Sumber ilustrasi: Pixabay
16 Juli 2026 15.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.07.2026] Koala merupakan satu simbol satwa liar Australia. Di balik status ikonik tersebut, banyak populasi koala menghadapi ancaman serius akibat kehilangan habitat, kebakaran hutan, kekeringan, penyakit, dan penurunan keragaman genetik. Ketika seekor koala mati tanpa mewariskan gennya, berbagai sifat unik yang mungkin penting bagi kemampuan beradaptasi juga ikut hilang.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, para ilmuwan di Australia mulai membekukan sel telur dan sperma koala sebagai bentuk “cadangan genetik”. Materi reproduksi tersebut diharapkan dapat digunakan pada masa depan untuk menghasilkan embrio sehat melalui inseminasi buatan maupun fertilisasi in vitro atau IVF.
Proyek tersebut bertujuan menyimpan sebanyak mungkin variasi genetik dari koala yang masih hidup saat ini. Dengan demikian, program konservasi di masa depan dapat menggunakan kembali materi tersebut apabila populasi liar mengalami penurunan drastis atau kehilangan keragaman genetik.
Andres Gambini, ahli biologi reproduksi dari University of Queensland yang terlibat dalam proyek tersebut, menjelaskan bahwa berkurangnya keragaman genetik dapat melemahkan generasi berikutnya dan menurunkan kemampuan spesies dalam menghadapi perubahan lingkungan, penyakit, serta berbagai tekanan lainnya.
Menurut Gambini, proyek tersebut akan menciptakan sistem yang aman dan terorganisasi untuk menyelamatkan serta menyimpan sperma dan sel telur koala. Cadangan tersebut kemudian dapat mendukung berbagai program konservasi pada masa mendatang.
Australia saat ini menghadapi situasi yang cukup paradoks. Di beberapa wilayah Queensland dan New South Wales, populasi koala telah menurun hingga sekitar 80 persen sejak akhir 1990-an.
Penurunan tersebut dipicu oleh deforestasi, kebakaran hutan, kekeringan, dan penyakit. Kondisi yang semakin memburuk mendorong pemerintah Australia mengubah status konservasi koala di wilayah timur dari “rentan” menjadi “terancam punah” pada 2022.
Namun demikian, situasi berbeda ditemukan di beberapa wilayah Australia bagian selatan. Di kawasan tersebut, jumlah koala justru terlalu banyak.
Populasi yang terlalu padat dapat menciptakan masalah baru karena koala memakan daun secara berlebihan. Tekanan tersebut dapat merusak bahkan membunuh pohon-pohon yang menjadi sumber makanan utama, sehingga kawasan yang sekarang mampu menopang banyak koala mungkin tidak lagi sanggup melakukannya dalam jangka panjang.
Untuk melindungi spesies dari risiko penurunan lebih lanjut, para peneliti akan menyimpan sel reproduksi koala dalam nitrogen cair. Bahan tersebut memiliki titik didih sekitar minus 196 derajat Celsius dan mampu mempertahankan sel dalam kondisi beku selama puluhan tahun.
Metode penyimpanan tersebut dikenal sebagai kriopreservasi. Sel yang dibekukan dapat disimpan sampai dibutuhkan dalam program reproduksi berbantu atau penelitian konservasi.
Vincent Lynch, ahli biologi perkembangan evolusi dari University at Buffalo yang tidak terlibat dalam proyek, menjelaskan bahwa sel yang disimpan dalam nitrogen cair selama beberapa dekade masih dapat diaktifkan kembali. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kriopreservasi dapat menjadi solusi jangka panjang yang realistis.
Sperma dan sel telur akan diperoleh melalui kerja sama dengan rumah sakit satwa liar. Fasilitas tersebut akan mengambil sel reproduksi dari koala yang mati atau dari individu yang tidak lagi dapat berkembang biak karena penyakit maupun trauma.
Menurut Gambini, banyak koala setiap tahun dibawa ke rumah sakit satwa liar akibat cedera atau penyakit. Sebagian dari hewan tersebut tidak dapat diselamatkan, tetapi materi reproduksinya masih berpotensi memberikan kontribusi penting bagi kelangsungan spesies.
Setelah dikumpulkan, sampel akan diuji untuk mendeteksi keberadaan Chlamydia pecorum. Bakteri tersebut merupakan penyebab salah satu penyakit paling berbahaya bagi koala.
Infeksi C. pecorum dapat menyebabkan gangguan saluran kemih yang menyakitkan, masalah pencernaan, konjungtivitis, dan kebutaan. Pada koala betina, infeksi juga dapat menyebabkan infertilitas.
Klamidia menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi koala dalam beberapa tahun terakhir. Ketidaksuburan akibat infeksi telah mengurangi jumlah anak koala yang lahir secara signifikan.
Pada sejumlah populasi yang paling terdampak di Queensland dan New South Wales, hampir 90 persen koala diperkirakan terinfeksi klamidia. Tingkat infeksi yang sangat tinggi membuat pengendalian penyakit menjadi bagian penting dari setiap program konservasi reproduksi.
Steve Johnston, ahli reproduksi hewan dari University of Queensland yang terlibat dalam proyek, menjelaskan bahwa teknologi saat ini memungkinkan peneliti menghilangkan infeksi C. pecorum dari sampel sel reproduksi sebelum digunakan atau disimpan.
Pengalaman tim dalam reproduksi berbantu juga telah berkembang selama beberapa dekade. Pada 1998, Johnston menjadi bagian dari kelompok peneliti University of Queensland yang menghasilkan anak koala pertama di dunia melalui inseminasi buatan.
Proyek terbaru juga dibangun dari penelitian lain yang dipimpin Gambini pada 2025. Studi tersebut berhasil menghasilkan embrio kanguru melalui IVF untuk pertama kalinya.
Embrio kanguru tersebut belum menghasilkan kelahiran hidup. Pada saat itu, para ilmuwan memperkirakan bahwa pengembangan teknologi hingga tahap kelahiran masih memerlukan waktu sekitar satu dekade.
Belum diketahui secara pasti berapa banyak sel telur dan sperma koala yang akan dibekukan. Para peneliti juga masih menghadapi kesulitan dalam menentukan jumlah sampel yang dibutuhkan untuk mempertahankan populasi yang sehat dan beragam secara genetik.
Menurut Lynch, kebutuhan sampel kemungkinan akan meningkat seiring waktu. Ketika populasi terus menyusut, kehilangan materi genetik berlangsung semakin cepat.
Keadaan tersebut berarti tim harus mengumpulkan lebih banyak sampel untuk memperoleh tingkat keragaman yang sama. Semakin lama proses penyelamatan ditunda, semakin sulit pula mendapatkan variasi genetik yang telah hilang dari populasi liar.
Proyek kriopreservasi tidak dimaksudkan untuk menggantikan metode konservasi tradisional. Perlindungan habitat, pengendalian penyakit, pemantauan populasi, dan pengelolaan lingkungan tetap menjadi bagian utama dalam menjaga kelangsungan hidup koala.
Gambini menegaskan bahwa para peneliti tidak dapat menunggu sampai populasi menjadi semakin kecil dan keragaman genetik semakin sulit dipulihkan. Penyimpanan materi reproduksi perlu dilakukan ketika sebanyak mungkin variasi genetik masih tersedia.
Lynch menilai kriopreservasi memberikan peluang nyata untuk membantu menyelamatkan koala, meskipun keberhasilannya tetap bergantung pada pendekatan konservasi yang dilakukan dari berbagai arah.
Menurut Lynch, perlindungan lingkungan melalui metode konservasi tradisional tetap sangat penting. Program pelepasliaran tidak akan berhasil apabila spesies yang diselamatkan tidak lagi memiliki habitat yang layak untuk ditinggali.
Pembekuan sel telur dan sperma koala menawarkan bentuk perlindungan tambahan terhadap ancaman kepunahan dengan menyimpan keragaman genetik yang mungkin dibutuhkan pada masa depan. Teknologi tersebut dapat mendukung inseminasi buatan dan IVF, terutama ketika populasi liar kehilangan kemampuan berkembang biak atau mengalami penurunan genetik. Namun, keberhasilan program tetap harus berjalan bersama perlindungan habitat, pengendalian klamidia, dan pemantauan populasi agar koala tidak hanya dapat dikembangbiakkan kembali, tetapi juga memiliki tempat yang aman untuk bertahan hidup.
Diolah dari artikel:
“Scientists are deep-freezing koala eggs and sperm to protect the species from extinction” oleh Sascha Pare. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.