Kabut Ternyata Menjadi Rumah bagi Mikroba Pembersih Udara?

Sumber ilustrasi: Pixabay
6 Agustus 2026 11.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [06.08.2026] Kabut selama ini lebih dikenal sebagai fenomena cuaca yang mengurangi jarak pandang dan membawa kelembapan ke suatu wilayah. Di balik tampilan yang sederhana, kabut ternyata menyimpan kehidupan mikroskopis yang belum banyak dipahami. Para ilmuwan mengetahui bahwa mikroba dapat terbawa oleh udara. Akan tetapi lingkungan atmosfer dianggap sebagai tempat yang keras bagi kelangsungan hidup mikroorganisme karena perubahan suhu yang ekstrem serta risiko kekeringan yang tinggi.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda. Tim peneliti menemukan bahwa kabut bukan sekadar media transportasi bagi mikroba, melainkan juga dapat menjadi habitat sementara yang memungkinkan bakteri hidup, tumbuh, bahkan berkembang biak. Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa sebagian bakteri penghuni kabut mampu menguraikan formaldehida, salah satu polutan udara beracun yang berasal dari proses alami maupun aktivitas manusia.

Kathleen Weathers, ilmuwan kabut dari Cary Institute of Ecosystem Studies yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa kabut menyediakan berbagai kebutuhan penting bagi mikroba, seperti kelembapan, nutrisi, dan suhu yang relatif nyaman. Menurutnya, sebelum penelitian ini dilakukan, para ilmuwan belum mengetahui bahwa mikroorganisme benar-benar mampu hidup dan berkembang di dalam kabut.

Penelitian dipimpin oleh Thi Thuong Thuong Cao, seorang ahli kimia yang tertarik mempelajari kabut ketika sering melakukan pendakian di kawasan pegunungan berkabut. Pada awalnya Cao hanya ingin mengetahui komposisi kimia di dalam tetesan kabut. Penelitian tersebut kemudian berkembang setelah bekerja sama dengan sejumlah ilmuwan lain untuk menelusuri keberadaan mikroorganisme di dalam kabut serta aktivitas biologis yang mereka lakukan.

Tim peneliti memilih melakukan pengambilan sampel di Pennsylvania, Amerika Serikat, dengan memfokuskan penelitian pada radiation fog atau kabut radiasi. Jenis kabut ini terbentuk pada malam hari ketika permukaan tanah kehilangan panas sehingga suhu udara di dekat permukaan ikut menurun. Udara yang lebih dingin tidak lagi mampu menahan seluruh uap air yang dikandungnya sehingga uap tersebut mengembun menjadi tetesan kecil yang membentuk kabut.

Kabut radiasi memiliki karakteristik penting karena terbentuk langsung di lokasi, bukan berpindah dari wilayah lain. Kondisi tersebut memungkinkan para peneliti memastikan bahwa mikroba yang ditemukan berasal dari lingkungan setempat dan bukan terbawa angin dari daerah yang jauh.

Selama kurang lebih dua tahun, tim peneliti mengumpulkan air dari 32 peristiwa kabut menggunakan alat cloud-water collector. Perangkat tersebut bekerja dengan menarik udara ke dalam ruang berisi untaian tali sehingga tetesan kabut mengembun pada permukaan tali, kemudian menetes ke dalam botol penampung. Dalam setiap pengambilan sampel, peneliti memperoleh hingga sekitar 200 mililiter air kabut. Selain itu, mereka juga mengambil sampel udara sebelum, selama, dan setelah peristiwa kabut sebagai pembanding.

Analisis laboratorium menunjukkan bahwa air kabut mengandung populasi mikroba yang sangat padat, bahkan kepadatannya sebanding dengan yang ditemukan pada air laut maupun air danau. Ketika diamati menggunakan mikroskop, banyak mikroba tampak sedang membelah diri. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa mikroorganisme tidak sekadar terbawa oleh kabut, melainkan benar-benar tumbuh di dalam lingkungan tersebut.

Untuk mengetahui identitas mikroba tersebut, tim mengekstraksi RNA dari organisme yang ditemukan di dalam air kabut dan membandingkannya dengan basis data mikroba yang telah dikenal. Analisis memperlihatkan bahwa rata-rata terdapat sekitar 188 pola genetik unik pada setiap peristiwa kabut. Komunitas mikroba yang ditemukan relatif konsisten di seluruh sampel kabut, tetapi sangat berbeda dibandingkan komunitas mikroba yang berada di udara tanpa kabut.

Penelitian mengungkap bahwa Methylobacterium merupakan bakteri yang paling melimpah di dalam air kabut. Pada beberapa sampel, bakteri tersebut mencapai hampir setengah dari keseluruhan populasi mikroba yang ditemukan.

Keberadaan Methylobacterium mendorong peneliti mencari sumber makanan yang dimanfaatkan bakteri tersebut di dalam kabut. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri ini diketahui mampu menggunakan berbagai senyawa yang mengandung karbon, termasuk formaldehida.

Formaldehida merupakan salah satu polutan udara beracun yang umum ditemukan di atmosfer. Senyawa tersebut dapat berasal dari pembusukan tumbuhan, proses konstruksi bangunan, pembakaran bahan bakar fosil, hingga asap rokok. Paparan formaldehida dalam jumlah tinggi diketahui dapat membahayakan kesehatan manusia.

Menurut Cao, Methylobacterium memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menghadapi formaldehida. Bakteri tersebut mampu bertahan pada konsentrasi formaldehida yang lebih tinggi dibandingkan banyak bakteri lain serta menguraikan senyawa tersebut hingga ratusan kali lebih cepat.

Pengukuran terhadap sampel air kabut segar memperlihatkan bahwa kadar formaldehida menurun dengan cepat hanya dalam beberapa jam. Untuk memastikan penyebabnya, tim kemudian mengisolasi Methylobacterium dari air kabut dan membiakkannya secara terpisah di dalam air kabut buatan yang mengandung formaldehida.

Percobaan tersebut menunjukkan bahwa bakteri mampu menghilangkan formaldehida dengan sangat cepat. Laju penghilangan senyawa tersebut bahkan terlalu tinggi jika hanya digunakan sebagai sumber pertumbuhan. Peneliti memperkirakan bahwa Methylobacterium tidak hanya memanfaatkan formaldehida sebagai sumber makanan, tetapi juga menguraikannya agar kadar senyawa tersebut tidak mencapai tingkat yang berbahaya bagi dirinya sendiri.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa Methylobacterium berperan sebagai salah satu mikroorganisme yang membantu mengurangi formaldehida di dalam kabut. Walaupun dampaknya terhadap kualitas udara secara keseluruhan masih perlu diteliti lebih lanjut, penelitian ini membuka pandangan baru bahwa kabut dapat diperlakukan sebagai sebuah ekosistem yang aktif secara biologis.

Selain mengangkut air melintasi suatu wilayah, kabut juga diketahui membawa berbagai jenis mikroorganisme. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa selama proses tersebut berlangsung, komunitas mikroba yang hidup di dalam kabut kemungkinan turut memengaruhi komposisi kimia atmosfer melalui aktivitas biologisnya.

Temuan ini mengubah cara pandang terhadap kabut yang selama ini hanya dianggap sebagai fenomena meteorologi. Kehadiran mikroorganisme aktif di dalam tetesan air menunjukkan bahwa kabut merupakan lingkungan hidup sementara yang mampu mendukung proses biologis sekaligus berpotensi membantu mengurangi sebagian polutan udara melalui aktivitas bakteri seperti Methylobacterium. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi proses tersebut terhadap kualitas udara dan keseimbangan kimia lingkungan.

Diolah dari artikel:
“Fog — it’s alive! These low-lying clouds host microbes, some of which can remove toxic air pollutants” oleh Lily Burton, Science News. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/fog-alive-bacteria-air-pollution

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *