Sumber ilustrasi: Pixabay
26 Juni 2026 17.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [25.06.2026] Api merupakan salah satu penemuan signifikan dari peradaban manusia karena memberikan kehangatan, perlindungan dari predator, penerangan setelah matahari terbenam, hingga pada akhirnya memungkinkan manusia memasak makanan. Hingga kini, masih menjadi perdebatan kapan tepatnya pertama kali api digunakan oleh manusia purba sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dikarenakan bukti arkeologis mengenai penggunaan api pada masa yang sangat awal sering kali sangat sulit ditemukan dan dibedakan dari jejak kebakaran alami.
Dalam Sebuah penelitian terbaru dari tim internasional yang dipimpin Hebrew University of Jerusalem kini memberikan bukti baru yang menunjukkan bahwa manusia purba telah membawa api ke dalam gua jauh lebih awal daripada yang selama ini diperkirakan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One menganalisis Wonderwerk Cave di Gurun Kalahari, Afrika Selatan, salah satu situs arkeologi terpenting yang menyimpan catatan panjang evolusi manusia. Para peneliti menemukan bukti bahwa hominin menggunakan api antara 1,07 juta hingga 1,79 juta tahun lalu. Rentang waktu tersebut menjadikan Wonderwerk Cave sebagai salah satu Lokasi tertua yang diketahui menyimpan bukti penggunaan api oleh nenek moyang manusia.
Temuan tersebut diperoleh melalui sebuah teknik baru yang mampu mendeteksi jejak pembakaran pada tulang fosil. Metode ini memanfaatkan sifat luminesensi, yaitu kemampuan tulang yang pernah mengalami pemanasan tinggi untuk memancarkan cahaya khas ketika terkena panjang gelombang tertentu. Teknik tersebut kemudian dipadukan dengan analisis kimia sehingga para peneliti dapat mengidentifikasi tulang yang pernah terbakar dengan tingkat keyakinan yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode sebelumnya.
Menurut Dr. Liora Kolska Horwitz dari Hebrew University of Jerusalem, bukti penggunaan api pada situs-situs yang sangat tua umumnya sangat halus sehingga sulit dikenali menggunakan pendekatan konvensional. Pendekatan baru yang dikembangkan tim peneliti memungkinkan identifikasi jejak pembakaran kuno secara lebih akurat sekaligus menunjukkan bahwa api hadir berulang kali jauh di bagian dalam Wonderwerk Cave.
Untuk menguji keandalan metode tersebut, tim meneliti ratusan fosil tulang kecil yang berasal dari mangsa burung hantu. Sisa-sisa tersebut terkumpul secara alami selama ribuan tahun sehingga menjadi catatan lingkungan yang independen dan tidak dipengaruhi aktivitas manusia secara langsung. Analisis terhadap koleksi fosil ini membantu memastikan bahwa tanda-tanda pembakaran benar-benar berasal dari keberadaan api di dalam gua.
Peneliti kemudian menemukan tulang-tulang yang terbakar pada lapisan arkeologis yang berkaitan dengan budaya Acheulean awal, yang kemungkinan besar dihasilkan oleh Homo erectus. Menariknya, sisa-sisa tersebut ditemukan sekitar 30 meter dari mulut gua, lokasi yang mustahil dijangkau oleh kebakaran liar di luar gua. Lapisan tempat ditemukannya tulang juga tidak mengandung endapan guano, sehingga kemungkinan pembakaran spontan dapat disingkirkan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba kemungkinan belum mampu menciptakan api secara mandiri dan diduga mengambil api yang berasal dari sumber alami, seperti sambaran petir atau kebakaran savana, kemudian membawanya masuk ke dalam gua untuk dipertahankan selama mungkin sebelum akhirnya padam.
Tim peneliti juga mengusulkan bahwa pelet burung hantu yang mengandung tulang-tulang kecil hewan pengerat mungkin dimanfaatkan sebagai bahan bakar tambahan. Dugaan tersebut didasarkan pada ditemukannya tanda-tanda pembakaran pada tulang-tulang kecil yang terdapat di dalam pelet tersebut.
Dr. Kolska Horwitz menilai bahwa kemampuan membawa api dari alam dan mempertahankannya di dalam gua merupakan tonggak penting dalam perkembangan perilaku manusia purba. Menurutnya, manusia pada masa itu bukan sekadar menyaksikan kebakaran alami, tetapi telah secara aktif memanfaatkan api sebagai bagian dari kehidupannya.
Selain memperpanjang garis waktu penggunaan api oleh hominin, penelitian ini juga memperkenalkan alat analisis baru yang berpotensi mengubah cara para arkeolog mempelajari situs-situs purba di seluruh dunia. Teknik luminesensi pada tulang fosil memungkinkan koleksi fosil dalam jumlah besar diperiksa tanpa merusaknya, sehingga dapat diterapkan pada berbagai penelitian arkeologi di masa mendatang.
Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa penguasaan api kemungkinan berlangsung secara bertahap. Jauh sebelum manusia mampu menyalakan api sendiri, nenek moyang manusia tampaknya telah belajar mengambil api dari alam, membawanya ke tempat tinggal, dan mempertahankannya agar tetap menyala. Penelitian tersebut tidak hanya memperluas pemahaman mengenai kapan api mulai digunakan, tetapi juga membuka peluang baru untuk mengungkap bagaimana salah satu teknologi paling penting dalam sejarah manusia pertama kali berkembang.
Diolah dari artikel:
“Early humans were bringing fire into caves 1.8 million years ago” oleh The Hebrew University of Jerusalem. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260623083123.htm