Sumber ilustrasi: Unsplash
30 Juni 2026 12.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [30.06.2026] Jalan-jalan peninggalan Kekaisaran Romawi merupakan salah satu pencapaian teknik sipil paling mengesankan dalam sejarah. Banyak ruas jalan yang dibangun lebih dari dua ribu tahun lalu masih dapat dikenali hingga sekarang, bahkan beberapa di antaranya tetap digunakan. Salah satu ciri yang paling sering dikagumi adalah bentuknya yang sangat lurus dalam jarak puluhan hingga ratusan kilometer. Sejarawan dan arkeolog selama bertahun-tahun berusaha memahami bagaimana bangsa Romawi mampu membangun jaringan jalan yang begitu presisi tanpa bantuan teknologi modern seperti satelit, GPS, maupun alat ukur elektronik.
Jaringan jalan Romawi membentang melintasi Eropa, Afrika Utara, hingga sebagian Timur Tengah. Proyek pemetaan terbaru bahkan berhasil mengidentifikasi sekitar 300.000 kilometer jalan Romawi, dan para peneliti menduga masih banyak ruas lain yang belum ditemukan. Infrastruktur tersebut menjadi tulang punggung perjalanan, perdagangan, komunikasi, dan mobilisasi militer di seluruh wilayah kekaisaran.
Beberapa contoh paling terkenal adalah Via Appia yang menghubungkan Roma dengan pelabuhan Brundisium di Italia selatan sepanjang lebih dari 500 kilometer, serta Stane Street di Inggris yang menghubungkan London dengan Chichester sepanjang sekitar 92 kilometer. Sebagian besar kedua jalan tersebut dibangun hampir tanpa tikungan. Jalan-jalan lurus serupa juga ditemukan di kawasan Timur Tengah, termasuk jalur pesisir yang menghubungkan Antiokhia dengan wilayah yang kini menjadi Gaza.
Para peneliti menjelaskan bahwa bangsa Romawi tidak selalu membangun jalan dari nol. Marion Kruse dari University of Cincinnati mengatakan bahwa dalam banyak kasus jaringan jalan Romawi memanfaatkan jalur-jalur yang telah digunakan oleh masyarakat lokal sebelum wilayah tersebut ditaklukkan. Jalan-jalan lama kemudian diperluas, diperbaiki, atau diintegrasikan ke dalam sistem transportasi kekaisaran.
Ketika membangun jalan baru, bangsa Romawi mengandalkan tiga instrumen utama untuk melakukan survei medan, yaitu dioptra, groma, dan chorobatus. Adriana Panaite dari Vasile Pârvan Institute of Archaeology menjelaskan bahwa ketiga alat tersebut secara konsisten digunakan dalam proses perencanaan jalan.
Dioptra berfungsi sebagai alat pembidik jarak jauh. Walaupun belum pernah ditemukan dalam penggalian arkeologi, berbagai naskah kuno menggambarkan alat tersebut memiliki tabung pengamatan yang membantu juru ukur melihat objek yang jauh dengan lebih akurat. Instrumen tersebut memungkinkan penentuan arah jalur secara presisi sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.
Instrumen lain, yaitu chorobatus, digunakan untuk mengukur bidang horizontal dan menentukan perbedaan ketinggian tanah. Alat yang panjangnya sekitar enam meter tersebut menyerupai meja kayu dengan kaki penyangga serta pemberat yang membantu memastikan permukaan tetap rata. Fungsi tersebut sangat penting ketika para insinyur harus menentukan elevasi jalan atau memilih jalur yang paling stabil.
Menurut Joseph Lewis dari University of Cambridge, alat yang paling penting justru adalah groma. Instrumen ini terdiri atas sebuah tiang vertikal dengan palang berbentuk huruf X yang dilengkapi empat tali pemberat. Groma memungkinkan para juru ukur membentuk garis lurus dan sudut siku-siku secara sangat presisi, bahkan untuk lintasan yang sangat panjang.
Lewis menjelaskan bahwa beberapa juru ukur dapat berdiri berjauhan sambil menyelaraskan posisi groma hingga seluruh tiang berada pada satu garis pandang. Setelah arah dasar berhasil ditentukan, para insinyur kemudian menyesuaikan jalur tersebut dengan kondisi medan. Lereng yang terlalu curam, lokasi penyeberangan sungai, maupun permukiman yang telah ada sebelumnya menjadi faktor penting dalam menentukan lintasan akhir jalan.
Meskipun demikian, penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan semua jalan Romawi selalu lurus sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Marion Kruse mengingatkan bahwa Kekaisaran Romawi membentang sangat luas dan bertahan selama berabad-abad, sehingga teknik pembangunan jalan sangat mungkin berubah sesuai wilayah maupun periode waktu tertentu.
Keberagaman tenaga kerja juga berperan dalam variasi teknik pembangunan. Richard Talbert dari University of North Carolina at Chapel Hill menjelaskan bahwa proyek jalan kemungkinan dikerjakan oleh gabungan tentara, budak, tawanan perang, serta penduduk lokal yang diwajibkan bekerja melalui sistem kerja paksa. Untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian tinggi, seperti pembangunan jembatan, kemungkinan digunakan tenaga profesional yang dibayar.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi topografi merupakan faktor utama yang menentukan apakah sebuah jalan dapat dibangun lurus atau tidak. Tom Brughmans dari Aarhus University menjelaskan bahwa bangsa Romawi cenderung membangun jalan lurus di wilayah dataran yang relatif tidak memiliki hambatan alam. Sebaliknya, kawasan pegunungan atau medan yang rumit memaksa para insinyur membuat jalan yang lebih berkelok agar kendaraan beroda tetap dapat melintas dengan aman.
Brughmans bahkan memperkirakan penelitian di masa depan akan menunjukkan bahwa secara umum jalan Romawi sebenarnya lebih banyak memiliki tikungan dibandingkan yang selama ini dibayangkan masyarakat. Jalan modern justru sering kali lebih lurus karena dirancang untuk kendaraan bermotor yang membutuhkan tikungan lebih sedikit saat melaju dengan kecepatan tinggi.
Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan bangsa Romawi bukan semata-mata karena kemampuan membangun jalan lurus, melainkan karena kemampuan mereka menggabungkan teknologi survei, pengamatan medan, dan penyesuaian terhadap kondisi alam. Kombinasi antara instrumen sederhana dengan keterampilan para juru ukur memungkinkan pembangunan jaringan transportasi yang mampu bertahan selama ribuan tahun.
Jalan-jalan Romawi tidak dibangun hanya berdasarkan keinginan untuk membuat garis lurus sejauh mungkin. Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa para insinyur Romawi memanfaatkan alat survei seperti dioptra, chorobatus, dan terutama groma untuk menentukan jalur yang paling efisien, kemudian menyesuaikannya dengan kondisi topografi, sungai, maupun permukiman yang telah ada. Pendekatan tersebut menghasilkan jaringan jalan yang sangat maju untuk zamannya dan menjadi salah satu fondasi penting bagi berkembangnya perdagangan, administrasi, dan kekuatan militer Kekaisaran Romawi.
Diolah dari artikel:
“How did the Romans build such straight roads?” oleh Tom Metcalfe. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/archaeology/romans/how-did-the-romans-build-such-straight-roads