Sumber ilustrasi: Pixabay
26 Juni 2026 13.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [25.06.2026] Vitamin D dikenal sebagai nutrisi penting untuk menjaga kesehatan tulang dan mendukung berbagai fungsi tubuh. Banyak orang percaya bahwa menghabiskan waktu di bawah sinar matahari selama musim panas sudah cukup untuk mengembalikan kadar vitamin D ke tingkat yang sehat. Akan tetapi sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut mungkin tidak berlaku bagi semua orang, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi mengalami kekurangan vitamin D.
Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Human Nutrition and Exercise Research Centre, Newcastle University, menemukan bahwa banyak orang di Inggris yang berisiko mengalami kekurangan vitamin D ternyata tidak memperoleh kadar vitamin D yang memadai sepanjang tahun. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition ini menunjukkan bahwa paparan sinar matahari pada musim panas belum tentu mampu mengatasi masalah tersebut.
Penelitian ini melibatkan hampir 300 peserta yang bertempat tinggal di wilayah utara Britania Raya. Para peneliti memfokuskan kajian pada dua kelompok yang diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan vitamin D, yaitu orang dewasa berusia 65 tahun ke atas dan individu dari kelompok etnis minoritas pada berbagai kelompok usia. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan kadar vitamin D melalui sampel darah sederhana yang diambil menggunakan tusukan pada ujung jari.
Hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta lanjut usia memiliki kadar vitamin D yang tidak mencukupi. Kondisi tersebut bahkan lebih banyak ditemukan pada peserta yang berasal dari kelompok etnis minoritas.
Temuan yang paling mengejutkan adalah kadar vitamin D para peserta tidak mengalami peningkatan selama musim panas. Selama ini banyak orang menganggap bahwa peningkatan paparan sinar matahari pada musim tersebut sudah cukup untuk memulihkan kadar vitamin D dalam tubuh. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut tidak terjadi pada sebagian besar kelompok yang berisiko tinggi.
Vitamin D memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tulang karena membantu tubuh menyerap kalsium secara optimal. Kekurangan vitamin D juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk osteoporosis, rakitis, serta penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh.
Bernard Corfe, Profesor Human Nutrition and Health di Newcastle University sekaligus salah satu pemimpin penelitian, menjelaskan bahwa hasil penelitian ini sangat menarik karena kadar vitamin D para peserta tidak meningkat bahkan selama musim panas, ketika kadar tersebut seharusnya mulai pulih.
Menurut Corfe, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah seperti Inggris bagian utara, sinar matahari saja kemungkinan tidak cukup untuk mempertahankan kadar vitamin D yang sehat, terutama bagi lansia dan individu dari kelompok etnis minoritas.
Corfe juga menekankan bahwa kelompok yang memiliki risiko tinggi tidak dapat mengandalkan anggapan bahwa lebih banyak berada di luar ruangan selama musim panas akan menyelesaikan masalah kekurangan vitamin D. Pendekatan yang lebih konsisten sepanjang tahun diperlukan agar kadar vitamin D tetap berada pada tingkat yang sehat.
Para peneliti menilai hasil penelitian ini menunjukkan perlunya strategi kesehatan masyarakat yang lebih terarah. Beberapa langkah yang diusulkan meliputi penyediaan panduan yang lebih jelas mengenai vitamin D, pemeriksaan singkat kadar vitamin D saat konsultasi dengan dokter umum, serta pemberian suplemen vitamin D apabila memang diperlukan.
Penelitian ini juga memperkuat bukti ilmiah mengenai risiko kekurangan vitamin D sepanjang tahun pada kelompok masyarakat yang rentan. Selama ini perhatian terhadap kondisi tersebut masih relatif terbatas, padahal dampaknya dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Tahap berikutnya dari penelitian akan berfokus pada pengembangan strategi yang lebih personal dan sesuai dengan latar belakang budaya masing-masing individu. Pendekatan tersebut dapat mencakup rekomendasi pola makan yang disesuaikan serta layanan kesehatan yang lebih mampu memenuhi kebutuhan berbagai komunitas.
Para peneliti juga menegaskan bahwa Better You Ltd, perusahaan yang memberikan pendanaan penelitian, tidak terlibat dalam perancangan penelitian, pelaksanaan studi, maupun interpretasi hasil. Seluruh proses penelitian dilakukan secara independen oleh Newcastle University.
Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa paparan sinar matahari selama musim panas belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D pada kelompok yang berisiko tinggi mengalami kekurangan vitamin D. Penelitian menemukan bahwa banyak lansia dan individu dari kelompok etnis minoritas tetap memiliki kadar vitamin D yang rendah sepanjang tahun. Hasil tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih konsisten, seperti edukasi kesehatan, pemantauan kadar vitamin D, serta pemberian suplemen bila diperlukan, guna menjaga kesehatan tulang dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Diolah dari artikel:
“Study challenges a common belief about vitamin D and sunlight” oleh Newcastle University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260623083104.htm