Sumber ilustrasi: Unsplash
01 Juli 2026 10.20 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [01.07.2026] Piramida Agung Giza telah berdiri selama hampir 5.000 tahun, melampaui runtuhnya banyak peradaban dan perubahan besar dalam sejarah manusia. Sebagai satu-satunya dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang masih bertahan hingga kini, bangunan ini bukan hanya menjadi simbol kekuasaan Mesir kuno, tetapi juga bukti luar biasa dari kemampuan teknik konstruksi pada masa lampau. Salah satu pertanyaan yang lama menarik perhatian ilmuwan adalah mengapa struktur raksasa ini tetap stabil meskipun Mesir sesekali mengalami gempa bumi kuat.
Mesir memang bukan wilayah dengan aktivitas seismik tinggi. Akan tetapi beberapa gempa besar pernah terjadi, termasuk gempa bermagnitudo 6,8 pada 1847 dan gempa bermagnitudo 5,8 pada 1992. Gempa sebesar itu dapat menghasilkan gerakan tanah yang kuat dan merusak bangunan. Menariknya, Piramida Agung hanya mengalami sedikit kerusakan meskipun telah melewati ribuan tahun guncangan alam.
Penelitian terbaru memberikan jawaban ilmiah mengenai ketahanan tersebut. Para ilmuwan menemukan bahwa Piramida Agung bergetar dengan cara yang berbeda dari tanah di sekitarnya. Perbedaan frekuensi getaran ini membuat piramida lebih kecil kemungkinannya mengalami resonansi, yaitu kondisi ketika bangunan menyerap energi dari pergerakan tanah sehingga getaran menjadi semakin kuat dan berisiko merusak struktur.
Mohamed ElGabry dari National Research Institute of Astronomy and Geophysics di Kairo bersama timnya meneliti getaran halus di dalam dan sekitar Piramida Agung. Para peneliti tidak mengguncang piramida secara sengaja karena tindakan seperti itu dapat merusak bangunan kuno tersebut. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan getaran kecil dari gelombang laut jauh, lalu lintas, dan peristiwa lain yang secara alami membuat struktur bergetar.
Tim memantau 37 titik pengukuran di dalam dan sekitar piramida. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat titik di dalam bangunan bergetar pada frekuensi antara 2,0 hingga 2,6 kali per detik. Rentang frekuensi yang sempit ini menunjukkan bahwa tekanan akibat getaran tersebar cukup merata di seluruh struktur.
Sementara itu, tanah di sekitar piramida bergetar lebih lambat, sedikit lebih dari satu kali setiap dua detik. Perbedaan antara frekuensi alami material piramida dan tanah di sekitarnya membantu mencegah terjadinya resonansi yang berbahaya ketika gempa terjadi.
Selain perbedaan frekuensi getaran, bentuk piramida juga ikut berperan. Struktur yang melebar di bagian dasar dan menyempit ke puncak membuat massa bangunan tersebar secara stabil. Bentuk ini secara alami membantu piramida menahan gaya dari berbagai arah.
Desain internal Piramida Agung juga memberikan perlindungan tambahan. Bangsa Mesir kuno membangun ruang-ruang pelepas tekanan di atas ruang makam firaun. Ruang-ruang tersebut berfungsi mendistribusikan beban piramida dan melindungi ruang pemakaman dari risiko runtuhan.
Penelitian menemukan bahwa ruang-ruang pelepas tekanan ini juga membantu mengurangi kekuatan getaran di bagian atas piramida. Pada bangunan biasa, getaran sering kali semakin besar di bagian atas karena struktur memiliki ruang lebih besar untuk bergoyang. Pada Piramida Agung, getaran memang meningkat di ruang raja yang terletak di atas batuan dasar dan dekat pusat bangunan, tetapi ruang-ruang pelepas tekanan di atasnya tampaknya membantu menahan sebagian penguatan tersebut.
ElGabry menjelaskan bahwa getaran di ruang raja dapat mencapai empat kali lebih kuat dibandingkan getaran di permukaan tanah. Namun, di ruang-ruang pelepas tekanan yang berada di atasnya, getaran hanya sekitar tiga kali lebih kuat. Penyebab pasti perbedaan ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi temuan tersebut menunjukkan bahwa struktur internal piramida berperan dalam mengatur penyebaran getaran.
Sherif El-Tawil dari University of Michigan, yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai bahwa kemampuan piramida menahan gempa bukan sesuatu yang mengejutkan. Namun, penelitian ini memberikan petunjuk penting mengenai alasan teknis mengapa bangunan tersebut dapat bertahan dari kerusakan besar selama ribuan tahun.
Piramida Agung dibangun sekitar tahun 2600 sebelum Masehi sebagai makam Firaun Khufu. Bangunan ini tersusun dari sekitar 2,3 juta balok batu dan membutuhkan waktu lebih dari dua dekade untuk diselesaikan. Dari sudut pandang teknik modern, kemampuan para pembangun Mesir kuno menciptakan struktur setahan itu sangat mengesankan, terlebih ketika mempertimbangkan keterbatasan alat dan sumber daya pada masa tersebut.
Meski begitu, penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa bangsa Mesir kuno secara sengaja merancang piramida agar tahan gempa. Ketahanan tersebut kemungkinan merupakan hasil dari kombinasi bentuk geometris, pemilihan material, distribusi massa, dan rancangan ruang internal yang secara tidak langsung membuat bangunan lebih stabil terhadap guncangan.
Temuan ini juga memiliki relevansi bagi konstruksi modern. ElGabry menjelaskan bahwa para insinyur masa kini dapat belajar dari cara bangunan kuno seperti Piramida Agung bertahan dalam jangka waktu sangat panjang. Bangunan modern biasanya dirancang untuk bertahan sekitar 100 hingga 500 tahun, sedangkan Piramida Agung telah melampaui ribuan tahun.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketahanan Piramida Agung terhadap gempa bukan hanya akibat usia, kebetulan, atau kekuatan batu semata, melainkan hasil dari kombinasi material, bentuk, distribusi massa, dan desain internal yang membuat getaran tersebar lebih stabil. Perbedaan frekuensi getaran antara piramida dan tanah di sekitarnya membantu mengurangi risiko resonansi, sementara ruang-ruang pelepas tekanan di dalam bangunan turut melemahkan guncangan di bagian atas. Dengan memahami bagaimana struktur kuno ini bertahan selama hampir 5.000 tahun, para ilmuwan dan insinyur modern dapat memperoleh inspirasi baru untuk merancang bangunan yang lebih kuat, stabil, dan tahan lama.
Diolah dari artikel:
“Mystery solved: Why earthquakes haven’t wrecked Egypt’s Great Pyramid” oleh Skyler Ware. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/egypt-great-pyramid-resist-earthquake