Sumber ilustrasi: Unsplash
24 Juli 2026 15.30 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.07.2026] Unta dikenal sebagai salah satu hewan yang paling mampu bertahan di lingkungan panas dan kering. Kemampuan menyimpan air, mengurangi kehilangan cairan, serta menyesuaikan suhu tubuh membuatnya menjadi simbol ketahanan hidup di gurun.
Akan tetapi, dengan peningkatan suhu yang semakin ekstrem di Afrika, kemampuai kemampuan adaptasi tersebut mulai terlampaui. Di sejumlah wilayah, unta mengalami stres panas, penyakit, penurunan produksi susu, gangguan reproduksi, bahkan kematian.
Wilayah Afar di timur laut Ethiopia menjadi salah satu contoh paling jelas. Kawasan tersebut merupakan salah satu tempat terpanas dan terkering di Bumi, tempat para penggembala nomaden masih menggunakan karavan unta untuk membawa garam melintasi gurun.
Ali Umer, penggembala unta dari Semera, Afar, melihat langsung perubahan tersebut pada kawanan miliknya. Umer memiliki sekitar 500 ekor unta dan menyaksikan semakin banyak hewan menunjukkan tanda-tanda penderitaan akibat panas.
Menurut Umer, kaki unta mulai dipenuhi lepuh, mata menjadi berair, sedangkan pasir panas membakar kulit dan merusak bulu ketika hewan duduk di tanah.
Dalam satu bulan, delapan anak unta milik Umer mati akibat panas ekstrem. Umer menilai suhu kini jauh lebih intens dan semakin sulit dihadapi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Perubahan juga terlihat pada angin gurun. Umer menjelaskan bahwa angin yang dahulu membawa udara lebih sejuk kini justru membawa panas.
Pengamatan serupa ditemukan dalam berbagai penelitian. Para ilmuwan, dokter hewan, dan pekerja kesejahteraan hewan melaporkan meningkatnya stres, kelelahan, dehidrasi, serta penyakit pada unta akibat suhu ekstrem.
Dampak tidak langsung juga semakin besar. Panas berkepanjangan mengurangi ketersediaan air, menghancurkan vegetasi, dan mempersempit kawasan teduh yang dibutuhkan hewan.
Afrika Utara dan Tanduk Afrika merupakan habitat sekitar 80 persen populasi unta dromedari dunia. Jenis unta dengan satu punuk tersebut menjadi penopang utama kehidupan banyak masyarakat pastoral.
Selama bertahun-tahun, petani dan peternak di wilayah tersebut beralih dari sapi menuju unta karena hewan ini dinilai lebih tahan terhadap kekeringan dan suhu tinggi.
Penelitian terhadap para penggembala unta di Ethiopia selatan yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan bahwa suhu tinggi dan ketidakstabilan iklim telah merusak kesehatan kawanan.
Para responden dalam penelitian tersebut melaporkan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi kesehatan, produktivitas, dan kemampuan reproduksi unta.
Situasi di Somalia terlihat lebih parah. Penelitian yang dipublikasikan pada Juni menunjukkan bahwa kematian unta akibat kekeringan telah menjadi krisis luas yang memengaruhi hampir 46 persen rumah tangga pemilik unta.
Penelitian tersebut mencakup hampir 6.000 rumah tangga pastoral. Tingkat kematian tertinggi ditemukan di wilayah utara.
Sool mencatat angka yang paling mengkhawatirkan, dengan tingkat kematian unta hampir mencapai 73 persen.
Para ahli menilai panas ekstrem sebagai pendorong utama kekeringan di wilayah tersebut. Kekurangan pelayanan veteriner dan pengelolaan ternak yang tidak memadai turut memperparah dampaknya.
Analisis para ilmuwan atmosfer menunjukkan bahwa suhu tinggi berperan besar dalam kekeringan 2021–2022. Panas mempercepat penguapan air dari tanah, danau, dan sumber air lainnya.
Tumbuhan juga kehilangan lebih banyak air melalui proses penguapan. Kondisi tersebut membuat vegetasi cepat mengering dan mengurangi pakan bagi ternak.
Dokter hewan di berbagai wilayah kini menangani lebih banyak unta sakit. Kematian akibat panas dan kekeringan juga meningkat.
Hassan Nuya Guyo, petugas veteriner di Marsabit County, Kenya bagian timur laut, melaporkan peningkatan kasus hipertermia pada unta.
Menurut Guyo, hipertermia membuat unta lebih rentan terhadap berbagai infeksi. Dalam dua tahun terakhir, kematian unta akibat panas ekstrem di wilayah tersebut meningkat lebih dari 15 persen.
Penelitian lain di Tanduk Afrika menemukan bahwa stres panas berkaitan dengan meningkatnya penyakit dan menurunnya produksi susu.
Pola serupa muncul di Afrika Utara. Penelitian di Aljazair menunjukkan kenaikan signifikan kematian unta selama gelombang panas musim panas.
Analisis musiman dalam penelitian tersebut memperlihatkan bahwa puncak musim panas merupakan periode paling berisiko.
Para peneliti merekomendasikan penyediaan air secara strategis, pemberian pakan tambahan, dan peningkatan pemantauan penyakit untuk menekan angka kematian.
World Meteorological Organization atau WMO melaporkan bahwa gelombang panas telah menjadi fenomena umum di sejumlah negara Afrika Utara.
Sejak 1981, intensitas dan frekuensi gelombang panas menunjukkan tren peningkatan yang jelas.
Pada 2024, sejumlah negara di Afrika Utara dan Timur Tengah mencatat suhu di atas 50 derajat Celsius.
Laporan State of the Climate in Africa 2025 menyebut Afrika Utara sebagai subwilayah dengan tingkat pemanasan tercepat di benua tersebut.
Antara 1991 dan 2025, suhu di Afrika Utara meningkat sekitar 0,43 derajat Celsius per dekade.
Secara biologis, unta masih mampu menghadapi suhu sekitar 40 derajat Celsius. Tubuhnya dapat membiarkan suhu internal naik dan turun beberapa derajat sepanjang hari.
Mekanisme tersebut membantu unta mengurangi kebutuhan berkeringat sehingga kehilangan air dapat ditekan.
Urine yang sangat pekat dan kotoran yang kering juga membantu mempertahankan cairan tubuh.
Lapisan kulit dan bulu yang tebal melindungi tubuh dari radiasi Matahari.
Namun, sistem tersebut memiliki batas. Ketika suhu melampaui kisaran kenyamanan, unta tetap dapat mengalami stres panas.
Dr. Mohammed Bengoumi dari Food and Agriculture Organization atau FAO menjelaskan bahwa suhu musim panas di banyak wilayah Sahara kini sering melebihi 50 derajat Celsius.
Risiko stres panas menjadi semakin besar ketika suhu tinggi disertai berkurangnya vegetasi, kelangkaan air, dan sulitnya mendapatkan tempat teduh.
Profesor Abdelmadjid Chehma dari University of Ghardaia di Aljazair menemukan dampak langsung panas berkepanjangan terhadap sel tubuh unta.
Menurut Chehma, suhu siang dan malam di atas 41 hingga 45 derajat Celsius dapat merusak sel secara langsung.
Sistem kekebalan tubuh turut melemah karena sel darah putih mengalami kerusakan akibat stres panas.
Sel-sel yang rusak kesulitan memperbaiki diri dan pada akhirnya dapat menghancurkan dirinya sendiri.
Ketika stres panas berlangsung, metabolisme unta melambat untuk mengurangi produksi panas dari dalam tubuh.
Penurunan metabolisme kemudian mengurangi nafsu makan secara tajam.
Akibatnya, unta menjadi lesu dan mengalami kelelahan umum.
Produksi susu ikut menurun dan gangguan reproduksi semakin sering muncul.
Profesor Mohammed el Khasmi dari University of Casablanca mencatat berbagai gangguan lain yang berkaitan dengan stres panas.
Dampak tersebut mencakup penurunan berat badan, peradangan, penyakit otot dan tulang, gangguan kimia tubuh akibat kerusakan ginjal, serta infeksi parasit.
Panas ekstrem menjadi faktor utama, tetapi dampaknya membesar ketika digabungkan dengan hilangnya air, vegetasi, tempat teduh, dan layanan veteriner.
Kondisi tersebut mendorong banyak penggembala di Ethiopia memindahkan unta dari wilayah utara menuju selatan.
Wilayah selatan masih memiliki ketersediaan air dan vegetasi yang relatif lebih baik.
Daniel Gelan dari Vision University menegaskan bahwa perpindahan tersebut bukan lagi migrasi musiman.
Menurut Gelan, para penggembala meninggalkan wilayah utara secara permanen karena pemeliharaan unta tidak lagi dapat dipertahankan di tengah panas dan kekeringan.
Tanduk Afrika sebenarnya masih berusaha pulih dari kekeringan terpanjang dan terparah yang tercatat antara 2020 dan 2023.
Oxfam melaporkan bahwa wilayah tersebut kini kembali menghadapi kondisi kering yang berat.
Di beberapa bagian Somalia, harga air meningkat lebih dari 2.000 persen akibat kekeringan.
Bagi penggembala seperti Umer, ancaman berikutnya adalah wabah penyakit yang dapat membunuh unta dewasa.
Kekhawatiran tersebut dinilai beralasan oleh Chehma karena stres panas yang berkepanjangan melemahkan fungsi vital dan kekebalan tubuh.
Unta tetap menjadi salah satu hewan ternak paling tahan terhadap lingkungan gurun, tetapi gelombang panas Afrika yang semakin intens mulai melampaui batas biologisnya. Suhu di atas 40 hingga 50 derajat Celsius, kekeringan panjang, hilangnya vegetasi, kelangkaan air, kurangnya tempat teduh, dan terbatasnya layanan veteriner telah meningkatkan penyakit, menurunkan produksi susu, mengganggu reproduksi, dan menyebabkan kematian massal di Ethiopia, Somalia, Kenya, serta Afrika Utara. Kondisi tersebut juga mendorong perpindahan permanen para penggembala dan mengancam kehidupan masyarakat pastoral yang selama ini bergantung pada unta sebagai pertahanan terakhir menghadapi gurun.
Diolah dari artikel:
“Even camels can’t cope: Africa’s ships of the desert hit by rising temperatures” oleh BBC. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.