Otak Manusia Tidak Dirancang untuk Menanggung Begitu Banyak Berita Buruk?

Sumber ilustrasi: Pixabay
17 Juni 2026 13.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [17.06.2026] Banyak orang mulai merasakan kelelahan ketika mengikuti perkembangan berita setiap hari. Di era digital, informasi datang tanpa henti melalui ponsel, media sosial, aplikasi berita, dan berbagai platform daring lainnya. Perang, krisis ekonomi, bencana alam, konflik politik, hingga kejahatan kekerasan dapat muncul silih berganti dalam hitungan menit. Bagi sebagian orang, situasi ini membuat mereka memilih untuk menjauh dari berita, setidaknya untuk sementara waktu.

Fenomena tersebut ternyata tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang. Menurut Digital News Report 2025 dari Reuters Institute, sekitar 69 persen warga Kanada setidaknya sesekali menghindari berita. Secara global, angka tersebut mencapai 40 persen, menjadi tingkat tertinggi yang pernah tercatat sejak survei serupa dilakukan.

Alasan yang diberikan juga menunjukkan pola yang konsisten. Banyak orang melaporkan bahwa berita membuat suasana hati memburuk, menimbulkan rasa kewalahan, dan memunculkan perasaan tidak berdaya karena tidak mampu melakukan sesuatu terhadap berbagai masalah yang mereka baca.

Ali Jasemi, peneliti psikologi perkembangan dari Wilfrid Laurier University, berpendapat bahwa kelelahan akibat berita tidak dapat dipahami sebagai kemalasan, kelemahan mental, ataupun menurunnya minat masyarakat terhadap kehidupan publik. Menurut Jasemi, kondisi tersebut merupakan respons yang dapat diprediksi dari otak manusia ketika menghadapi lingkungan informasi yang sangat berbeda dari lingkungan tempat otak berevolusi.

Untuk memahami fenomena ini, para ilmuwan melihat kembali sejarah evolusi manusia. Jauh sebelum hadirnya telepon pintar, televisi, surat kabar, atau bahkan mesin cetak, manusia hidup dalam lingkungan yang jauh lebih sederhana. Tantangan utama yang dihadapi otak pada masa itu adalah bertahan hidup cukup lama untuk bereproduksi.

Dalam lingkungan semacam itu, kemampuan mengenali ancaman menjadi sangat penting. Individu yang mengabaikan suara mencurigakan di rerumputan atau gagal memperhatikan tanda bahaya memiliki peluang bertahan hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang segera bereaksi terhadap potensi ancaman.

Akibat proses evolusi tersebut, otak manusia berkembang menjadi sistem yang sangat sensitif terhadap informasi negatif. Para psikolog menyebut kecenderungan ini sebagai negativity bias atau bias negatif.

Bias negatif merupakan salah satu temuan yang paling konsisten dalam ilmu psikologi dan ilmu kognitif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manusia cenderung memberikan perhatian lebih besar pada informasi negatif dibandingkan informasi positif. Informasi negatif juga lebih cepat menarik perhatian dan lebih lama bertahan dalam ingatan.

Dari perspektif evolusi, kecenderungan tersebut masuk akal. Kehadiran seekor predator di dekat tempat tinggal memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan pemandangan matahari terbenam yang indah. Kesalahan karena mengabaikan ancaman dapat berakibat fatal, sedangkan kesalahan karena terlalu waspada biasanya hanya menyebabkan sedikit waktu dan energi yang terbuang.

Masalahnya, struktur dasar otak manusia tidak banyak berubah sejak ribuan tahun lalu. Sistem saraf yang dahulu dirancang untuk memantau ancaman lokal kini harus menghadapi lingkungan informasi global yang jauh lebih kompleks.

Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, ancaman yang diproses oleh otak bersifat lokal. Ancaman tersebut mungkin berupa kelompok tetangga yang bermusuhan, musim kemarau yang panjang, atau penyakit yang menimpa anggota keluarga. Informasi mengenai peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya hampir tidak pernah sampai kepada seseorang.

Situasi tersebut sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Dalam satu pagi, seseorang dapat menerima informasi mengenai perang di satu negara, krisis ekonomi di negara lain, bencana iklim di wilayah berbeda, dan berbagai peristiwa kriminal dari tempat yang sama sekali tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupannya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Nature Human Behaviour menunjukkan bahwa media dan pembaca juga berinteraksi dalam pola yang memperkuat kecenderungan tersebut. Studi yang menganalisis lebih dari 105.000 judul berita yang dilihat hampir enam juta kali menemukan bahwa setiap tambahan kata bernuansa negatif meningkatkan kemungkinan sebuah berita diklik oleh pembaca.

Sebaliknya, kata-kata yang lebih positif cenderung mengurangi tingkat keterlibatan pembaca. Temuan ini menunjukkan bahwa perhatian manusia memang lebih mudah tertarik pada informasi yang mengandung ancaman, konflik, atau risiko.

Penelitian lain menunjukkan bahwa tubuh manusia memberikan respons fisiologis yang lebih kuat terhadap berita negatif dibandingkan berita positif. Dengan kata lain, sistem biologis mulai bereaksi bahkan sebelum seseorang secara sadar memutuskan apakah informasi tersebut benar-benar relevan bagi kehidupannya.

Para peneliti kemudian mengembangkan konsep yang disebut Problematic News Consumption atau PNC. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola konsumsi berita yang menyebabkan keterikatan berlebihan, kesulitan mengatur emosi, dan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.

Dalam sebuah studi tahun 2022, sekitar 17 persen orang dewasa di Amerika Serikat memenuhi kriteria tingkat PNC yang berat. Di antara kelompok tersebut, sebanyak 61 persen melaporkan tingkat perasaan tidak sehat yang cukup tinggi atau sangat tinggi. Sebagai perbandingan, hanya enam persen dari kelompok tanpa PNC yang melaporkan kondisi serupa.

Dampak psikologis tersebut dapat menjadi lebih besar bagi kelompok minoritas. Ketika seseorang berulang kali menyaksikan berita mengenai diskriminasi, kekerasan, atau penderitaan yang menimpa kelompok yang sama dengan dirinya, tekanan psikologis dapat meningkat meskipun individu tersebut bukan korban langsung.

Bagi komunitas imigran, beban tersebut sering kali menjadi lebih berat. Berita yang berasal dari negara asal mereka dapat memiliki makna emosional yang jauh lebih dalam dibandingkan bagi masyarakat umum, sehingga pilihan untuk mengabaikan berita menjadi lebih sulit dilakukan.

Analisis para peneliti menunjukkan bahwa solusi terhadap kelelahan berita bukanlah berhenti mengikuti informasi sama sekali. Dalam masyarakat demokratis, warga membutuhkan akses terhadap informasi yang akurat agar dapat mengambil keputusan yang baik.

Menjauh dari sumber informasi yang terpercaya justru dapat memperburuk masalah karena membuka ruang yang lebih besar bagi misinformasi dan spekulasi. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana mengelola konsumsi informasi secara lebih sehat.

Beberapa pendekatan dianggap dapat membantu. Salah satunya adalah membatasi waktu khusus untuk membaca berita sehingga seseorang tidak terus-menerus terpapar informasi sepanjang hari.

Pendekatan lain adalah memilih kualitas dibandingkan kuantitas. Satu laporan mendalam yang ditulis secara profesional sering kali memberikan pemahaman yang lebih baik dibandingkan puluhan unggahan media sosial yang emosional, tidak lengkap, dan belum tentu akurat.

Penelitian mengenai stres dan persepsi kontrol juga menunjukkan bahwa tekanan psikologis sering muncul ketika seseorang menyadari suatu masalah tetapi merasa tidak memiliki kemampuan untuk bertindak. Karena itu, mengidentifikasi tindakan nyata yang dapat dilakukan, sekecil apa pun, dapat membantu mengurangi perasaan tidak berdaya.

Para peneliti juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap praktik yang dikenal sebagai rage bait, yaitu konten yang sengaja dirancang untuk memancing kemarahan demi meningkatkan keterlibatan pengguna di media sosial. Menyadari tujuan semacam itu dapat membantu menciptakan jarak psikologis yang lebih sehat terhadap informasi yang dikonsumsi.

Penelitian mengenai kelelahan akan berita menunjukkan bahwa kesulitan menghadapi arus informasi negatif bukanlah tanda kelemahan pribadi, melainkan konsekuensi dari cara kerja otak yang berevolusi untuk memperhatikan ancaman. Sistem saraf manusia yang dahulu dirancang untuk menghadapi bahaya lokal kini harus memproses berbagai krisis dari seluruh dunia secara bersamaan. Tantangan utama bukanlah menghindari berita sepenuhnya, melainkan membangun pola konsumsi informasi yang lebih terukur, lebih sadar, dan lebih sesuai dengan kemampuan alami otak manusia.

Diolah dari artikel:
“Your brain was never designed for this much bad news” oleh Ali Jasemi, Wilfrid Laurier University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260614012006.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *