Sumber ilustrasi: Unsplash
02 Juli 2026 16.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [02.07.2026] Ilmuwan meyakini bahwa manusia modern pertama (Homo sapiens) berevolusi di sabana Afrika Timur sebelum kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Dalam pandangan tersebut, hutan hujan tropis dianggap bukan habitat utama manusia purba karena lingkungannya yang panas, lembap, dipenuhi hewan berbisa, tumbuhan beracun, parasit, serta sangat miskin temuan fosil manusia. Dalam sejumlah penemuan terbaru mulai menantang pemahaman tersebut dan menunjukkan bahwa hutan hujan mungkin telah memainkan peran jauh lebih besar dalam sejarah evolusi manusia daripada yang selama ini diperkirakan.
Salah satu petunjuk penting datang dari Pulau Sulawesi, Indonesia. Pada Januari lalu, para peneliti mengumumkan penemuan seni cadas tertua yang diketahui di dunia, yang dibuat sekitar 70.000 tahun lalu. Selain memecahkan rekor usia seni cadas, lokasi penemuan tersebut juga memperlihatkan bahwa manusia modern telah berkembang dan beradaptasi dengan baik di lingkungan hutan hujan tropis sejak puluhan ribu tahun silam.
Menurut Patrick Roberts, arkeolog dan antropolog dari Max Planck Institute of Geoanthropology, memahami kapan, di mana, dan bagaimana manusia menghuni hutan hujan dapat membantu menjelaskan salah satu karakteristik paling mendasar yang membuat manusia berbeda dari spesies lain. Kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang sangat beragam diduga menjadi salah satu keunggulan utama Homo sapiens.
Perubahan pandangan mengenai asal-usul manusia modern mulai menguat setelah penemuan fosil Homo sapiens tertua di Jebel Irhoud, Maroko, pada 2017. Penemuan tersebut menggoyahkan teori lama yang menyatakan bahwa manusia modern hanya berasal dari satu populasi di Afrika Timur. Setahun kemudian, Eleanor Scerri bersama rekan-rekannya menggabungkan bukti arkeologi dengan data genetik populasi manusia modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa Homo sapiens kemungkinan berasal dari banyak populasi yang tersebar di berbagai wilayah Afrika dan hidup di berbagai jenis ekosistem.
Scerri menjelaskan bahwa apabila asal-usul manusia tidak berasal dari satu wilayah, maka sangat mungkin lingkungan tempat manusia berevolusi juga tidak terbatas pada satu ekosistem saja. Dengan kata lain, selain sabana, hutan hujan tropis mungkin juga menjadi salah satu tempat berkembangnya manusia modern paling awal.
Hipotesis tersebut memiliki konsekuensi penting bagi pemahaman evolusi manusia. Setiap lingkungan memberikan tekanan seleksi yang berbeda. Populasi yang hidup di hutan hujan kemungkinan mengembangkan adaptasi biologis yang berbeda dibandingkan kelompok yang hidup di sabana terbuka. Ketika populasi-populasi tersebut kembali bertemu dan saling bertukar gen, variasi adaptasi tersebut memperkaya kemampuan Homo sapiens untuk bertahan di berbagai lingkungan, termasuk ketika kemudian menyebar hingga Asia Tenggara tropis seperti Sulawesi.
Salah satu hambatan terbesar dalam menguji hipotesis ini adalah minimnya fosil dari kawasan hutan hujan. Tanah yang sangat asam mempercepat pelapukan tulang dan bahan organik sehingga fosil manusia hampir tidak pernah bertahan dalam kondisi baik. Selain itu, curah hujan tinggi juga membuat lapisan sedimen yang biasanya digunakan untuk menentukan usia fosil menjadi sangat terbatas.
Antonio Rosas dari National Museum of Natural Sciences di Spanyol mengaku bahwa pencarian fosil manusia di hutan hujan Guinea Khatulistiwa selama bertahun-tahun belum membuahkan hasil. Kondisi tersebut menggambarkan betapa sulitnya memperoleh bukti langsung mengenai kehidupan manusia purba di kawasan tropis Afrika.
Karena keterbatasan fosil, para peneliti mulai mengandalkan artefak batu sebagai sumber informasi. Berbagai alat batu menunjukkan bahwa manusia telah berada di hutan tropis wilayah Kenya sekitar 78.000 tahun lalu, di Guinea Khatulistiwa sekitar 45.000 tahun lalu, dan di Republik Demokratik Kongo sekitar 18.000 tahun lalu.
Bukti yang lebih mengejutkan muncul pada 2025 ketika para peneliti berhasil menentukan usia alat-alat batu yang ditemukan di Pantai Gading sejak dekade 1980-an. Analisis terbaru menunjukkan bahwa alat-alat tersebut berusia sekitar 150.000 tahun. Karena wilayah tersebut juga merupakan hutan hujan tropis pada masa itu, temuan ini menjadi bukti bahwa manusia modern telah menghuni hutan hujan jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya. Eslem Ben Arous menjelaskan bahwa temuan tersebut menunjukkan kemampuan Homo sapiens awal untuk mengembangkan teknologi yang memungkinkan mereka bertahan hidup di hutan tropis yang lebat.
Walaupun alat-alat batu memperlihatkan keberadaan manusia di hutan hujan, bukti tersebut belum cukup untuk memastikan apakah mereka benar-benar tinggal di sana sepanjang tahun. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti masih membutuhkan bukti biologis berupa fosil atau sisa-sisa tubuh manusia.
Salah satu pendekatan yang mulai digunakan adalah analisis isotop pada enamel gigi manusia. Rasio isotop tertentu dapat mengungkap lingkungan tempat seseorang tumbuh karena hutan hujan tropis memiliki karakteristik kimia yang berbeda dibandingkan ekosistem lain. Hingga kini, bukti tertua berasal dari dua gigi manusia berusia 46.000 hingga 63.000 tahun yang ditemukan di Gua Tam Pà Ling, Laos. Analisis isotop seng menunjukkan bahwa individu tersebut mengonsumsi makanan yang sebagian besar berasal dari hutan hujan tropis.
Sementara itu, bukti serupa dari Afrika masih belum tersedia. Roberts menilai bahwa kemampuan manusia untuk beradaptasi terhadap berbagai lingkungan, termasuk hutan hujan, merupakan salah satu karakteristik paling khas dari spesies Homo sapiens.
Untuk mengetahui bagaimana manusia purba mampu bertahan di lingkungan tropis, para antropolog juga mempelajari populasi modern yang masih tinggal di hutan hujan. Banyak kelompok tersebut memiliki tubuh relatif kecil, yang diduga memudahkan pelepasan panas, mengurangi kebutuhan energi, dan mempermudah pergerakan di tengah vegetasi yang rapat. Penelitian genetik juga menemukan adanya variasi gen yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, perkembangan anggota gerak, serta ketahanan terhadap patogen tertentu pada kelompok pemburu-peramu hutan hujan Afrika.
Walaupun demikian, belum ada bukti bahwa adaptasi serupa juga dimiliki oleh manusia modern paling awal. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ilmuwan berharap dapat memperoleh DNA purba dari lingkungan tropis. Selama bertahun-tahun, pelestarian DNA di wilayah panas dan lembap dianggap mustahil. Namun, tinjauan terbaru yang dilakukan Miklós Bálint dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa DNA lingkungan purba ternyata dapat bertahan lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Kajian tersebut mengidentifikasi lebih dari seratus penelitian yang berhasil memperoleh DNA lingkungan purba dari kawasan tropis dan subtropis antara 1998 hingga 2025, termasuk DNA berusia sekitar satu juta tahun yang ditemukan di sebuah danau di Indonesia. Sebagian besar DNA tersebut berasal dari tumbuhan, tetapi para peneliti menilai bahwa jejak DNA manusia juga kemungkinan tersimpan di lingkungan yang sama dan dapat dimanfaatkan untuk mengungkap sejarah manusia purba.
Ben Arous menilai bahwa keberhasilan memperoleh DNA manusia dari lingkungan tropis akan menjadi terobosan besar karena dapat menjelaskan bagaimana manusia memengaruhi ekosistem, bagaimana mereka bermigrasi, saling kawin, hingga penyakit dan parasit yang mereka hadapi. Di sisi lain, Scerri menjelaskan bahwa berbagai proyek penelitian di Benin, Guinea, Ghana, dan Senegal kini mulai menghasilkan petunjuk baru mengenai keberadaan manusia purba di kawasan yang sebelumnya hampir tidak pernah dipelajari.
Berbagai temuan terbaru semakin memperkuat dugaan bahwa hutan hujan tropis bukan sekadar wilayah yang baru dihuni manusia setelah berkembangnya pertanian, melainkan kemungkinan telah menjadi salah satu habitat penting sejak awal evolusi Homo sapiens. Meskipun bukti fosil masih sangat terbatas, kombinasi data dari alat batu, seni cadas, analisis isotop, dan penelitian DNA lingkungan mulai membentuk gambaran baru mengenai asal-usul manusia modern. Penelitian lanjutan di kawasan hutan hujan diperkirakan akan terus mengubah pemahaman tentang bagaimana manusia berevolusi dan berhasil menjadi spesies yang mampu beradaptasi dengan hampir seluruh lingkungan di Bumi.
Diolah dari artikel:
“Early Homo sapiens may have lived in rainforests, new clues suggest — and it could overturn our understanding of human evolution” oleh Sophie Berdugo. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.