Dapatkah Mikroba Tanah Menjadi Solusi untuk Lahan Pertanian yang Terlalu Asin?

Sumber ilustrasi: Pixabay
01 Juli 2026 08.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [01.07.2026] Salinitas tanah menjadi salah satu ancaman terbesar bagi pertanian modern. Perubahan iklim, praktik irigasi yang kurang tepat, serta kenaikan permukaan laut menyebabkan garam terus menumpuk di lahan pertanian. Kondisi tersebut menghambat pertumbuhan tanaman, merusak sistem perakaran, dan menurunkan hasil panen secara signifikan. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan global, para ilmuwan terus mencari solusi alami yang mampu membantu tanaman bertahan di lingkungan dengan kadar garam tinggi.

Salah satu pendekatan yang mulai menarik perhatian adalah memanfaatkan mikroorganisme yang hidup di sekitar akar tanaman. Tanaman diketahui tidak tumbuh sendirian, melainkan berinteraksi dengan berbagai mikroba yang membentuk komunitas yang dikenal sebagai root microbiome. Meskipun hubungan tersebut telah lama diketahui, mekanisme bagaimana mikroba membantu tanaman menghadapi stres akibat salinitas masih belum sepenuhnya dipahami.

Penelitian terbaru yang dipimpin Dr. Yanfen Zheng bersama tim peneliti dari University of East Anglia (UEA) berhasil mengungkap bahwa bakteri tanah alami dapat meningkatkan kemampuan tanaman bertahan pada kondisi tanah yang asin. Penelitian tersebut juga menemukan mekanisme biologis baru yang sebelumnya belum pernah diketahui mengenai cara mikroba melindungi tanaman dari stres akibat garam.

Tim peneliti mempelajari mikrobioma akar dari berbagai tanaman pangan yang ditanam pada beberapa jenis tanah. Mereka menemukan bahwa kelompok bakteri alami yang dikenal sebagai pseudomonads secara konsisten berkumpul di sekitar akar tanaman yang mengalami stres akibat kadar garam tinggi.

Fenomena tersebut tidak hanya ditemukan pada satu jenis tanaman. Jagung, tomat, dan kanola (rapeseed) sama-sama menunjukkan pola yang serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan tanaman merekrut bakteri menguntungkan merupakan respons biologis yang kemungkinan dimiliki oleh banyak spesies tanaman.

Analisis genetik kemudian mengungkap alasan mengapa bakteri pseudomonads mampu bertahan di lingkungan yang asin. Prof. Jonathan Todd dari School of Biological Sciences UEA dan Quadram Institute menjelaskan bahwa dibandingkan mikroba lain, pseudomonads memiliki gen-gen khusus yang memungkinkan mereka mentoleransi kadar garam tinggi, termasuk sistem transport natrium dan berbagai mekanisme ketahanan terhadap stres.

Untuk mengetahui apakah bakteri tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi tanaman, para peneliti mengintroduksi beberapa galur pseudomonads ke tanaman kedelai. Percobaan dilakukan baik di rumah kaca maupun di lapangan sehingga hasilnya dapat dibandingkan pada kondisi yang berbeda.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa bakteri tersebut berhasil mengkolonisasi sistem perakaran tanaman. Tanaman yang memperoleh perlakuan memiliki akar yang lebih kuat, pertumbuhan yang lebih baik, dan menghasilkan panen yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tumbuh di tanah asin tanpa bantuan mikroba. Menurut Prof. Jonathan Todd, peningkatan tersebut terlihat secara konsisten pada berbagai pengujian.

Penemuan paling mengejutkan justru muncul ketika para peneliti mencoba memahami mekanisme perlindungan tersebut. Selama beberapa dekade, para ilmuwan beranggapan bahwa tanaman mampu bertahan pada kondisi salinitas dengan cara mengendalikan masuknya natrium atau menjaga keseimbangan ion di dalam jaringan tanaman.

Akan tetapi penelitian terbaru tidak menemukan bukti bahwa bakteri memengaruhi transport natrium ataupun keseimbangan ion tersebut. Sebaliknya, bakteri justru merangsang tanaman memproduksi lebih banyak lignin, suatu senyawa berkayu yang menjadi bagian penting dari dinding sel tanaman.

Pengukuran menunjukkan bahwa akar tanaman yang diberi bakteri mengalami peningkatan kandungan lignin lebih dari 30 persen ketika berada pada kondisi stres akibat garam. Lignin berfungsi memperkuat struktur jaringan tanaman sehingga akar menjadi lebih kokoh dan lebih mampu bertahan menghadapi tekanan lingkungan.

Para peneliti kemudian berhasil mengidentifikasi gen-gen utama yang bertanggung jawab meningkatkan produksi lignin. Ketika gen tersebut dibuat lebih aktif, tanaman mampu tumbuh jauh lebih baik pada tanah yang asin. Sebaliknya, tanaman yang tidak mampu menghasilkan lignin tidak memperoleh manfaat dari keberadaan bakteri, menunjukkan bahwa senyawa tersebut merupakan komponen utama dalam mekanisme perlindungan yang baru ditemukan.

Menurut Prof. Jonathan Todd, temuan tersebut membuka peluang baru bagi pengembangan pertanian berbasis hayati. Pemanfaatan mikroba alami seperti pseudomonads berpotensi menghasilkan perlakuan biologis yang membantu tanaman tumbuh di lahan dengan kadar garam tinggi tanpa harus bergantung pada penggunaan bahan kimia dalam jumlah besar.

Penelitian ini juga menjadi penting mengingat semakin luasnya lahan pertanian di berbagai belahan dunia yang terdampak salinitas. Dengan terus bertambahnya wilayah yang mengalami penumpukan garam akibat perubahan iklim dan kenaikan muka laut, solusi berbasis mikroba dapat menjadi salah satu teknologi penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan global.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa tanaman memiliki kemampuan alami untuk merekrut bakteri yang membantu menghadapi stres akibat garam. Mikroba pseudomonads tidak bekerja dengan mengurangi kadar garam di dalam tanaman, melainkan dengan merangsang pembentukan lignin yang memperkuat jaringan akar sehingga tanaman tetap mampu tumbuh dan menghasilkan panen pada tanah yang asin. Penemuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan yang memanfaatkan mikroorganisme alami untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap perubahan lingkungan.

Diolah dari artikel:
“These tiny soil microbes could rescue crops from salty farmland” oleh University of East Anglia. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260626124703.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *