Nyamuk Belajar Menyukai Obat Pengusir Serangga?

Sumber ilustrasi: Pixabay
02 Juli 2026 16.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [02.07.2026] DEET, senyawa kimia aktif yang sangat umum digunakan sebagai bahan utama dalam losion atau semprotan anti-serangga, merupakan salah satu bahan pengusir serangga paling efektif. Banyak orang menggunakannya untuk menghindari gigitan nyamuk, terutama di wilayah yang memiliki risiko penyakit seperti demam kuning, dengue, malaria, atau infeksi lain yang ditularkan serangga. Akan tetapi, penelitian laboratorium terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara nyamuk dan DEET mungkin lebih rumit daripada yang selama ini dipahami.

Dalam uji laboratorium terbaru, nyamuk demam kuning atau Aedes aegypti ternyata dapat belajar mengaitkan aroma DEET dengan makanan. Temuan ini mengejutkan karena DEET biasanya dianggap sebagai bau yang menjauhkan nyamuk. Namun, ketika nyamuk mendapat pengalaman bahwa keberadaan DEET berkaitan dengan darah, aroma yang semula dianggap mengganggu dapat berubah menjadi sinyal yang menarik.

Clément Vinauger dari Virginia Tech menjelaskan bahwa cara kerja DEET sebenarnya masih belum sepenuhnya jelas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nyamuk tidak menyukai bau atau rasa DEET. Penelitian lain menduga bahwa DEET mengacaukan sistem indra nyamuk sehingga serangga tersebut tidak mampu mendeteksi aroma tubuh manusia yang biasanya menarik mereka untuk mencari darah.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa nyamuk bukan hanya mampu mendeteksi DEET, tetapi juga dapat belajar dari pengalaman sebelumnya. Dengan kata lain, perilaku nyamuk tidak selalu bersifat tetap. Pengalaman yang berulang dapat mengubah cara nyamuk menilai suatu aroma.

Untuk menguji kemungkinan tersebut, tim Vinauger menempatkan nyamuk dalam wadah yang terhubung dengan dua labu. Satu labu berisi udara bersih, sedangkan labu lainnya mengandung DEET. Pada tahap awal, nyamuk diberi makan darah dari alat pemberi makan buatan saat hanya terpapar udara bersih. Setelah itu, paparan DEET mulai ditingkatkan.

Tujuan percobaan tersebut adalah melatih nyamuk agar menghubungkan bau DEET dengan makanan berupa darah. Para peneliti ingin mengetahui apakah nyamuk dapat mengubah respons terhadap aroma yang biasanya dianggap sebagai penolak.

Untuk menguji hasil pelatihan, para peneliti memasukkan nyamuk yang telah dilatih dan nyamuk yang belum dilatih ke dalam tabung sempit. Seorang anggota tim menyemprotkan DEET pada satu tangan, sementara tangan lainnya dibiarkan tanpa DEET. Kedua tangan kemudian diletakkan di ujung tabung yang berbeda, lalu perilaku nyamuk diamati.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang jelas. Nyamuk yang sebelumnya pernah terpapar DEET saat memperoleh darah mencoba menggigit tangan yang telah diberi DEET. Sebaliknya, nyamuk yang tidak dilatih cenderung menghindari tangan tersebut. Temuan ini dipublikasikan pada 28 Mei dalam Journal of Experimental Biology.

Anandasankar Ray, ahli saraf dari University of California, Riverside, yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai bahwa hasil tersebut menunjukkan nyamuk benar-benar mencium DEET. Menurut Ray, nyamuk juga dapat dilatih untuk tertarik pada DEET apabila aroma tersebut disertai hadiah berupa makanan.

Namun demikian Ray juga menekankan bahwa percobaan laboratorium tidak sepenuhnya sama dengan kondisi nyata. Dalam percobaan tersebut, nyamuk tidak dapat benar-benar mendarat di tangan yang diberi DEET. Padahal, nyamuk harus mendarat terlebih dahulu sebelum mengisap darah. Dalam situasi nyata, DEET kemungkinan tetap menghalau nyamuk sebelum proses makan dimulai.

Ray menjelaskan bahwa nyamuk tidak hanya mencium bau dengan antena, tetapi juga menggunakan kaki untuk mendeteksi senyawa ketika menyentuh permukaan. Karena itu, ketika nyamuk mendarat pada kulit yang diberi DEET, pengalaman tersebut dapat terasa seperti kontak pahit yang tidak menyenangkan. Dalam konteks ini, DEET tetap dapat berfungsi sebagai hukuman, bukan hadiah.

Vinauger menduga bahwa pembelajaran seperti ini mungkin terjadi ketika efek DEET mulai melemah. Beberapa jam setelah diaplikasikan ke kulit, masih mungkin terdapat sisa DEET, tetapi konsentrasinya tidak lagi cukup kuat untuk mencegah nyamuk mendarat. Dalam kondisi tersebut, nyamuk dapat tetap mengisap darah dan mulai menghubungkan aroma DEET dengan makanan.

Apabila pengalaman tersebut terjadi berulang, nyamuk mungkin mulai mencari kombinasi aroma manusia dan sisa DEET. Kemungkinan ini masih perlu diuji lebih lanjut di luar laboratorium, terutama dalam kondisi lingkungan alami yang jauh lebih kompleks.

Meski demikian, hasil penelitian ini tidak berarti masyarakat perlu berhenti menggunakan DEET. Vinauger menegaskan bahwa DEET masih menjadi standar utama dalam perlindungan terhadap gigitan nyamuk. Bahan ini tetap penting, terutama di wilayah tempat nyamuk menjadi penyebar penyakit.

Yang menjadi perhatian utama adalah cara penggunaan. Produk DEET dijual oleh berbagai produsen dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Setiap produk juga memiliki petunjuk pemakaian tersendiri. Mengikuti instruksi penggunaan menjadi penting agar konsentrasi DEET tetap cukup kuat untuk mencegah nyamuk mendarat dan menggigit.

Penelitian ini menunjukkan bahwa nyamuk memiliki kemampuan belajar yang lebih kompleks daripada yang mungkin dibayangkan. Dalam kondisi laboratorium, Aedes aegypti dapat mengaitkan aroma DEET dengan makanan sehingga respons terhadap bahan pengusir serangga tersebut berubah. Namun, DEET tetap menjadi salah satu perlindungan paling efektif terhadap nyamuk apabila digunakan sesuai petunjuk. Temuan ini membuka pemahaman baru mengenai perilaku nyamuk sekaligus menegaskan pentingnya penggunaan obat pengusir serangga secara benar agar perlindungannya tetap optimal.

Diolah dari artikel:
“Mosquitoes may learn to like DEET, a common insect repellent” oleh Erin Garcia de Jesús. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link:  https://www.snexplores.org/article/deet-repellent-attract-mosquitoes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *