Sumber ilustrasi: Pixabay
30 Juni 2026 11.50 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [30.06.2026] Apakah anda pernah menyaksikan matahari terbenam? Matahari terbenam dipandang banyak orang sebagai pemandangan indah yang menutup hari. Banyak orang menikmatinya karena warna langit yang berubah, suasana yang tenang, dan perasaan lega setelah menjalani aktivitas panjang. Dalam penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengalaman menyaksikan matahari terbenam bukan hanya menyenangkan secara visual. Momen tersebut dapat memengaruhi otak, suasana hati, daya ingat, kualitas tidur, dan bahkan kecenderungan seseorang untuk lebih peduli kepada orang lain.
Para ilmuwan semakin tertarik pada dampak psikologis dari matahari terbit dan matahari terbenam dikarenakan manusia tampaknya merespons kedua momen tersebut seperti penanda alami awal dan akhir hari. Cahaya, warna, dan suasana yang muncul saat golden hour dapat menciptakan pengalaman emosional yang kuat, terutama karena fenomena tersebut menghadirkan rasa kagum yang membekas.
Rasa kagum merupakan pengalaman ketika seseorang menyaksikan sesuatu yang terasa besar, indah, dan sulit sepenuhnya dipahami. Michelle Shiota dari Arizona State University menjelaskan bahwa salah satu ciri paling kuat dari rasa kagum adalah munculnya perasaan bahwa diri sendiri menjadi kecil di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar. Perspektif ini dapat membantu meredakan kecemasan karena persoalan pribadi terasa tidak lagi sebesar sebelumnya.
Ketika seseorang terlalu fokus pada diri sendiri, pikiran dapat mudah terjebak dalam kekhawatiran dan perenungan berulang. Pengalaman yang membangkitkan rasa kagum, seperti menyaksikan matahari terbenam, dapat menarik perhatian keluar dari lingkaran pikiran negatif dan mengembalikan seseorang pada momen yang sedang berlangsung.
Penelitian juga menunjukkan bahwa rasa kagum dapat mendorong perilaku prososial. Seseorang yang merasa kecil di hadapan pemandangan alam yang megah cenderung lebih terbuka terhadap orang lain, memiliki rasa tujuan yang lebih kuat, dan lebih terdorong untuk membantu.
Alam merupakan salah satu sumber rasa kagum yang paling umum bagi manusia. Shiota menjelaskan bahwa ketika orang diminta menceritakan momen ketika mereka merasa sangat kagum, jawaban yang paling sering muncul adalah fenomena alam, terutama pemandangan luas seperti langit, pegunungan, laut, dan matahari terbenam.
Dalam studi tahun 2023 yang mengukur respons lebih dari 2.500 partisipan terhadap gambar berbagai lingkungan alam, matahari terbit dan matahari terbenam termasuk contoh yang paling kuat membangkitkan rasa kagum. Jennifer Stellar dari University of Toronto menjelaskan bahwa matahari terbenam memiliki keindahan yang imersif, berskala besar, dan tidak biasa dibandingkan tampilan langit sehari-hari.
Dampak dari rasa kagum tidak hanya berhenti pada suasana hati. Dalam sebuah eksperimen, peserta yang menonton film sains yang membangkitkan rasa kagum mampu mengingat detail cerita dengan lebih akurat dibandingkan peserta lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman kagum dapat membantu meningkatkan perhatian dan daya ingat.
Stellar menjelaskan bahwa mekanisme otaknya belum sepenuhnya dipahami. Namun demikian salah satu kemungkinan adalah bahwa pengalaman yang membangkitkan rasa kagum membuat seseorang lebih fokus terhadap apa yang sedang terjadi di hadapannya.
Pengalaman rasa kagum yang terjadi secara rutin juga dapat mendukung kesehatan mental. Salah satu studi menemukan bahwa orang yang lebih sering mengalami rasa kagum dapat mengalami penurunan stres akut dan kronis, termasuk selama masa pandemi COVID-19.
Dalam studi lainnya, sekelompok lansia diminta mencari momen kecil yang membangkitkan rasa kagum saat berjalan kaki setiap minggu. Setelah delapan minggu, mereka menjadi lebih berfokus pada dunia luar dan menggambarkan lingkungan sekitar dengan lebih kaya dibandingkan kelompok yang tidak diminta mencari pengalaman semacam itu.
Menyaksikan matarahari terbenam sambil berjalan di alam dapat memperkuat manfaat tersebut. Stellar menduga bahwa alam sendiri sudah memiliki dampak positif bagi kesehatan, sementara matahari terbenam sebagai peristiwa alam yang sangat membangkitkan rasa kagum dapat memberikan manfaat tambahan.
Rasa kagum juga berhubungan dengan kesehatan fisik. Dalam penelitian terhadap 200 orang, Stellar menemukan bahwa mereka yang sering mengalami emosi positif seperti kegembiraan dan rasa kagum memiliki kadar sitokin yang lebih rendah. Sitokin merupakan penanda peradangan di dalam tubuh, dan kadar yang tinggi secara kronis berkaitan dengan risiko diabetes, penyakit kardiovaskular, dan depresi.
Penyebab hubungan tersebut belum diketahui secara pasti. Stellar menduga bahwa rasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dan hubungan sosial yang lebih kuat dapat membantu menurunkan peradangan. Kemampuan rasa kagum dalam mengurangi stres juga kemungkinan berperan.
Rasa kagum bahkan dapat membuat seseorang lebih murah hati. Dalam sebuah studi, mahasiswa yang melihat pohon eucalyptus raksasa dan merasakan rasa kagum membantu memungut lebih banyak pena yang dijatuhkan peneliti dibandingkan mahasiswa yang melihat sebuah bangunan. Pola tersebut menunjukkan bahwa pengalaman kagum dapat meningkatkan empati dan perilaku menolong.
Matahari terbenam juga berpengaruh terhadap ritme sirkadian, yaitu siklus tidur-bangun alami tubuh selama 24 jam. Paparan terhadap perubahan cahaya alami dari pagi hingga senja membantu otak memahami kapan tubuh harus aktif dan kapan harus bersiap untuk beristirahat.
Saat ritme sirkadian selaras dengan lingkungan, kelenjar pineal di otak dapat mengatur produksi melatonin dengan lebih baik. Hormon ini membantu tubuh bersiap tidur. Cahaya lembut menjelang senja berperan sebagai sinyal alami bahwa hari mulai berakhir.
Meskipun matahari terbit dianggap sebagai penanda ritme sirkadian yang lebih kuat, cahaya senja tetap penting. Warna merah dan keemasan pada matahari terbenam dapat membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, menurunkan kortisol, dan mendukung kondisi tubuh yang lebih siap untuk tidur.
Sebaliknya, cahaya buatan pada malam hari, terutama cahaya biru dari layar, dapat mengganggu sinyal alami tersebut. Mariana Figueiro dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai menjelaskan bahwa gangguan ritme sirkadian telah dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan.
Ritme sirkadian juga mengatur siklus kortisol. Dalam kondisi normal, kortisol meningkat sekitar 30 menit setelah bangun tidur untuk memberi energi pada tubuh, lalu perlahan menurun menjelang malam. Paparan cahaya buatan setelah matahari terbenam dapat mengganggu pola tersebut dan membuat tubuh memproduksi kortisol pada waktu yang tidak tepat.
Kadar kortisol yang tinggi secara kronis dapat berdampak pada kesehatan mental, fungsi kognitif, dan sistem kardiovaskular. Karena itu, paparan cahaya alami yang teratur, termasuk menyaksikan matahari terbenam, dapat membantu tubuh mempertahankan pola terang-gelap yang lebih sehat.
Para ilmuwan bahkan menduga manusia seakan dirancang untuk menyaksikan matahari terbit dan matahari terbenam sebagai dua penanda harian. Bagi mereka yang tidak dapat menyaksikan keduanya secara langsung, penelitian tahun 2024 menemukan bahwa lampu LED yang meniru warna lembut matahari terbit dan terbenam dapat membantu mengatur ritme sirkadian.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa matahari terbenam bukan hanya pemandangan indah, melainkan pengalaman alam yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Rasa kagum yang muncul saat menyaksikannya dapat meredakan kecemasan, meningkatkan fokus, memperkuat ingatan, mendorong empati, dan membantu tubuh memasuki fase istirahat. Dengan menikmati momen matahari terbenam secara lebih sadar, seseorang mungkin memperoleh manfaat sederhana namun bermakna bagi tubuh, pikiran, dan hubungan sosial.
Diolah dari artikel:
“What watching the sunset really does for your health” oleh Melissa Hogenboom. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.