyak studi yang diperkirakan akan muncul dalam beberapa tahun mendatang untuk menguraikan konsep vividness atau tingkat kejelasan pengalaman mental yang hingga kini masih belum sepenuhnya dipahami.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa imajinasi manusia bukan sekadar pemutaran ulang sederhana dari pengalaman sensorik yang pernah dialami. Aktivitas otak selama proses membayangkan ternyata lebih banyak melibatkan jaringan tingkat tinggi yang mengintegrasikan berbagai informasi daripada bagian otak yang khusus menangani penglihatan dan pendengaran. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai cara kerja imajinasi serta membuka peluang untuk mengungkap bagaimana otak menciptakan pengalaman mental yang terasa sangat nyata.

Diolah dari artikel:
“Imagination is not just replaying what we’ve seen and heard” oleh Nora Bradford. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/brain-imagination-see-hear

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *